Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Konflik Palestina dan Dunia yang Terus Membaik

Yusuf R Yanuri by Yusuf R Yanuri
Mei 20, 2021
in Esai
0
Konflik Palestina dan Dunia yang Terus membaik
78
SHARES
456
VIEWS

Israel terus membombardir Jalur Gaza dengan serangan udara dan peluru artileri pada Jumat (14/5/2021). Israel juga meningkatkan pengerahan pasukan dan tank di dekat derah kantong Palestina yang terkepung. Dalam konflik yang terjadi di Palestina ini, sekitar 119 warga Palestina, termasuk 31 anak-anak, telah tewas dan lebih dari 830 luka-luka sejak permusuhan berkobar sejak Senin (10/5/2021). Ratusan keluarga Palestina berlindung di sekolah-sekolah yang dikelola PBB di Gaza utara untuk menghindari tembakan artileri Israel.

Konflik Israel – Palestina adalah salah satu perang yang masih berlanjut hingga awal abad ke-21. Perang yang dianggap sebagai perang agama Islam VS Yahudi ini membuat geram sebagian besar umat Islam di berbagai penjuru dunia. Meskipun sebagian analis menyebut bahwa perang tersebut bukan perang agama, melainkan perang ekonomi, namun dunia Islam relatif geram dengan Israel.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Terlepas dari hal itu, perang merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Ribuan bahkan jutaan masyarakat sipil yang tidak tahu-menahu harus menjadi korban dari kepentingan segelintir elit. Perang merubah hampir keseluruhan aspek kehidupan mereka.

Masyarakat yang layaknya mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, dan kehidupan yang layak harus kehilangan itu semua. Bagaimana seseorang akan berpikir soal pendidikan jika di atas mereka ada puluhan jet tempur yang menghujani bom? Bagaimana seseorang akan berpikir soal karir kehidupan yang lebih baik jika puluhan tetangganya mati di tangan tentara? Perang, atas nama apapun, adalah sebuah kejahatan.

Kabar baiknya, angka peperangan dari waktu ke waktu selalu berkurang. Dalam sebagian besar sejarah manusia, perang adalah rutinitas. Sedangkan perdamaian adalah gencatan senjata. Dalam setiap perdamaian, masyarakat harus bersiap karena sewaktu-waktu perang bisa meletus.

Steven Pinker dalam bukunnya Enlightenment Now menyebut bahwa selama 450 tahun terakhir, perang yang melibatkan kekuatan besar menjadi lebih singkat durasinya dan lebih jarang. Di sisi lain, pasukan mereka menjadi lebih baik dan lebih terlatih. Perkembangan teknologi membuat senjata militer menjadi jauh lebih mematikan. Maka, perang besar terakhir (Perang Dunia II) berlangsung cukup singkat namun sangat mematikan.

Setelah PD II berakhir, frekuensi, durasi, dan jumlah korban perang menurun secara bersamaan. Pada periode ini, dunia memasuki long peace period meskipun menyisakan duka di Palestina dan sebagian wilayah Timur Tengah.

Konflik bersenjata antara tentara berseragam dari dua negara seperti yang terjadi di konflik Palestina menjadi usang. Sejak tahun 1945, perang antar negara tidak pernah terjadi lebih dari 3 kali. Di Asia Timur, penaklukan Jepang, perang sipil Tiongkok, dan perang di Korea dan Vietnam pada pertengahan abad ke-20 membunuh jutaan nyawa. Namun, saat ini, Asia Timur dan Tenggara hampir sepenuhnya bebas dari pertempuran antar negara.

Sejarawan Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons menyebut bahwa di masyarakat agrikultur awal, kekerasan manusia menyebabkan 15 persen kematian manusia. Sedangkan pada abad ke-20, hal tersebut hanya menyebabkan 5 persen kematian manusia. Sedangkan saat ini, perang hanya menyebabkan 1 persen kematian dari seluruh kematian yang ada di atas muka bumi. Menurutnya, jauh lebih banyak orang yang mati karena bunuh diri daripada mati karena peperangan.

Masyarakat dunia memang tetap harus bersimpati kepada korban perang Palestina. Bahwa segelintir elit yang bersalah atas konflik di Palestina tersebut harus dihukum secara tegas oleh dunia internasional. Pembelaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan harus terus dilakukan.

Namun, agar kita tidak hidup di dalam pesimisme dan melihat peradaban dengan begitu muram, kita patut merenungkan data yang menunjukkan bahwa bumi, dari waktu ke waktu, semakin damai. Bahwa ke depan, nilai-nilai kejahatan seperti perang akan benar-benar jatuh ke angka nol ketika kita terus-menerus mendayagunakan ilmu pengetahuan dan hati nurani dengan jujur.

Terkait

Tags: israelPalestinaPerang
Previous Post

Puasa Menurut Hussein Muhammad: Menemani Hati yang Terluka

Next Post

Partai Politik Berebut Wacana Pendidikan Agama Islam

Yusuf R Yanuri

Yusuf R Yanuri

LAPSI Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Next Post
Partai Politik Berebut Wacana Pendidikan Agama Islam

Partai Politik Berebut Wacana Pendidikan Agama Islam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.