Tirani media sosial telah merasuki negeri ini. Konten media sosial menjadi hal yang tak bisa dipisahkan dengan dengan eksistensi diri. Semua orang berlomba-lomba membuat konten. Pedagang, pekerja, pejabat, hingga mahasiswa menjadi hamba konten. Lihatlah beberapa pekan lalu, jagat media sosial ramai oleh seorang mahasiswa yang viral karena asyik berjoget di depan kamera dengan goyangan pinggul yang membuat netizen lapar mata. Padahal konten tersebut tak layak konsumsi publik, sebab kurang sesuai dengan norma masyarakat Indonesia, apalagi kaum beragama.
Kalimat di atas mau diperdebatkan atau tidak silahkan saja. Akan tetapi mari kita blak-blakan. Alasan mahasiswa tersebut membuat konten semacam itu adalah untuk mencari perhatian lalu syukur-syukur menjadi viral. Dampaknya, jumlah follower di Twitter meningkat tajam, memperoleh centang biru di akun Instagram, hingga diundang ke acara talk show televisi nasional. Katanya sih itu bagian dari karya, namun apa esensi karya memang seperti itu? Ataukah ada yang salah dengan tren masyarakat kita ?
Konten Viral yang ‘Meresahkan’
Video viral di atas sebenarnya hanyalah satu dari banyaknya kejadian viral oleh warga negara +62. Ya, tak mahasiswa tak warga biasa, sama saja ‘hamba’ konten. Contoh yang cukup meresahkan pada tahun 2020 awal adalah munculnya tiga emak-emak berjoget di jembatan Suramadu yang notabene adalah jalur cepat trans Jawa-Madura penghubung antara Pulau Jawa dan Pulau Sakera (Madura).
Kegiatan emak-emak sosialita berjoget ria menarik perhatian pengendara. Untung saja tidak terjadi apa-apa, coba bayangkan jika ada satu pengendara tidak fokus demi mengabadikan momen emak-emak berjoget, bisa-bisa terjadi tabrakan maut beruntun di sana. Seolah menjadi viral di media sosial adalah sepadan dengan harga sebuah nyawa.
Viralnya video di media sosial yang dilakukan oleh warga negara +62 ini langsung menjadi santapan lezat bagi netizen yang mahir memainkan jarinya. Netizen dengan sigapnya memberikan saran dan kritik di Instagram, mulai dari kata-kata sarkas hingga umpatan. Tak cukup di Instagram, hal viral juga diteruskan ke seluruh grup WhatsApp (WA).
Realita dibalik Mahasiswa Hamba Konten Viral
Kejadian demi kejadian yang viral kemudian menjadi konsumsi publik. Aplikasi media sosial yang sering viral yaitu TikTok menjangkiti kalangan pejabat, guru dan kaum terpelajar. Ternyata benar, yang bergelar siswa tertinggi atau mahasiswa juga tertular fenomena ini. Sungguh miris apalagi diri penulis juga menyandang gelar mahasiswa.
Di portal media sosial, mahasiswa sering tampil dengan video TikTok yang isinya bertemakan cinta. Hal ini diperparah dengan kenyataan pengguna Tiktok tidak hanya mahasiswa, namun juga remaja pada umumnya. Bisa dibayangkan, populasi penduduk usia remaja Indonesia tahun 2020 adalah sekitar 66 juta (Bappenas, 2020). Dengan kata lain, jika kegemaran TikTok tetap berlanjut, tidak berlebihan rasanya menyebut Indonesia sebagai negara dengan penduduk paling bucin se-Asia Tenggara.
Bukannya apa, penulis hanya takut jika Narcistic Personality Disorder (NPD) menjangkiti mahasiswa. Menurut pakar psikologi, NPD merupakan salah satu dari tiga gangguan kepribadian selain machiavellianisme dan psikopat. Mengutip dari American Psychological Association, bahwa pengidap NPD sering memfokuskan diri pada hasil yang di luar akal sehat (misalnya, ketenaran) dan merasa sangat yakin bahwa mereka berhak untuk menerima pujian. Hal yang terbilang sama dengan alasan mahasiswa atau umumnya seseorang membuat konten di akun sosial media.
Profil Mahasiswa Hari Ini
Selain itu kampus sekarang memviralkan figur sosok mahasiswa dalam iklan promosi kampus; wajahnya riang, suka bersendau gurau sambil baca buku. Padahal dalam realita penulis, sosok mahasiswa tersebut tak pernah duduk melingkar berdiskusi atau turun ke jalan menggalang dana dan menyuarakan perlawanan.
Mahasiswa saat ini bukan lagi barisan yang kritis, empatik dan melawan, melainkan himpunan hedonis yang mengejar promo akhir tahun Shopee dan teman-temannya. Menjadi barisan pengunjung mall, berburu tempat nyaman serta makanan kekinian. Spot foto adalah hal yang diutamakan, sebab mahasiswa kini dikondisikan agar terbiasa menjadi hamba konten media sosial.
Apalagai sekarang mahasiswa memiliki kebanggaan tersendiri ketika membawa keluaran produk ternama atau mengendarai sepeda motor keluaran teranyar. Berkuliah pun enggan bila tak memakai baju keluaran terbaru atau hijab trend yang dipakai artis ibukota. Dunia kampus telah berganti fungsi jadi etalase produk!
Sindiran Telak untuk Mahasiswa
Ya, fakta di atas memang tidak sepenuhnya buruk. Sebab, apapun yang dikenakan mahasiswa adalah sesuatu yang sesuai dengan kapasitas keuangannya. Namun yang saya khawatirkan adalah apabila kalimat dalam novel karya F. Sionel Jose menjadi kenyataan: “…Mereka orang-orang muda yang cerdas, yang tahu apa arti kekayaan. Tetapi meskipun kaya dan mendapat pendidikan di sekolah-sekolah terbaik, namun horison (cakrawala kepekaan) mereka terbatas…”.
Ada lagi kata Chekov, novelis asal Rusia menulis dalam bukunya, “Ketakutan itu karena keprihatinan mereka tak diletakkan pada persoalan kemanusiaan tapi kesejahteraan hidupnya sendiri”. Dengan kata lain, imbas dari terlalu mementingkan diri sendiri adalah aktivitas intelektual mahasiswa akan selalu gemetar ketika berjumpa dengan korban dan tuntutan tanggung jawab. Bahkan, mahasiswa akan takut demo, sungkan menulis kritik, dan enggan beropini. Lebih parah, gerakan cuci tangan dan pamit dari permasalahan umat akan menjadi hal normal di kalangan mahasiswa.
Provokasi Ajakan Menulis dan Berkarya
Sebenarnya, tak masalah untuk menjadi mahasiswa hamba konten, selama konten tersebut tidak kosong nilai. Namun kenyataannya tidak demikian. Itulah yang memacu saya dan beberapa mahasiswa lain untuk membuat konten yang sebenarnya. Yaitu dengan menulis, mengangkat fenomena terdekat, untuk dijadikan refleksi bersama.
Kini, dengan kepalan kepercayaan itu saya mengajak para mahasiswa kembali menulis dan melukiskan kebermanfaatan yang nyata. Memulai pertempuran mahasiswa yang sebenarnya dengan menngeluarkan sebuah karya. Karya yang bermanfaat, bukan karya joget ria yang membuat lapar mata. Karya mahasiswa haruslah sesuatu yang mampu melawan parasit negara dan semua kroninya.
Sebagai ikhtitam, semoga tulisan ini bisa menjadi cermin bagi mahasiswa untuk merefleksikan dirinya. Mahasiswa harus menjadi aktivis dengan gaya dan peran masing-masing sesuai norma dan hukum yang berlaku. Pilihan yang saya rasa akan jadi buah manis, sebab pilihan itu bukan hanya untuk memperoleh ketenaran pribadi. Namun juga untuk memberi solusi atas derita, kesukaran dan kesusahan yang dialami orang lain. Salam syukur perjuangan dan pergerakan. Wallahu a’lam bisshawab.
Editor: Anisa Kurniarahman
Sangat keren tulisannya terangkai apik, kesan ajakan nya tersampaikan dengan baik
Tabarakallah, setelah membaca tulisan di atas semoga diri ini tak hanya tertampar melainkan segera membuat dobrakan untuk mendapat pribadi yang lebih baik lagi👍🏻