Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Bumi Bukan Tempat Sampah: Saatnya Manusia Belajar Menjaga Amanah

AdminKS by AdminKS
Agustus 15, 2026
in Esai
0
Bumi Bukan Tempat Sampah: Saatnya Manusia Belajar Menjaga Amanah
10
SHARES
57
VIEWS

Oleh: Yashinta Fatirinnisa

Cuaca makin panas. Sungai penuh sampah. Hutan terus berkurang. Bahkan sekarang banjir dan longsor terasa seperti berita yang terlalu sering muncul di layar ponsel kita. Banyak orang menyalahkan alam, padahal kalau dipikir-pikir, bukankah manusialah yang paling sering merusaknya?

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Krisis lingkungan hari ini bukan cuma soal cuaca ekstrem atau perubahan iklim. Ini juga soal bagaimana manusia memperlakukan bumi dengan semaunya sendiri. Alam dieksploitasi tanpa batas, pohon ditebang demi keuntungan, laut dicemari limbah, dan sampah plastik dibuang tanpa rasa bersalah.

Ironisnya, manusia sering lupa bahwa bumi bukan warisan pribadi yang bisa dipakai sesuka hati. Dalam agama, bumi adalah amanah.

Dalam Islam, manusia disebut sebagai khalifah fil ardh, yaitu pemimpin atau penjaga bumi. Artinya, manusia punya tanggung jawab untuk merawat alam, bukan malah menghancurkannya. Allah bahkan melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)

Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar urusan sosial atau tren gaya hidup modern. Ini juga bagian dari nilai teologis dan bentuk ketaatan kepada Allah.

Sayangnya, banyak orang merasa isu lingkungan hanyalah urusan aktivis atau pemerintah. Padahal, kerusakan lingkungan sering dimulai dari kebiasaan kecil yang dianggap sepele. Membuang sampah sembarangan, memakai plastik berlebihan, boros air, atau menebang pohon tanpa memikirkan dampaknya.

Masalahnya bukan karena manusia tidak tahu, tetapi karena banyak yang tidak peduli.

Kita hidup di zaman ketika orang rela menjaga feed media sosial tetap estetik, tapi tidak peduli lingkungan sekitar penuh sampah. Banyak yang marah ketika kamarnya berantakan, tetapi santai saja saat sungai dipenuhi limbah. Padahal bumi ini bukan hanya tempat tinggal manusia hari ini, tetapi juga tempat hidup generasi berikutnya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini terasa sangat relevan dengan kondisi sekarang. Kerusakan alam bukan muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari ulah manusia sendiri. Ketika manusia serakah dan hanya memikirkan keuntungan sesaat, alam akhirnya menjadi korban.

Di sinilah pentingnya tanggung jawab moral manusia.

Agama mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk cara manusia memperlakukan lingkungan. Bahkan dalam Islam, tindakan sederhana seperti menanam pohon bisa menjadi amal kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa menjaga lingkungan memiliki nilai ibadah. Artinya, kepedulian terhadap alam bukan hanya memberi manfaat bagi manusia lain, tetapi juga menjadi pahala di sisi Allah.

Karena itu, agama sebenarnya punya peran besar dalam membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan. Sayangnya, pembahasan agama sering hanya fokus pada ibadah ritual, sementara kepedulian terhadap lingkungan kadang dianggap bukan bagian penting dari keimanan.

Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan kebersihan, larangan berlebihan, hingga adab terhadap makhluk hidup. Semua itu menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan keseimbangan kehidupan.

Kesadaran menjaga lingkungan juga bisa dimulai dari hal-hal kecil. Tidak harus langsung menjadi aktivis lingkungan atau ikut kampanye besar. Mulai saja dari diri sendiri:

1. Membuang sampah pada tempatnya,

2. Mengurangi penggunaan plastik,

3. Hemat air dan listrik,

4. Membawa tumbler sendiri,

5. Menanam pohon di sekitar rumah.

Hal kecil yang dilakukan terus-menerus jauh lebih berarti daripada sekadar membuat slogan peduli lingkungan di media sosial.

Selain itu, dakwah tentang lingkungan juga penting disampaikan dengan cara yang dekat dengan anak muda. Sebab generasi muda adalah pihak yang akan paling merasakan dampak kerusakan bumi di masa depan. Konten dakwah, kajian, sekolah, hingga komunitas bisa menjadi tempat membangun kesadaran bahwa menjaga bumi juga bagian dari ibadah.

Jangan sampai manusia sibuk mengejar kemajuan teknologi tetapi gagal menjaga tempat tinggalnya sendiri.

Allah sudah menciptakan bumi dengan keseimbangan yang sempurna. Namun ketika manusia melampaui batas, alam pun memberikan dampaknya. Banjir, polusi, krisis air bersih, dan cuaca ekstrem menjadi pengingat bahwa bumi memiliki batas kemampuan.

Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan. Bukan hanya untuk menyelamatkan alam, melainkan juga menyelamatkan manusia dari akibat perbuatannya sendiri.

Pada akhirnya, hubungan manusia dengan alam juga mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhannya. Orang yang benar-benar memahami nilai agama seharusnya sadar bahwa merusak bumi berarti mengkhianati amanah dari Allah.

Bumi bukan tempat sampah. Bumi adalah titipan.

Dan suatu hari nanti, manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana ia menjaganya.

Terkait

Tags: EkoteologiIndonesiaIslamLingkunganPeradaban
Previous Post

Harmoni Manusia dan Alam: Ekoteologi untuk Masa Depan Bumi

Next Post

Ekoteologi Islam dan Menjaga Keberlanjutan Lingkungan

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Ekoteologi Islam dan Menjaga Keberlanjutan Lingkungan

Ekoteologi Islam dan Menjaga Keberlanjutan Lingkungan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.