Oleh: Fahrurozi Adha
Buku adalah hal yang selalu kita jumpai terutama jika status kita adalah sebagai seorang pelajar. Biasanya, seseorang hanya menganggap bahwa buku hanyalah kumpulan kertas dijilid yang penuh dengan tulisan dan hanya untuk sekadar menambah wawasan. Namun pada hakikatnya, dahsyatnya kekuatan buku lebih dari itu. Dari banyaknya benda yang diciptakan manusia, buku adalah benda yang paling sunyi namun paling berkuasa, diam di rak namun dapat mengguncangkan dunia. ” خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ” yang artinya “Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku.” (Al-Mahfuzhat)
Kita semua, terutama yang pernah belajar di pesantren, pasti pernah mendengar kalimat mutiara tersebut. Tentu, karena buku merupakan teman yang tidak akan pernah mengkhianati. Ia menasihati tanpa menggurui, menemani tanpa menuntut balasan, bahkan memberikan manfaat berupa gagasan. Buku memiliki peran besar terhadap kemajuan dunia dan apa yang kita lihat sekarang ini. Tanpa adanya buku, kemajuan yang kita lihat pada zaman sekarang ini tentu tidak akan pernah ada, karena dengan adanya buku, seseorang bisa mempelajari apa yang diwariskan dari generasi sebelumnya, kemudian mengembangkannya dan menuliskannya agar generasi setelahnya bisa mengembangkannya menjadi lebih baik lagi.
Buku juga menjadikan seorang penulisnya seakan-akan hidup abadi. Seorang penulis boleh mati dimakan usia, namun namanya dan gagasannya akan terkenang bagi siapa saja yang membaca karya-karyanya. Buku membuat seorang pembaca seakan-akan menembus ruang dan waktu. Darinya, kita mengenal dunia, padahal belum pernah mengunjunginya; kita mengenal seseorang, padahal belum pernah sekalipun berjumpa dengannya.
Buku adalah sumber kekuatan ideologis dan intelektual. Ia bisa mengubah nasib seseorang, bahkan arah sejarah. Filsuf Inggris Francis Bacon berkata: “Knowledge is power.” Dan buku adalah bentuk paling konkret dari pengetahuan itu. Setiap revolusi besar, baik politik, ilmiah, maupun budaya, dimulai dari buku. Buku tidak menuntut untuk dipercaya, ia hanya membuka ruang berpikir. Namun justru dari sanalah kekuatannya; ia memengaruhi tanpa memaksa, menanamkan ide tanpa kekerasan.
Sejarah Kelam Pembakaran Buku-Buku
Karena dahsyatnya kekuatan buku-buku, terjadilah peristiwa bodoh sekaligus memalukan bagi sejarah bangsa Eropa, yaitu ketika Kerajaan Castilia pimpinan Ferdinand dan Isabella menghancurkan peradaban Islam di Spanyol dengan membakar lebih dari satu juta buku. Itu adalah jumlah yang sangat besar dan tidak dimiliki oleh dunia selain Islam pada saat itu (Raghib As-Sirjani, Qissatul Andalus).
Tahun 1499 Masehi, Granada sudah memperingati tujuh tahun musnahnya peradaban Islam di sana. Mereka melarang kaum muslimin salat, bahkan menyuruh kaum muslimin untuk mengganti nama mereka dengan nama Spanyol. Nah, yang jadi masalah utamanya, ketika gereja memerintahkan agar semua buku-buku yang ada di rumah kaum muslimin dan di perpustakaan dikumpulkan semuanya di tengah lapangan Granada Square. Di situ terlihat seorang kardinal bernama Ximenez de Cisneros memimpin aksi brutal itu.
Lalu apa yang ia lakukan?
Setelah terkumpul lebih dari 500 ribu buku, ia pun memerintahkan pengawalnya untuk melumuri buku-buku tersebut dengan minyak dan membakarnya. Seluruh Granada bisa melihat jilatan api yang besar itu. Sungguh, hal tersebut adalah peristiwa bodoh yang memundurkan ilmu pengetahuan ratusan tahun lamanya (Edgar Hamas, The Untold Islamic History, Jilid 1, hal. 226).
“Di waktu ketika perpustakaan terbesar di Eropa adalah Library of Saints Gallen dengan jumlah 600 buku,” dilansir dari laman Tarikhuna Al-Adzim, “di saat yang sama, Cordoba di bawah naungan Islam telah memiliki perpustakaan di banyak tempat dengan masing-masingnya memiliki 400 ribu buku.” Mereka melakukan pembakaran terhadap buku-buku karena mereka tidak ingin rakyat mereka menjadi pintar dan cerdas. Karena, jika rakyat mereka pandai, tentu mereka akan berani melawan raja-rajanya yang telah berbuat semena-mena kepada mereka. Untuk itulah buku-buku tersebut pun dibakar dan dibuang abunya ke sungai (The Untold Islamic History, Jilid 1, hal. 225).
Saking hebatnya kekuatan buku, seorang fisikawan Prancis yang bernama Pierre Curie (1859–1906) sampai mengatakan, “Saat ini kami memiliki 30 buku peninggalan peradaban Islam Andalusia. Dari buku-buku itu saja kami berhasil mengetahui bagaimana cara meneliti atom. Bagaimana jadinya jika kami memiliki 500 ribu buku yang dahulu dibakar oleh nenek moyang kami. Jika saja kami tidak membakarnya, hari ini pasti kami sudah berpergian keluar angkasa.” Jika saja nenek moyang bangsa Eropa tidak membakar buku-buku yang diwariskan oleh umat Islam, besar kemungkinan zaman sekarang ini akan lebih canggih dan modern. Bisa saja ilmu pengetahuan tentang AI modern sudah ditemukan ratusan tahun sebelumnya.
Hal ini pula lah yang membuat bangsa Eropa, terutama para bangsawan itu, sangat bodoh. Bahkan perbandingannya bisa kita saksikan dari apa yang akan dikatakan oleh seorang ilmuwan Prancis: “Kita sama sekali tidak mengambil untung ketika Eropa memenangkan pertempuran Poitiers melawan kaum muslimin. Berhentinya laju kaum muslimin menaklukkan Eropa adalah berhentinya penyebaran ilmu pengetahuan. Anak jalanan di Cordoba bisa membaca dan menulis, sementara raja-raja Eropa tidak tahu bagaimana cara menulis nama mereka sendiri.” (Gustave Le Bon, Ilmuwan Prancis, 1841–1931).
Editor: Rafidah Azis