‘Amul Huzni berarti tahun kesedihan. Secara berturut-turut Indonesia kehilangan 2 musisi hebat nan berbakat. Pertama, Glenn Fredly. Glenn meninggal dunia pada Rabu, 8 April 2020 pukul 18.00 WIB di Rumah Sakit Setia Mitra, Fatmawati, Jakarta Selatan pada usia 44 tahun. Glenn Fredly mengawali kariernya di dunia musik profesional sebagai vokalis band Funk Section tahun 1990-an. Dari sini ia menunjukkan bakat menyanyi yang luar biasa dan diakui sebagai salah satu pencipta lagu paling romantis di Indonesia. Tak hanya memiliki ciri khas suara, Glenn mampu membuat lagu dengan apik. Kiprahnya sebagai penyanyi dan penulis lagu mulai diperhitungkan sejak album kedua “Kembali” di mana terdapat lagu “Kasih Putih”.
Kedua, Didi Kempot atau Dionisius Prasetyo. Didi Kempot meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 5 Mei 2020 pada umur 53 tahun. Publik mengenal Didi Kempot sebagai maestro campursari dan penulis lagu yang populer. Ia memulai karirnya sebagai musisi jalanan di kota Surakarta sejak tahun 1984 hingga 1986, kemudian mengadu nasib ke Jakarta pada tahun 1987 hingga 1989. Nama panggung Didi Kempot merupakan singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar, grup musik asal Surakarta yang membawa ia hijrah ke Jakarta.
Masyarakat indonesia sepakat, bahwa Sang Maestro campursari ini merupakan musisi hebat yang pernah dimiliki oleh bangsa Inodnesia. Terbukti dengan beberapa pengahrgaan yang telah diraih, diantaranya: Artis Solo Pria/Wanita Terbaik (2001), Penyanyi Terbaik (2001), Artis Solo/Duo/Group/Kolaborasi Terbaik (2002), Album Terbaik (2002), Lagu Dangdut Etnik Terbaik (2002), Karya Produksi Tradisional Terbaik (2003), Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah Terbaik (2010 dan 2011), dan yang ternayar mendapat Penghargaan Khusus Maestro Campursari (2019).
Kehilangan Kultur
Hampir sebagian lagu yang ditulisnya bertemakan patah hati dan kehilangan. Alasan sengaja memilih tema tersebut karena rata-rata orang pernah mengalaminya dan ingin dekat dengan masyarakat, juga menjadi alasan Didi Kempot menggunakan nama-nama tempat sebagai judul atau lirik lagunya. Saking banyaknya lirik yang diciptakan seputar patah hati, Didi Kempot memiliki julukan lain dari para penggemarnya (sadboys dan sadgirls) sebagi “The Godfather of Broken Heart”.
baca juga Psikososial Lagu-Lagu Didi Kempot
Menurut Gofar Hilam saat telewicara yang dilakukan oleh salah satu TV Nasional setelah kabar duka Didi Kempot meninggal dunia. Dia mengatakan bahwa dengan meninggalnya sang Maestro campursari, dia merasa masyarakat telah kehilangan kultur. Kultur kebudayaan daerah (Jawa) berupa rasa nriman (menerima) pada diri yang menyatu pada lagu-lagu Sang Maestro.
Legacy
Meski ekspresi kesedihan dalam lagu-lagu Didi Kempot bukanlah pengalaman otentik sebagai individu, melainkan sebuah hiburan (entertainment) dan dibuat untuk memenuhi selera rakyat (audience). Meski demikian, pengalaman dan ekpresi kesedihan yang diangkat tetap mengacu pada pengalaman dan ekspresi kesedihan dalam kehidupan sosial. Sehingga itu yang menajdikan lagu-lagu Didi Kempot terasa dekat. Kandungan sifat-sifat maskulinitas pada lirik-lirik yang diciptakan seperti sifat tegar, kuat, dan percaya diri meski kenyataan yang dalami kesedihan (ambyar) akibat patah hati. Mari mareyakan dengan di-joget-i patah hati itu, begitulah pesan yang sering diucapkan oleh Didi Kempot sebelum menyanyikan lagu-lagu sedihnya.
Mengenai lagu yang telah dibuatnya, Didi Kempot tidak menolak jika lagu-lagunya di-cover oleh penyanyi lain selama penyanyi tersebut meminta izin padanya. Sebab, setiap karya yang dihasilkan oleh tiap musisi tentu saja memiliki hak cipta. Banyak musisi yang sudah tidak mengerti bagaimana menghargai hak cipta seseorang. Menggubah ulang karya seseorang dan dikomersilkan, seharusnya meminta izin.