Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme yang berarti pengetahuan. Untuk memperoleh Epistemologi setidaknya ada beberapa pertanyaan yang perlu kita pecahkan, sebagaimana yang telah teruraikan oleh M. Amin Abdullah bahwa pertama, apakah sumber-sumber pengetahuan itu? kedua, dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan ketiga, bagaimana kita mengetahuinya?.
Sebagaimana pula pendapat M. Amin Abdullah, bahwa “dalam dunia pemikiran, epistemologi menempati posisi penting. Sebab ia menentukan corak pemikiran dan pernyataan kebenaran yang di hasilkannya”. Dan beliau juga menambahkan bahwa “Bangunan dasar epistemologi berbeda dari satu peradaban ke peradaban yang lain”.
Titik tekan perbedaan dalam epistemologi memang besar sekali pengaruhnya dalam konstruksi bangunan pemikiran manusia secara utuh. Sehingga melalui epistemologi, pandangan dunia manusia akan terpengaruh bahkan akan terbentuk oleh konsepsinya.
Berkenaan dengan pendekatan epistimologi ini, ada salah satu tokoh pemikir Islam kontemporer yang mengkritisi penggunaan epistimologi ini yakni Muhammad Abid al Jabiri. Beliau merupakan seorang pemikir kontemporer, filosof, dan sosiolog Arab. Sejak awal concern pengetahuan al Jabiri memang memfokuskan diri pada kajian kebangkitan kembali rasionalisme Arab. Dengan harapan bisa mengejar ketertinggalan dan kemajuan yang telah tercapai oleh bangsa Eropa pada abad-abad terakhir ini.
Kemudian Al Jabiri menawarkan sebuah rekonstruksi epistemologi yang dapat membantu mengembangkan ilmu keagamaan yang ia rasa berbeda ketimbang dengan keilmuan yang berada di dunia Barat. Secara umum kritik al Jabiri di tujukan kepada nalar Arab-Islam yang pada akhirnya menyatu dalam sebuah turats atau kebudayaan.
Al Jabiri memiliki pandangan bahwa, agar proyek kebangkitan Arab tidak mengalami keterputusan sejarah. Maka kebudayaan seharusnya menjadi titik tolak kritik nalar. Oleh Karena itu persoalan keterpurukan bangsa Arab sejatinya di sebabkan karena mereka terjebak dalam memahami dan memperlakukan kebudayaan, yang cenderung bergerak ke arah sirkular dan bahkan tidak bergerak kearah pembaharuan. Sehingga dalam hal ini Al Jabiri menawarkan epistemologi pengkajian Islam yang meliputi tiga aspek yaitu, bayani, irfani dan burhani.
Epistemologi Islam Bayani
Secara leksikal, istilah bayani mengandung lima arti, yaitu: (1) al waslu (sampai, berkesinambungan), (2) al-fasl (terputus, keterpilahan). (3) al-zuhur wa al-wuduh (jelas dan terang), (4) al fasahah wa al-qudrah ala al-Tabligh wa al-iqna (sehat dan mampu menyampaikan dan menenangkan). Dan (5) al-insan hayawan al-mubin (manusia hewan berlogika).
Bayani adalah suatu epistimologi yang mencakup disiplin ilmu yang berpangkal dari bahasa arab (yaitu nahwu, fiqh, dan ushul fikih, ilmu kalam dan balaghah). Masing-masing disiplin ilmu ini terbentuk dari satu sistem kesatuan bahasa yang mengikat basis-basis penalarannya.
Secara sederhana menurut Abid Al-jabiri, nalar bayani terdapat dalam kajian ilmu kebahasaan, nahwu, fiqih (yurisprudensi Islam), teologi (ilmu kalam) dan ilmu balaghah. Nalar bayani bekerja dengan menggunakan mekanisme yang sama berangkat dari dikotomi antara lafadz al-makna, al-ashlal-far’ dan al-jauhar al-ardl.
Dalam epistimologi bayani ini al Jabiri lebih menitikberatkan pada aspek pemahaman yang luas terhadap memahami suatu teks, serta menggali lebih dalam aspek kebahasaan dan menempatkan kebenaran wahyu (teks). Pada prioritas utama dibandingkan dengan kebenaran yang dihasilkan melalui penggunaan akal.
Epistemologi Islam Irfani
Kata irfan (gnosis) merupakan bentuk masdar dari kata arafa yang artinya pengetahuan, ilm dan hikmah. Dan Irfani (gnostik), kata ini semakna dengan makrifat, berarti pengetahuan yang kita peroleh secara langsung lewat pengalaman. Sedangkan ilmu adalah pengetahuan yang di dapat lewat transformasi (naql) dan rasionalitas (aql).
Jika sumber pokok ilmu pengetahuan dalam tradisi bayani adalah teks (wahyu). Maka sumber terpokok ilmu pengetauhuan dalam tradisi berfiki Irfanī adalah experience (pengalaman). Dan kebenaran epistemologi irfani hanya dapat dirasakan dan dihayati secara langsung (arru’yah al-mubashirah), intuisi, az-zauq atau psiko-gnosis.
Nalar Irfanī berusaha menyesuaikan konsep yang kita peroleh melalui kasyf dengan teks. Dan menurut Al-Jabiri, pengalaman kasyf di hasilkan melalui mujahadah dan riyadah (penempaan kita secara moral spritual) tidak di hasilkan melalui proses penalaran intelektual manusia yang mana manusia terus tertuntut aktif dan kritis. Tetapi di hasilkan melalui mujahadah dan riyadah (penempaan kita secara moral spritual).
Epistemologi Islam Burhani
Burhan berarti argument yang pasti, tegas, dan jelas. Dalam pengertian yang sempit, burhani adalah aktivitas pikir untuk menetapkan kebenaran pernyataan melalui metode penalaran, yakni dengan mengikatkan pada ikatan yang kuat dan pasti dengan pernyataan yang aksiomatis. Al-Jabiri menegaskan bahwa burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya.
Di samping itu, dalil-dalil logika tersebut memberikan penilaian dan keputusan terhadap informasi yang masuk lewat indera, yang dikenal dengan istilah tasawwur dan tasdiq. Tasawwur merupakan proses pembentukan konsep berdasarkan data-data dari indera, sedangkan tasdiq merupakan proses pembuktian terhadap kebenaran atau konsep tersebut.
Jika sumber ilmu dari epistemologi Bayanī adalah teks. Sedangkan Irfanī adalah pengalaman langsung, maka epistemologi Burhanī merupakan epistemologi yang bersumber pada realitas atau al-wāqi’ baik realitas alam, sosial, humanitas maupun keagamaan. Peran akal pikiran sangat menentukan pada posisi ini. Karena fungsinya selalu akan terarahkan untuk mencari sebab akibat (idrak as-sabab wa al-musabab.
Bagi al-Jabiri, Metode burhani bertumpuh sepenuhnya pada seperangkat kemampuan intelektual manusia, baik melalui panca indera, pengalaman, maupun daya rasional. Dalam upaya memperoleh pengetahuan tentang semesta, bahkan juga sampai menghasilkan kebenaran yang bersifat pospulatif. Dan untuk mendapatkan pengetahuan epistemologi burhani menggunakan silogisme. Dalam bahasa Arab, silogisme di terjemahkan dengan qiyas atau al-Qiyas al-Jami’ yang mengacu kepada makna asal.
Al-Jabiri menjelaskan bahwa dari ketiga epistemologi tersebut posisi epistemologi burhani di tempat pada posisi paling utama atau paling tinggi setelah itu di ikuti oleh epistemologi bayani, karena menurut al-Jabiri metode burhani (baca:akal) akan menguatkan metode bayani (baca: teks). Sementara itu epistimologi irfani yang menyebabkan perkembangan keilmuan Islam terhambat atau menjadi stagnan, karena metode ini merasa semua perkembangan dan proses pencapaian pengetahuan berdasarkan pemberian Tuhan secara langsung atau melalui illuminatif (cahaya), yang kemudian akan berimplikasi dan tidak akan melahirkan berbagai konflik-konflik baru.
Penulis : Alvira Rachma Dewi Kholifah