Mahasiswa merupakan generasi krusial, generasi pemilik bangsa untuk berprogresif, generasi tolak ukur kredibelitas sebuah bangsa dan negara. Melatar belakangi itu, sebuah tulisan ini mungkin banyak kekurangannya dan berharap dapat menjadikan sebuah konsensus tinjauan berkemajuan, maka oleh sebab itu perlu dinamika literasi sebuah bangsa. Sebab bangsa yang kredibelitas adalah bangsa yang menunggangi konsep pendidikan berkemajuan tanpa menistakan sebuah teori tradisional-normatif.
Seorang mahasiswa adalah seorang yang menginjakkan kakinya untuk berkembang menjadi militansi yang profesional. Artinya mereka sedang melakukan perjalanan untuk menjadi manusia dewasa (pra-dewasa). Dalam berproses ini mereka sangat tersibukkan dengan dilema-dilema yang dipengaruhi faktor eksternal, yakni : organisasi, komunitas (yang diseganinya), dunia perkuliahan dan masih banyak lagi yang akan di alaminya.
Paradigma Mahasiswa
Dunia intelektual, dunia geopolitik, geoekonomi dan juga literasi bacaan merupakan yang prihal yang harus di fahami sebagai dasaran untuk para mahasiswa, agar menempatkan proporsinya sehingga kapabilitas dan kredibelitas yang dimiliki oleh setiap individual mahasiswa berkemabang sebagai tolak dasar menjadi mahasiswa yang berkompeten.
Menjadi mahasiswa aktivis, baik secara internal (di dunia kampus) dan eksternal (di dunia organisasi) merupakan dambaan setiap individual mahasiswa. Maka untuk merekrontrukasi hal ini, nilai kesadaran, nilai pemberdayaan dan nilai produktivitas individual mahasiswa di hidupkan dan di kembangkan dengan bijak.
Sebagai agen of change dan agen social maka memerlukan keilmuan mendalam untuk bisa bertransformasi dengan kemajuan zaman. Sehingga paradoks atau statmen yang dimiliki setiap mahasiswa hendaknya berkembang dan bisa mengarumi zaman. Sebuah paradigma berkemajuan berintens kepada transformasi keilmuan modern, dengan memproporsikan keadaan antara modernisasi dan kultur dasar seorang mahasiswa.
Perlu di garis bawahi, bahwa nilai akademik mahasiswa hendak setara dengan capaian yang ia lakukan di dunia organisasi. Sehingga mempunyai karismatik tersendiri dan dapat menjadi mahasiswa yang mempunyai kredibelitas tinggi. Bagaimana menanamkan nilai-nilai tersebut?
Ini merupakan pertanyaan yang kompotibel dan krusial sehingga tiap mahasiswa hendaknya mengetahui. Untuk mengetahuinya adalah mengembangkan kredibelitas melalui budaya membaca dan berdiskusi. Sebab, ranah gerak mahasiswa hendaknya dihabiskan dengan budaya tersebut. Sehingga secara spontanitas nilai pemberdayaan dan kesadaran serta pengembangan mahasiswa terukur dengan baik.
Budaya membaca merupakan budaya yang memang sulit menjadi budaya, apalagi melihat kultur arsitek pada tiap-tiap daerah. Akan tetapi bukan serta merta budaya ini hilang atau minim di kultur daerah. Akan tetapi melalu nilai kesadaran budaya ini akan terbangun dengan step by step dengan diksi sistematika dan progresifitas sebuah wadah yang kompeten dengan kepemimpinan yang transformatif.
Rekontruksi berkemajuan
Rekontruksi adalah pembaharuan di berbagai aspek. Sedangkan kemajuan merupakan perkembangan yang terjadi di dunia sekarang menjadi modern. Seorang mahasiswa hendaknya memperhatikan dan menganalisis terkait hal ini, sebagai pijakan perkembangan baik secara individual atau secara organisasi.
Sebab tanpa ada tinjauan maka ranah pergerakan mahasiswa akan stagnan dengan konsep akademik. Padahal seorang mahasiswa hendaknya berfikir lebih dalam dan komprehensif untuk menunggangi bangsa, masyarakat dan zaman. Sehingga menjadi mahasiswa bukan hanya dambaan akan tetapi merupakan tugas yang harus di emban dalam melaksanakan kemajuan bangsa dan juga dapat memberikan kebijakan terbaiknya terhadap publik.
Adanya sebuah rekontruksi berkemajuan hendaknya mempunyai sistematika yang sesuai dengan perkembangan zaman dan juga konsep-konsep pembaharuan sehingga sistematika dan konsep tersebut menjadikan tolak ukur untuk perubahan. Dan untuk merekrontrukasi perubahan hendaknya melihat studi bagaimana dan apa saja yang harus di kembangkan melalui Skeberadaan agama Islam secara antrapologi. Sebagaimana agama Islam dapat diterima dan dapat menunggangi zaman sekarang.
Proses Berkemajuan
Islam merupakan pedoman sekaligus sebagai legitimasi dalam menaungi modernisasi. Di dalam dogma “Islam modern” dapat sama-sama kita ketahui bahwa peradaban maju dapat berjalan melalui proses wasathiyah. Konsep wasathiyah adalah konsep tidak menistakan perkembangan yang maju di zaman modern ini, baik teknologi maupun tata-cara dalam mendapatkan ilmu. Sebab jika di nistakan, Islam tidak akan maju dan akan menjadi majemuk sekaligus menjadi dikotomi terhadap Islam itu sendiri.
Secara survei global, agama yang paling banyak di anut adalah agama Islam. Sehingga untuk loncatan pertama dalam melakukan peradaban yang maju, maka harus menjadikan Islam sebagai bahan referensi dasar kemudian di kembangkan dengan peradaban keilmuan dari bangsa Eropa.
Dalam penerapannya, hendaklah melakukan konsepsi ATM (amati, tiru dan modifikasi). Melalui konsep ini bukan tidak mungkin lagi sebuah peradaban maju khususnya dunia Islam akan berkembang pesat. Dan melalui ini juga, baik lembaga, organisasi atau komunitas akan bersebrangan dengan kondisi zaman.
Artinya melalui hal ini antara perkembangan zaman akan berkoneksi dengan adanya Islam, lembaga, organisasi atau komunitas tersebut. Setidaknya juga seorang pemimpin mampu menciptakan formula sekaligus strategi jitu agar relevan dengan perkembangan zaman sekarang.
Editor : Izzul Khaq