Oleh: Unaise Albunayya
Di ruang kelas, kita duduk rapi, mencatat, dan mengangguk seolah paham.
Namun ketika ditanya kembali, sering kali yang tersisa hanya ingatan jangka pendek, bukan pemahaman yang utuh.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari pola belajar yang telah lama terbentuk. Banyak mahasiswa hari ini belajar bukan untuk memahami, tetapi untuk mencapai hasil tertentu: nilai. Dalam kajian psikologi pendidikan, hal ini dikenal sebagai performance oriented learning, yaitu orientasi belajar yang berfokus pada hasil akhir dibandingkan proses pemahaman (Dweck, 2006: 17).
Akibatnya, proses belajar menjadi siklus yang berulang:
belajar, ujian, dan akhhirnya lupa.
Pengetahuan hanya bertahan sementara, cukup untuk melewati ujian, tetapi tidak cukup untuk digunakan dalam kehidupan nyata. Hal ini diperkuat oleh penelitian tentang surface learning yang menunjukkan bahwa pembelajaran yang berorientasi hafalan cenderung menghasilkan pemahaman yang dangkal (Biggs & Tang, 2011: 64).
Fenomena ini juga terlihat jelas di dalam kelas.
Ruang yang seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran justru sering terasa sunyi. Dosen berbicara, mahasiswa mencatat tanpa pertanyaan, tanpa sanggahan.
Padahal, diskusi merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran. Menurut Paulo Freire, pendidikan seharusnya bersifat dialogis, di mana peserta didik tidak hanya menerima, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam membangun pengetahuan (Freire, 1970: 72).
Namun realitasnya berbeda. Banyak mahasiswa memilih diam.
Bukan karena tidak memiliki pendapat, tetapi karena berbagai alasan: takut salah, takut dihakimi, atau bahkan tidak cukup memahami materi untuk bisa bertanya.
Di sinilah lingkaran itu terbentuk.
Ketika belajar hanya untuk nilai, fokus utama adalah apa yang akan keluar di ujian, bukan apa yang perlu dipahami. Akibatnya, mahasiswa tidak memiliki dasar yang cukup kuat untuk berpikir kritis. Hal ini membuat mereka cenderung pasif dalam diskusi, karena merasa tidak siap atau tidak percaya diri.
Lebih jauh, tekanan akademik juga berperan dalam membentuk pola ini. Tuntutan untuk mendapatkan nilai tinggi sering kali membuat mahasiswa lebih memilih strategi belajar cepat dibanding pemahaman mendalam. Dalam penelitian tentang motivasi belajar, orientasi eksternal seperti nilai dapat mengurangi minat intrinsik terhadap pembelajaran itu sendiri (Ryan & Deci, 2000: 56).
Namun, apakah sepenuhnya kesalahan sistem?
Sistem pendidikan memang memiliki kontribusi besar. Penilaian berbasis angka menjadi indikator utama keberhasilan akademik. Kurikulum yang padat dan keterbatasan waktu membuat proses pembelajaran lebih terfokus pada penyampaian materi daripada pendalaman.
Namun, menyalahkan sistem sepenuhnya juga terlalu sederhana.
Sebagai mahasiswa, kita sering kali tanpa sadar memperkuat pola tersebut. Kita lebih fokus pada kisi-kisi ujian daripada konsep. Kita bertanya “ini masuk atau tidak?” alih-alih “ini sebenarnya apa maksudnya?”. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membentuk pola pikir yang sempit terhadap pembelajaran.
Padahal, tujuan pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan lulusan dengan nilai tinggi, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis, memahami masalah, dan menemukan solusi. Hal ini sejalan dengan pandangan John Dewey yang menekankan bahwa pendidikan adalah proses pembentukan pengalaman dan pemikiran, bukan sekadar transfer informasi (Dewey, 1938: 25).
Lebih dari itu, dunia di luar kampus tidak lagi menilai seseorang berdasarkan angka semata. Kemampuan memahami, menganalisis, dan beradaptasi menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar nilai akademik. Penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah memiliki peran signifikan dalam kesiapan kerja lulusan (World Economic Forum, 2020: 36).
Dengan demikian, nilai bukanlah sesuatu yang harus diabaikan, tetapi juga tidak seharusnya menjadi tujuan utama. Nilai hanyalah alat ukur, bukan esensi dari proses belajar itu sendiri.
Maka, perubahan perlu dimulai dari cara kita memandang belajar.
Belajar bukan tentang seberapa banyak materi yang dapat dihafal dalam waktu singkat, tetapi seberapa dalam sesuatu dapat dipahami dalam jangka panjang. Belajar juga bukan tentang menghindari kesalahan, melainkan berani menghadapi ketidaktahuan sebagai bagian dari proses.
Dan mungkin, perubahan itu bisa dimulai dari hal sederhana:
berani bertanya, berani salah, dan berani mengakui bahwa kita belum memahami sesuatu.
Karena kelas bukan tempat untuk terlihat pintar,
melainkan tempat untuk belajar memahami.
Pada akhirnya, nilai mungkin dapat membuka pintu.
Namun hanya pemahaman yang dapat membuat seseorang tetap bertahan di dalamnya.
Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir