Oleh: Ganda Febri Kurniawan
Usia Indonesia merdeka telah mencapai 75 tahun, segaris dengan itu, 17 tahun lebih tua, Sumpah Pemuda lahir sebagai titik mendidih dari kegeraman bangsa terjajah terhadap tuannya. Hal ini ditandai sebagai tragedi, yang di kemudan hari melahirkan persatuan yang cukup luas, menggabungkan wilayah sepanjang Sumatera hingga Papua Barat.
Sumpah Pemuda 1928, bagi generasi masa kini lebih terlihat sebagai slogan dan kiasan atas persatuan, daripada makna filsafati yang pada masa permulaan Indonesia merdeka adalah suatu peristiwa keramat yang telah melahirkan perjuangan lebih besar lagi untuk terlepas dari penjajahan.
Sumpah Pemuda yang diperingati setahun sekali, tidak memiliki perubahan wacana signifikan sejak pertama kali dicetuskan sebagai hari penting melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Hingga kini, ketika bangsa yang dilahirkannya itu telah menginjakkan kaki di dunia yang sama sekali berbeda dengan saat peristiwa itu berlangsung.
Dulu peristiwa itu terjadi di tengah situasi yang penuh dengan pengawasan polisi kolonial Belanda, hingga berimbas pada penggunaan bahasa resmi kongres yaitu Bahasa Belanda. Hanya seorang Moh. Yamin yang berani mengusulkan bahwa kongres perlu dilakukan dengan bahasa yang menjadi medium komunikasi sehari-hari di kepulauan Nusantara, yaitu; Bahasa Melayu.
Nasionalisme Kemerdekaan
Alasan kenapa bahasa melayu digunakan adalah gejolak nasionalisme yang tengah membumbung tinggi, meskipun salinan dokumen kongres di buat dua, satu tetap dengan bahasa Belanda sebagai laporan kepada pemerintah, setidaknya dari salinan dalam bahasa melayu itu, hasil Kongres Pemuda II dapat diketahui banyak orang.
Setidaknya ada tiga fakta penting yang perlu diketahui dari Peristiwa Sumpah Pemuda 1928; Pertama, penggunaan bahasa melayu, sebagai cikal bakal bahasa nasional. Kedua, komitmen kemerdekaan tidak tertulis dari setiap anggota. Ketiga, yang sering dilupakan, adalah keterlibatan Tionghoa sebagai bagian dari suksesor Kongres Pemuda II.
Tidak diragukan lagi, nasionalisme orang-orang yang berkontribusi pada Sumpah Pemuda pada waktu itu. Tionghoa, sebagai golongan yang sering disudutkan dalam berbagai fenomena politik, memiliki peran besar atas peristiwa itu. Dari menyediakan tempat, memberi dukungan pers, dan tentu saja sumbangan pemikiran untuk kemerdekaan.
Baca Juga: Menjaga Kedaulatan dan Menegaskan Keindonesiaan
Menjadikan Sumpah Pemuda sebagai simbol adalah suatu sifat yang ahistoris. Penghargaan terhadap peristiwa itu dan semangat yang menjiwainya hanya sebatas pamflet. Ini menunjukkan bahwa terdapat problem sosial pada masyarakat Indonesia dalam melihat masa lalunya.
Bukan hanya Sumpah Pemuda, pemaknaan yang bersifat seremonial terjadi pada setiap peringatan hari-hari bersejarah. Indikasinya, di media sosial berlalu-lalang unggahan yang menunjukkan partisipasi dalam memberi “ucapan” selamat memperingati hari tertentu. Tetapi, di balik itu, nilai-nilai yang ada dalam peristiwa yang diperingati semakin dibawa menjauh dari realitas.
Toleransi, Penguat Nasionalisme
Apabila Sumpah Pemuda masih dinilai sebagai peristiwa penting, setidaknya setiap warga negara harus mulai berpikir dua hal; pembinaan toleransi dan kerja sosial untuk penguatan nasionalisme. Dua hal itu harus dipisahkan sama sekali dari isu-isu suku, agama, ras, dan antar golongan. Supaya apa yang diperjuangkan akan lebih otentik.
Selain partisipasi langsung dari warga negara, pemerintah juga perlu menyusun strategi Top-Down untuk menghabituasi masyarakat terkait nilai-nilai Sumpah Pemuda. Kegiatan yang dilakukan pemerintah terkait kepemudaan, sejauh ini tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Kongres-kongres, seminar, maupun diskusi kepemudaan berskala besar yang melahirkan resolusi penting, selayaknya Sumpah Pemuda, tidak pernah difasilitasi.
Sumpah Pemuda 1928 perlu dimaknai secara peristiwa dan nilai-nilainya secara sekaligus oleh setiap elemen bangsa. Sebagaimana Moh. Yamin yang terinspirasi oleh Sumpah Palapa Gadjah Mada dan mengaktualisasikan peristiwa itu pada saat Sumpah Pemuda dicetuskan.
Inspirasi tersebut mengandung nilai-nilai yang dalam, dan berpandangan futuristik, sehingga dalam pencetusan Sumpah Pemuda, nama Moh. Yamin sulit ditanggalkan, sebagaimana Gadjah Mada dengan Sumpah Palapanya.
****
Di tengah perubahan yang bersifat global, Pemuda Indonesia memiliki tantangan besar; pembangunan, persatuan, dan perdamaian adalah wacana paling aktual yang dapat dijadikan pijakan untuk melangkah ke masa depan.
Sumpah Pemuda diperkuat oleh jiwa zaman atau zeitgeist anti-penjajahan. Mengutip Bung Karno, “musuh kita bukan lagi bangsa kulit putih, tetapi musuh kita adalah ideologi yang merusak.”
Baca Juga: Menyoal Omnibus Law: Tujuan dan Cara Etis
Pemuda hari ini perlu memaknai Sumpah Pemuda dalam kerangka kerja yang aktual, tidak lagi menjadikan isi dari peristiwa itu sebagai pamflet belaka, ada hal yang harus dipikirkan, pertanyaan-pertanyaan kritis perlu diajukan, untuk mengetahui makna di balik suatu peristiwa sejarah, agar kita tidak menjadi bangsa yang ahistoris.
Sumpah Pemuda 1928 adalah titik nol perstuan Indonesia, 92 tahun lalu kita memulai, sudah cukup tua, tetapi bukan sebuah keterlambatan apabila di kilometer yang tersisa;optimisme, nasionalisme, dan semangat pembangunan tanpa SARA harus terus dilanjutkan, setiap warga negara perlu menjiwai semangat ini, untuk Indonesia yang ramah bagi semua.
Penulis adalah Pengamat Sosial dan Pendidikan Magister Pendidikan Sejarah UNS