Basis Profetik Sebagai Etos Transformasi Sosial

Oleh: Rifqi Bagus Priyono

Dampak dari digitalisasi, moderenitas dan pesatnya keilmuan benar-benar mengeringkan aspek spiritual manusia. Progresnya peradaban, terutama dalam bidang sains, digital maupun pada bidang keilmuan lainnya sangatlah masif.

Hal tersebut sangatlah baik dalam kaitannya perananan manusia sebagai khalifah. Yang jelas salah satu tugasnya ialah merumuskan sekaligus mengawal kemajuan pada seluruh alam raya ini.

Di lain sisi tidak bisa dinafikkan adanya kecacatan akan kemajuan tersebut yang seharusnya kemajuan diharapkan membawa dampak perbaikan kemaslahatan umat. Yang terjadi justru munculnya masalah-masalah primer kemanusiaan, polarisasi struktural maupun sosio-kultural, rasisme, bahkan diskiminasi dalam segala sektor.

Tanpa menafikkan maslahat dari moderenitas, melalui ilmu dan peradaban moderen, terciptalah mesin-mesin perang terhadap alam. Berupa tekonologi untuk menaklukkan dan mengeksploitasi alam tanpa batas.

Juga mesin-mesin perang terhadap manusia seperti senjata pemusnah masal dan sebagainya. Inilah satu tragedi kemanusiaan yang tidak ada duanya dalam periode sejarah. Suatu sejarah kehancuran kemanusiaan yang terjadi setelah manusia berhasil “membunuh” Tuhan.

Problem Keumatan

Kelemahan dari praktik moderenisasi sebelumnya karna secara ontologis hanya memusatkan diri pada nilai-nilai rasional. Sehingga konstruksi kemajuan maupun pengetahuan yang dihasilkan hanya berujung pada pertentangan paradigma satu dengan yang lain. Akibatnya ialah kekuatan intelektual tidak berbanding lurus dengan kedewasaan perilaku (moralitas) terlebih nilai sepiritualitas.

Dengan demikian, perlu adanya jalan alternatif yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan manusia, moderenisasi yang benar-benar bermanfaat pada seluruh makhluk (rahmatan lil alamin), lebih jauh serat akan nilai sepiritual dan moralitas.

Manusia adalah makhluk rasional. Dengan rasionaltias itu pula manusia memiliki daya untuk memilih. Serta dengannya pula manusia dapat menentukan peran-peran hidup yang akan dilakoninya.

Teori “Sosial Profetik” (Humanisasi, liberasi, dan transendensi) Kuntowijoyo, menurut hemat penulis sangatlah selaras dengan harapan makhluk tanpa terkecuali. Ketiganya adalah unsur dari struktur yang mempunyai satu visi besar. Struktur tersebut populer disebut “Sosial Profetik” di mana penggagasnya ialah ilmuan muslim Indonesia, yaitu Prof. Dr. Kuntowijoyo.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (Al-Imran: 110).

Berangkat dari ayat tersebut, setidaknya menjadi dasar gerak teori Sosial Profetiknya. Kuntowijoyo lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta pada 18 September 1943. Ia kulah di Universitas Gadjah Mada dan lulus menjadi sarjana sejarah pada tahun 1969. Gelar MA diperolehnya dari Universitas Connecticut, Amerika Serikat pada tahun 1974. Kemudian disusul dengan gelar Ph.D Ilmu Sejarah dari Universitas Columbia pada tahun 1980.

Teori Sosial Profetik

“Sosial Profetik” Kuntowijoyo, ada tiga poin esensial dalam kaitannya dengan tema “Sosial Profetik”. Pertama, Humanisasi (prikemanusiaan) ialah sebuah diskursus kemanusiaan yang memposisikan manusia sebagai makhluk ideal di antara sekian ciptaan makhluk Tuhan di muka bumi.

Hal ini tidak dapat dipisahkan dengan cara pandangnya pada sosok figur Nabi Muhammad SAW, dimana dalam Isra Miraj, nabi telah menemukan pusat kehidupan yang hakiki.

Di mana dalam ajaran mistik tasawuf sufi hal itu ialah puncaknya pencapaian tertinggi perjalanan sepiritual mereka (bertemu dengan Tuhan). Dengan kearifan budinya Nabi memilih kembali ke bumi guna melanjutkan tugas kemanusiaannya (khalifah). Menebar manfaat pada seluruh alam (rahmatan lil alamin).

Ia mengesampingkan ego sektoralnya untuk bermesra-mesraan dengan Pencipta alam raya. Kritik mendasar Kuntowijoyo terhadap gagasan humanisme antroposentris (modern) ialah diabaikannya sisi spiritual dari diri manusia.

Sementara pemenuhan dimensi tersebut adalah hal yang dalam Islam dipandang sebagai penjamin kelangsungan kebahagiaan hakiki bagi manusia itu sendiri. Moderenisasi yang dicanangkan maupun yang direalisasikan jauh dari nilai-nilai esensial kemanusiaan.

***

Kedua, Liberasi (pembebasan) Kuntowijoyo memposisikan agama sebagai fondasi utama bagi pembebasan manusia. Melalui konsep liberasi yang diterjemahkan secara kreatif dari kalimat tanhauna ‘anil munkar yang makna dasarnya ialah mencegah kemungkaran.

Kuntowijoyo mengusung satu diskursus sosial yang mensyaratkan bagi manusia untuk pro aktif dalam menolak dan menentang kebatilan, kemungkaran, dan ketidakadilan. Dalam konteks keindonesiaan misalnya, kemungkaran dapat dilihat dalam berbagai praktik, misalnya: praktek korupsi, kolusi, nepotisme dan sebagainya.

Ketiga, Transendensi, transendensi dalam teori Ilmu Sosial Profetik dimaksudkan untuk menjadikan nilai-nilai transenden (keimanan) sebagai bagian penting basic value dari proses pembangunan peradaban dalam sektor apapun.

Oleh Kuntowijoyo dari penggalan ayat tu’minuna billah, yang berarti beriman kepada Allah. Transendensi dalam teori Ilmu Sosial Profetik dimaksudkan untuk menjadikan nilai-nilai transenden (keimanan) sebagai bagian penting dari proses pembangunan peradaban.

Etos Peradaban

Basis ”Sosial Profetik” dijadikan sebagai etos dasar peradaban yang kemudian mampu memberi warna perjalanan perdaban itu sendiri. Penggugah optimisme umat, spiritual value, lebih jauh menjadi rekonstruksi orientasi peradaban (moderenitas) itu sendiri. Kehadirannya menggandeng harapan akan transformasi sosial, membangkitkan optimisme akan kebangkitan Islam sebagai ruh bagi pergolakan intelektual sosial keindonesiaan.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia (manusia yang bermanfaat bagi makhluk lainnya), menyeru kepada yang ma’ruf, (amal shaleh, hablum munannas “Humanisasi”) dan mencegah dari yang munkar, (mencegah dan menolak kejahatan dalam bentuk apapun “Liberasi”) dan beriman kepada Allah” (kemudian menjadikan nama Allah sebagai etos geraknya dalam sektor apapun ”Transendensi”). (Al-Imran: 110).

Sumber Ilustrasi: www.insuriponorogo.ac.id

What's your reaction?
6So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment