Secara etimologi, al-Insan dapat diartikan harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa. Ada juga dari asal kata Naus yang mengandung arti “pergerakan atau dinamis”. Al-Insan juga dapat dipahami bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi yang positif untuk tumbuh serta berkembang secara fisik maupun spiritual. Selain itu, manusia juga dibekali dengan potensi-potensi yang dimiliki, yang berpeluang untuk mendorong ia ke arah tindakan, sikap serta perilaku negatif yang merugikan.
Makna Al-Insan
Menurut Ali Shariati (1994) dalam buku Tugas Cendikiawan Muslim menjelaskan bahwa tipe manusia “Insan” berbeda dengan tipe manusia pada umumnya, Insan memiliki karakteristik khusus yang berlainan antara orang satu dengan orang lainnya sesuai dengan tingkatan realitas atau esensinya. Jika menyebut insan, tidak dimaksudkan sebagai penduduk dunia pada umumnya.
Jadi tidak semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari kemanusiaan. Walaupun demikian, setiap manusia dapat mencapai taraf Insan dalam kehidupannya dalam batas-batas tertentu.
Insan adalah makhluk yang men-jadi, yang terus bergerak maju ke arah kesempurnaan. Insan berbeda dengan basyar dan fenomena lainnya, karena ia seorang makhluk yang “men-jadi”. Artinya bahwa manusia hanya manusia saja yang dapat “men-jadi (maju) dan bukan fenomena lainnya di dalam alam. Oleh karenanya, manusia diberikan tugas sebagai khalifah dan pemikul amanah. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surat at-Tin ayat 3:
وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِين
Artinya: sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. at-Atin: 3).
****
Abbas Mahmud Aqqad (2005) dalam buku Al-Insan fi Al-Quran menjelaskan bahwa insan di dalam Al-Quran terdiri dari delapan klasifikasi, yaitu Pertama, al-makhluq al-mas’ul (insan sebagai makhluk yang bertanggungjawab). Kedua, al-kain al-mukallaf (ciptaan yang diberi beban). Ketiga, ruh dan jasad. Keempat, al-nafs. Kelima, al-amanah. Keenam, al-taklif wa al-hurriyah (beban dan kebebasan). Ketujuh, usrah wahidah (keluarga yang utuh), kedelapan, Adam.
Al-Insan pada dasarnya mulia. Ia mulia karena memiliki pertimbangan akidah, pertimbangan pikiran, dan pertimbangan moral dalam segala tindakannya. Sebagai insan, menurut Aqqad, hendaknya menggunakan integrasi ketiga pertimbangan tersebut. Lebih lanjut Aqqad mengatakan kepemilikan akal sebagai prasyarat diberikan insan beban. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surah al-Imran ayat 191:
ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka
Al-Insan tidak hanya sebagai makhluk yang berpikir, tetapi juga sebagai makhluk empiris, memiliki jasmani dan sebagai makhluk ilahiyah yang memiliki ruh dan harus diimani. Dua esensi insan ini hendaknya berjalan secara harmonis dan seimbang. Dari dua unsur inilah manusia hidup, jika salah satunya melemah, maka melemahlah hidupnya. Pada dasarnya manusia itu ada yang bersifat ketuhanan (ilahi:ruhiyah) dan yang bersifat kemanusiaan (basyari: jasmaniyah).
Memahami Makna Insan Kamil
Menurut Dalimunthe Sehat (2018) Ontologi Pendidikan Islam menjelaskan bahwa istilah insan kamil memiliki keterkaitan dengan konsep wahdatu al-wujud (konsep kesatuan wujud) yang digunakan oleh Ibnu ‘Arabi. Insan kamil (manusia sempurna) dilihat dari potensi sebagai cermin Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain.
Kesempurnaan manusia sebagaimana ditulis oleh Dalimunthe adalah ia bisa menjadi cermin utuh dari Tuhan. Manusia sebagai teomorfis memiliki nama dan sifat Allah Swt, yang tidak dimiliki makhluk lain termasuk alam. Ibnu ‘Arabi sebagaimana dikutip oleh Dalimunthe membagi manusia menjadi dua, yaitu manusia yang sempurna (insan kamil) dan manusia yang tidak sempurna (al-insan al-hayawani).
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang sempurna, tapi karena ia tidak mengaplikasikan sifat-sifat ilahi yang menjadi potensi dirinya, maka ia menjadi manusia binatang.
Secara ontologis, kesempurnaan manusia dilihat dari potensi ilahiyahnya. Oleh karenanya, insan kamil yang akan mengemban tugas khalifah karena kesempurnaan manusia yang memiliki potensi semua nama dan sifat-sifat-Nya. Di mana cermin-Nya untuk melihat alam ini, maka ia memberi kuasa kepada manusia untuk mewakili-Nya dalam mengelola alam raya ini.
Kriteria pemilihan manusia sebagai khalifah bukan karena kekuatan fisiknya, melainkan karena potensi ilahiyahnya. Teori anfauhum li al-nas (paling bermanfaat bagi manusia), tidak cukup dilihat dari manfaat yang bebas nilai ilahiyah. Dengan kata lain, jika kebaikan yang dilahirkan tidak berlandaskan sifat-sifat ilahiyah, maka pelakunya tidak bisa dikatakan sebagai insan kamil. Ukuran ilahiyah manusia adalah ‘ubudiyah, ketundukannya kepada Allah.
****
Insan kamil dalam tingkat yang universal, dijelaskan oleh kausari Azhari Noer model asli yang permanen. Sementara pada tingkatan partikular, insan kamil perwujudannya pada nabi dan wali Allah. Pada tingkat universal insan kamil memadukan atau mensistesiskan nama dan sifat Tuhan dan semua realitas dalam dirinya.
Internalisasi sifat-sifat Allah pada diri manusia dalam konsep insan kamil yang disebut dengan al-takhalluq. Al-takhalluq bi akhlaqi Allah (berakhlak dengan nama Allah) syarat untuk menjadi khalifah. Al-takhalluq menurut kausari Azhari Noer bukanlah meniru secara aktif sifat-sifat Allah, karena juga mustahil dicapai. Takhalluq berarti menafikan sifat-sifat kemanusiaan dan mengisinya dengan sifat-sifat Allah yang telah ada pada manusia dalam bentuk potensi yang tertanam pada diri manusia bukan di luar potensinya.
Dengan kata lain, Takhalluq merupakan aktualisasi potensi ilahiyah yang ada pada diri manusia. Seperti misalnya manusia memiliki potensi belajar, sedangkan keberhasilan dan kesuksesan bukanlah ranah potensinya. Upaya untuk berhasil itulah Takhalluq. Keberhasilan itu menjadi ranah kekuasaan Allah. Itulah yang disebut sebagai manusia berusaha, Allah yang menentukan.
Editor: Saleh