Seperti biasanya, hari-hari mendekati bulan Ramadhan keadaan di dunia maya maupun nyata selalu ramai akan aroma-aroma untuk menyambut kedatangan bulan penuh keberkahan ini dengan maraknya lagu religi. Seperti di sosial media telah viral lagu Aisyah Istri Rasulullah, sampai saat tulisan ini ditulis lagu tersebut masih menjadi trending #1 dan #2 di youtube mengalahkan pembahasan virus corona, begitupun di Instagram ramai akan postingan lagu syahdu itu.
Dibalik lagu yang mengisahkan romantisnya kisah cinta Nabi dengan Aisyah yang kata warganet sepakat liriknya “bikin baper”, perlu diketahui lagu tersebut pertama kali dibawakan oleh Mr. Bie, seorang youtuber asal Malaysia sejak 2017 lalu. Dan kini dipopulerkan di Indonesia oleh Sabyan Gambus, Syakir Daulany dan beberapa youtuber yang memang sudah terkenal.
Namun di tulisan ini tidak akan mengulas tentang lagu tersebut, tetapi tentang sisi-sisi lain Aisyah si Istri Rasulullah yang perlu kita ketahui. Setidaknya ada empat hal yang penulis kira penting. Di balik Aisyah yang memiliki pesona yang mempesona, sampai Rasulullah memiliki panggilan kesayangan kepadanya “Khumaira” (perempuan yang berpipi kemerah-merahan), perlu kita ulas sisi lain Sayyidati Aisyah yang semoga menginspirasi kita.
Aisyah Istri Rasulullah Seorang Aktivis
Pada masa kekhalifahan awal Ali Bin Abi Tholib, umat Islam mengalami guncangan fitnah yang luar biasa. Dengan adanya perang antar saudara sesame muslim, yakni perang jamal, perang yang terjadi di Basrah, Irak pada tahun 656 Masehi. Antara pasukan yang berpihak pada Ali bin Abi Thalib dan Aisyah.
Peperangan yang menewaskan ribuan kaum muslim ini membawa pilu bagi kedua pihak. Terlepas dari berbagai literature tentang perang ini yang ada beberapa versi antara siapa yang benar dan salah. Penulis yakin, adanya perang ini pasti karena adu domba dari pihak-pihak yang memang ingin adanya pertempuran.
Dengan landasan hadist yang diriwayatkan dari Ali, bahwasanya Rasulullah bersabda“Akan terjadi suatu masalah antara kau dan Aisyah.” Ali berkata : “Wahai Rasulullah, kalau begitu, tentu aku akan menjadi orang yang paling celaka.” Rasulullah berkata:”tidak demikian adanya, tapi jika itu terjadi, maka kembalikanlah dia (Aisyah) ke tempat yang aman (HR. Ahmad).
Baca Juga: Kebangkitan Aksi Mahasiswa: Belajar dari Ketika “Gejayan Kembali Memanggil”
Dari peperangan ini banyak yang mengambil hikmah tentang menjauhi bahaya fitnah, tetapi penulis mengambil hikmah yang lain, yakni Aisyah adalah seorang aktivis. Kenapa? Karena motif dari peperangan tersebut adalah Aisyah menuntut keadilan atas terbunuhnya Utsman bin Affan. Yang mana saat itu sang khalifah belum bias melaksanakan tuntutan beberapa pihak Umat, dan salah satu yang gencar menuntut ialah Aisyah.
Sebagaimana seoranga ktivis, ia dikenal dengan seseorang yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Aisyah seorang wanita, memiliki semangat yang luar biasa, ia tergerak karena keluhan umat Islam yang menuntut keadilan, berjalan menuju Basrah, bersama umat Islam yang lain sebanyak 5000-6000 dan dipimpin langsung oleh Aisyah, di atas untanya, karena itu disebut perang jamal.
Aisyah Istri Rasulullah Intelektual Muslimah Pertama
Ketika berada di zaman Nabi, peran seorang perempuan tidak terlalu tampak di permukaan, tapi tidak dengan Aisyah, salah satu kelebihannya yang paling menonjol adalah kecerdasan akalnya. Bahkan dalam al-muktsirun fiarriwayah (orang-orang yang paling banyak meriwayatkan hadits) nama Aisyah menduduki urutan ke-empat.
Terbukti dengan banyaknya hadist yang telah diriwayatkannya sebanyak 2210 hadist. Karena kecerdasannya tersebut, Abu Musa pernah berkata “Apa-apa yang musykil bagi kami para sahabat Rasulullah Saw tentang hadis apa saja, kami tanyakan kepada Aisyah, maka kami peroleh ilmu daripadanya (HR.Tirmidzi).
Begitupun menurut salah seorang murid terkemuka Aisyah, Urwa bin Zubair mengatakan, pengetahuan dan keluasan ilmu Aisyah tidak terbatas pada ilmu-ilmu agama, dia sangat menguasai sejarah arab, sastra, retorika, puisi dan silsilah, serta akrab dengan aspek-aspek pengobatan tradisional
Sebuah teladan bagaimana seorang perempuan yang memiliki pengetahuan yang luas meliputi berbagai fakultas keilmuan dan menjadi rujukan di antara sahabat-sahabat Nabi dan para tabiin tentang apa-apa yang belum diketahui pada masanya.
Wanita yang Sederhana
Tentu kita sudah tahu tentang bagaimana kehidupan Rasulullah, terutama tentang kesederhanaan beliau dalam segala hal, tidak berlebih-lebihan tapi tetap elegan, siapapun yang melihatnya akan betah berlama-lama.
Dalam kehidupan berumah tangga, Aisyah ketika menjadi istri Nabi tidak pernah mengeluh, ia selalu mencurahkan perhatiannya kepada Nabi, dalam kesederhanaan yang lain, ada kisah dalam hadits yang diriwayatkan Aisyah, “suatu hari Nabi menemui kami dan bertanya, “apakah engkau punya makanan?” Kami menjawab, “Tidak” Kemudian beliau bersabda, “Kalau begitu, saya akan puasa”.
Meski kisah dalam hadits ini sering dipakai sebagai landasan dalil ketika berpuasa, tidak makan sahur, tidak apa-apa. Tapi penulis melihat ada kesederhanaan yang tercipta dalam rumah tangga tersebut. Aisyah tidak pernah mengeluh, bahkan selalu bersyukur di atas kesederhanaan menjadi Istri Nabi.
***
Begitupun setelah Nabi meninggal, Aisyah tetap menerapkan hidup dalam kesederhanaan. Sebagaimana ada kisah ketika berada di masa Mu’awiyah, kaum muslimin mengalami kehidupan yang Makmur, suatu hari Aisyah dihadiahi 1000 dirham. Karena saat ituAisyah sedang berpuasa dan tidak memiliki apapun untuk berbuka. Aisyah menerima dirham itu, lalu membagikannya kepada fakir miskin.
Baca Juga: Titik Temu Teologi Islam dan Sains Modern
Ketika selesai dibagi, dan kembali di rumah, pembantu Aisyah bertanya “tidakkah engkau bisa menggunakan 1 dirham saja untuk membeli daging guna berbuka nanti?” Aisyah menjawab, “andai engkau mengingatkanku tadi, pastilah aku melakukannya”
Dari kisah inipun dapat diambil hikmah, betapa Aisyah tidak tertekan dengan kemiskinan dan tidak pula kegirangan oleh kekayaan. Ia tidak terlalu memedulikan keduniawian, tetap selalu dalam kesederhanaan.
Seorang Guru dan Teladan bagi Siapapun
Aisyah pertama kali menjadi pengajar dimulai setelah Rasululah wafat, ia membuka majelis secara terbuka. Murid-muridnya meliputi para sahabat dan tabi’in, mereka dating berbondong-bondong untuk mendengarkan pengajaran di kelas beliau. Ia adalah seorang guru perempuan yang tegas, lembut, penuh kesahajaan dan menjadi referensi utama terkait masalah keluarga, wanita dan kesehariannya.
Aisyah dikenal sebagai guru yang sangat murah hati dan mudah didekati. Dalam menyampaikan ilmunya, sering kali Aisyah menyampaikan ilmu dengan metode‘amali atau dipraktekkan secara ;angsung. Dalam suatu riwayat dijelaskan ketika Abu Salamah bersama saudara laki-laki Aisyah sepersusuan, bertanya kepadanya perihal cara berwudhu Rasulullah.
Kemudian Aisyah menjawab dengan mempraktikan langsung cara berwudhu Rasulullah. Dengan metode ini, tentang apa yang diajarkan, murid-murid akan lebih mudah memahami pengetahuan dan mengingatnya dalam jangka waktu yang panjang.
Demikian tentang empat hal dalam diri Aisyah Istri Rasulullah, Ummul Mukminin yang memiliki keluasan wawasan, kesederhanaan penampilan, antara seorang guru dan murid dengan kedekatan layaknya sahabat dan seorang perempuan yang selalu rindu akan keadilan. Semoga kita tidak hanya menyukai kisah romantisnya dengan Nabi, tetapi juga mampu meneladani sisi-sisi yang lainnya.
Sumber Ilustrasi: senipedia.id
Good job