Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Setrika Payudara bagi Perempuan, Lazimkah?

Rani Wahyu Tri Utami by Rani Wahyu Tri Utami
Juli 6, 2021
in Esai
0
Setrika Payudara bagi Perempuan, Lazimkah?

Setrika Payudara

31
SHARES
185
VIEWS

Apa yang terpikir ketika mendengar kata setrika? Yap, alat untuk menghaluskan pakaian kusut, jenisnya ada yang listrik dan juga uap. Tapi bagaimana jika setrika dipakai untuk payudara. Sudah pernah dengar istilah setrika payudara? Percayalah, bahkan setrika payudara sudah menjadi adat istiadat atau tradisi kuno di Afrika Barat. Tradisi ini ditujukan untuk para gadis remaja ketika sudah menginjak masa pubertas. Kenapa harus disetrika? Apa karena payudara bisa kusut? Bukan, begini penjelasannya.

Payudara dinilai sebagai bagian tubuh perempuan yang memperlihatkan feminitas serta menarik perhatian lawan jenisnya. Organ tubuh yang terdapat di bagian atas dada dari spesies mamalia berjenis kelamin betina, termasuk manusia disebut dengan payudara. Payudara bisa disebut juga dengan organ penting dalam kehidupan. Setiap manusia sejak dari periode bayi hingga masa kelanjutan hidupnya selalu berhubungan dengan ASI. Tidak salah lagi, Payudara sebagai tempat produksi ASI otomatis menjadi lambung keperempuanan.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Tidak seperti kebanyakan masyarakat dunia yang bangga memiliki payudara besar, nyatanya di Afrika payudara dianggap aib sehingga harus diratakan. Selain itu, praktik setrika payudara dapat membantu menyamarkan permulaan pubertas serta diyakini dapat mengurangi perhatian laki-laki. Menghilangkan payudara merupakan satu langkah yang digunakan untuk melindungi gadis dari risiko pemerkosaan. Hal ini juga dapat mencegah mereka dari pelecehan seksual, eksploitasi, pemerkosaan, dan penyakit menular seksual.

Setrika payudara biasanya menggunakan batu gerinda yang dipanaskan, palu, sendok, kain, ikat pinggang, dan bahkan setrika listrik. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh keluarga perempuan, ibu, nenek, juga bibi. Frikjesus mengatakan, praktik semacam ini kadang-kadang dilakukan oleh bidan atau dukun.

Dalam jurnal penelitian Fikrejesus Amahazion (2021) mengatakan Badan Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa mencantumkan setrika payudara sebagai salah satu dari lima cerita yang kurang dilaporkan terkait dengan kekerasan berbasis gender. Studi nasional pada 2005 yang dilakukan di Kamerun memperkirakan bahwa sekitar 25 persen anak perempuan telah menjalani prosedur ini. Selain itu tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa menyetrika payudara dapat menecegah terjadinya pelecehan seksual.

Norma-norma tradisional yang sudah berlangsung lama, sikap sosial budaya yang mengakar, dan ketimpangan gender yang meluas merupakan salah satu latar belakang adanya setrika payudara. Secara khusus, di banyak masyarakat, norma-norma patriarki yang mendarah daging berkontribusi pada peran dan hak istimewa gender yang kaku atau menganggap status yang lebih tinggi bagi laki-laki dan status yang lebih rendah untuk perempuan.

Cita-cita budaya feminitas mempromosikan kesopanan, sementara seksualitas perempuan sering dianggap memalukan dan sesuatu yang harus ditekan, disembunyikan, dan ditolak. Selain itu, kesucian dan keperawanan dalam pernikahan dianggap sebagai elemen terpenting dalam kehormatan pribadi dan keluarga seorang gadis.

Tradisi ini ramai diperbincangkan oleh berbagai media massa. Tradisi setrika payudara di kalangan gadis remaja di Afrika selama ini dinilai menjadi masalah yang kalah ramai diperbincangkan ketimbang praktik sunat perempuan, pernikahan paksa, dan kekerasan seksual lainnya. Ketika mereka beranggapan serta berdalih penyetrikaan payudara merupakan langkah yang diambil untuk melindungi anak dari pelecehan seksual. Kiranya mereka tidak menyadari bahwa penyetrikaan payudara merupakan suatu bentuk pelecehan seksual.

Semakin marak kasus pelecehan seksual di berbagai penjuru dunia bukan hanya semata-mata perempuan adalah sumber utama hal tersebut bisa terjadi. Kasus semacam itu, apabila dikaji lebih dalam sebenarnya bukan sepenuhnya salah perempuan. Apabila hal-hal semacam itu masih diterapkan di era modern seperti ini, lagi-lagi kaum perempuan yang akan terpojokkan.

Hal yang dipikirkan pelaku setrika payudara adalah hal yang lumrah di lakukan pada setiap gadis remaja untuk melindungi dirinya. Tetapi argumen tersebut mudah dipatahkan karena secara terang-terangan setrika payudara merupakan tradisi yang menyiksa kaum perempuan. Apakah hal semacam ini masuk akal jika kita hidup dimana tubuh perempuan yang alami dianggap sebagai sumber kejahatan hanya karena laki-laki tidak mampu mengendalikan dirinya?

Editor: Anisa K.

Terkait

Tags: Feminismekekerasan seksualPerempuansetrika payudara
Previous Post

Hermeneutika : Tafsir Al-Qur’an ala Nasr Hamid Abu Zayd

Next Post

Tanda Hati Telah Mati

Rani Wahyu Tri Utami

Rani Wahyu Tri Utami

Next Post
hati

Tanda Hati Telah Mati

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.