Pada hari Minggu (31/5) Maarif Institute mengadakan Serial Diskusi Pemikiran memperingati ulang tahun Ahmad Syafii Maarif yang ke 85. Diskusi ini mengambil tema “Islam Berkemajuan Perspektif Ahmad Syafii Maarif”. Akhmad Sahal, seorang pengurus Pimpinan Cabang Istimewa NU Amerika, turut menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut.
Spirit Islam Berkemajuan
Akhmad Sahal mengatakan bahwa Islam berkemajuan adalah wacana yang membangkitkan kembali spirit pembaharuan Muhammadiyah. Pemaknaan terhadap tajdid berarti membangkitkan kembali spirit pembaharuan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Ia mengaku penasaran karena selama ini pembicaraan tentan Islam Berkemajuan selalu merujuk pada filsafat, ushul fiqh, atau hal-hal yang sifatnya metodologi keilmuan Islam. Sementara Buya Syafii, selain kapasitas beliau sebagai guru bangsa dengan integritas moral dan spiritual, juga adalah seorang sejarawan.
Sahal menyebut Buya berguru pada Fazlur Rahman sehingga banyak belajar mengenai Muhammad Iqbal, double movement, dan lain-lain. Tetapi buya tidak banyak membahas filsafat, ushul fiqh, atau metodologi keilmuan hukum Islam. Sehingga seperti apa Islam berkemajuan versi Buya ini menjadi menarik. Jika melihat pada pemikiran Amin Abdullah, ia sangat gencar membahas soal Islam berkemajuan, dan yang dibahas adalah soal peradaban. Intinya, Islam berkemajuan menurut Amin Abdullah berbasis pada tauhid yang membebaskan dan metodologi al-aqlu al-irja’i (akal prosedural) yang tidak klasik, tidak hanya Alquran, hadits, ijma‘, dan qiyas semata tetapi lebih luas pada soal maslahat dan maqasid syariah.
Akhmad Sahal menemukan satu tulisan Buya Syafii di Suara Muhammadiyah pada tahun 2018 berjudul Islam Berkemajuan. Tulisan itu menunjukkan obsesi Buya Syafii terhadap Islam berkemajuan. Intinya beliau menegaskan bahwa Islam berkemajuan itu sudah menjadi trade marknya Muhammadiyah sejak awal. Landasan berdirinya Muhammadiyah adalah Islam yang berkemajuan. Tetapi sekarang berkemajuan menjadi lebih penting karena dirasa ada kemunduran.
Buya Melawan Arabisme
Salah satu faktor kemunduran itu, menurut Buya adalah masih dibebaninya Islam dengan Arabisme. Buya sering sekali menyebut tentang Arabisme yang salah arah. Salah satu yang menjadi penyebab kemunduran umat Islam adalah ketika Arabisme ini mencengkeram Islam dan menghilangkan dimensi paling utama dari Islam yaitu egalitarianisme. Padahal, implikasi sosial dari tauhid adalah egaliter.
“Menurut Buya, hal itu rusak dan tergerus oleh Arabisme dalam bentuk munculnya imperium keislaman sejak Umayyah. Jadi, spirit Arabisme itu berhasil mencengkeram kuat ketika dinasti Islam membajak agenda keislaman dan menghilangkan dimensi egalitarianisme. Arabisme menjadi salah sejak masa Umayyah dan Abbasiyah karena mengandung kemewahan, kerakusan, dan kesombongan. Tiga hal itu yang membuat Islam menjadi terpuruk. Meskipun Buya tidak memungkiri pada masa Abbasiyah peradaban Islam sedang naik daun, dilihat dari sumbangsih ilmu pengetahuan yang luar biasa besar dari para ilmuwan Islam masa itu”, papar Sahal.
Sahal menyebut imperium Islam itulah yang bertanggungjawab terhadap Arabisme yang menggelayuti warna keislaman sampai sekarang. Buya melihat keterbelakangan karena beban Arabisme itu terlalu kuat. Dan karena itu harus didekonstruksi. Harus dikembalikan elan vital keislaman, spirit egaliter Islam, dan dilepaskan dari cengkeraman Arabisme.
Disinilah Sahal melihat bahwa spirit berkemajuan Buya lah yang mendasari pandangan-pandangan buya tentang keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan yang menjadi tiga pokok utama pemikiran buya. Karena ketika keislaman dilepaskan dari Arabisme, dan dikembalikan kepada egalitarianisme maka Islam akan dimaknai tidak dalam kerangka ashobiyah. Sehingga Buya dengan sangat ringan menerima kebangsaan. Karena menurut Buya, Indonesia dibangun di atas prinsip humanisme.
Baca juga: Risalah Cahaya Badiuzzaman Said Nursi
Maka buya juga tidak serta merta fanatik terhadap kebangsaan yang tidak humanis. Misalnya terhadap Israel. Karena kebangsaan adalah manifestasi dari kemanusiaan itu. Jadi dengan melepaskan Islam dari Arabisme, Islam menjadi kompatibel dengan kebangsaan dan kemanusiaan.
Buya Syafii dan Bung Karno
Menurut Akhmad Sahal, pandangan Buya ini mengingatkannya kepada pandangan keislaman Soekarno. Terutama Soekarno pada periode 1930 – 1940. Soekarno muda sangat menekankan dimensi progres dari Islam. Islam is progress. Dan Bung Karno mengkritik keras bagaimana taklidisme itu mengungkung umat Islam dan mewujud dalam pemahaman yang dogmatis. Pemahaman fiqh ada yang dogmatis dan ada yang kreatif konstruktif yang menekankan pentingnya penggalian metodologi misalnya fiqh sosial. Fiqh tidak niscaya dogmatis. Fiqh justru sangat memberikan kesempatan kepada pengembangan intelektual.
Sahal menyebut kejayaan masa lalu yang dianggap sebagai sesuatu yang sakral berupa khilafah inilah yang dikritik Bung Karno. Dan kritik ini sama dengan kritik Buya Syafii. Bung Karno mengatakan kalau kita mau meraih Islam, ambillah spiritnya, ambillah apinya, bukan dupanya, bukan asapnya, bukan abunya. Dengan cara itulah Buya Syafii mengatakan bahwa umat Islam akan kembali kepada ummatan wasatan.
Reporter: Yusuf R Y