Kalimahsawa.id – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, Pancasila yang sudah menjadi dasar negara dan ideologi negara di kodifikasi dan konsensus nasional adalah Pancasila 18 Agustus 1945 dengan pengalaman sejarah yang panjang di era orde lama, orde baru, dan setelah reformasi selama dua dasawarsa.
“Maka bagaimana kita memperingati lahirnya pancasila itu bukan hanya ritual dan seremonial maupun juga dalam jargon dan retorika,” tutur Haedar sebagaimana Dilansir dari laman resmi Muhammadiyah.
Haedar mengajak seluruh warga bangsa untuk mewujudkan Pancasila melalui beberapa hal. Pertama, menerapkan Pancasila dalam kehidupan bernegara, melalui seluruh institusi kenegaraan. Hal ini dilakukan gar masyarakat menjadikan setiap sila Pancasila sebagai dasar nilai, dasar pijakan mengambil keputusan, dan orientasi dalam kebijakan tersebut. Agar tetap berada di koridor Pancasila.
“Pertentangan sering terjadi karena kebijakan-kebijakan negara itu tidak sejalan dengan jiwa, alam pikiran, dan moralitas Pancasila,” tegas Haedar.
Kedua, Pancasila harus menjadi pedoman hidup berbangsa bagi seluruh komponen dan warga bangsa, termasuk para elit bangsa.
Menurut Haedar, Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan, menjadi doktrin, dan pemikiran. Pancasila harus dipraktekkan dimanapun berada dan dalam posisi apapun.
Haedar menyebut bahwa elit harus menjadi contoh teladan di dalam mempraktekkan Pancasila, menjadi insan-insan yang Berketuhanan Yang Maha Esa, Berperikemanusiaan yang adil dan beradab, Berpersatuan Indonesia, Berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesi.
“Kata “ber” menunjukkan kata kerja, artinya Pancasila dijadikan praktik nyata dalam berbangsa dan bernegara,” tutur Haedar.
Ketiga, perumusan Pancasila untuk menjadi bahan sosialisasi dalam kehidupan bernegara tidak boleh mengulangi yang telah terjadi di masa lalu. Dimana sebagian masyarakat secara sadar atau tidak meyimpangkan Pancasila dari sila-silanya yang substansial menjadi hal-hal yang indoktrinatif di luar substansi yang seobjektif mungkin dari nilai-nilai Pancasila itu sendiri.
Ia berpesan agar masyarakat menjauhi politisasi Pancasila untuk kepentingan apa pun. Ia meminta agar masyarakat belajar dari sejarah. Bahwa setiap reduksi, penyimpangan, dan politisasi Pancasila akan menimbulkan ketikdapercayaan pada Pancasila itu sendiri. Selain itu juga kepada kebijakan-kebijakan negara yang berkaitan dengan Pancasila.
“Semuanya memerlukan ketulusan, kejujuran, jiwa negarawan, wawasan yang luas dan semangat kebersaaman dalam mewujudkan Pancasila sebagai ideologi negara. Jangan membawa pancasila menjadi sesuatu yang sempit dan jangan juga membawa Pancasila melebihi dirinya. Itulah Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Temptkan Pancasila secara proporsoional sebagai dasar dan ideologi negara,” tutup Haedar.
Reporter : Yusuf