Jumat, Oktober 9, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Logika, Dialektika, dan Sistem Pendidikan Indonesia

Rohmat Faizin SP by Rohmat Faizin SP
Oktober 1, 2020
in Esai
0
Logika

Sumber: Unsplash.com

58
SHARES
340
VIEWS

Berbicara soal ilmu pengetahuan, secara otomatis saya berbicara mengenai konsep gaya bepikir juga. Karena tiada rotasi dari ilmu pengetahuan tanpa melibatkan konsep gaya pikir. Tan Malaka dalam madilog-nya membagi konsep gaya pikir dalam rotasi ilmu pengetahuan menjadi 2 fase, yaitu fase logika dan fase dialektika.

Kaki saya berjumlah 2 atau sepasang adalah kebenaran mutlak dan nyata. Jika saya menyatakan bahwa kaki saya berjumlah 4 atau 2 pasang, maka itu adalah salah mutlak dan tidak nyata. Pendeknya begini, jika dalam rotasi ilmu pengetahuan yang dicari adalah hasil akhir berupa benar atau salah. Maka saya berada dalam konsep gaya pikir fase logika.

TulisanTerkait

Kampus Bukan Ruang Teror: Pelecehan dan Ancaman terhadap Kebebasan Berekspresi Mahasiswa

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Saya adalah orang Indonesia berkulit hitam dan berpostur pendek, lalu ada pihak lain menyatakan bahwa saya bukanlah orang Indonesia berkulit hitam dan berpostur pendek. Melainkan orang Indonesia berkulit coklat dan berpostur sedang. Kemudian terjadilah kesepakatan antara 2 pernyataan kontradiksi tersebut. Kesepakatan inilah hasil akhir yang dicari dalam konsep gaya pikir fase dialektika.

Ringkasnya begini, ada 3 tahapan yang terjadi dalam konsep gaya pikir fase dialektika, yaitu tesis atau pernyataan pertama (orang Indonesia berkulit hitam dan berpostur pendek), lalu antitesis atau pernyataan kedua yang kontra terhadap pernyataan pertama (orang Indonesia berkulit coklat dan berpostur sedang), dan yang terakhir sintesis atau pernyataan terakhir yang menyepakati pernyataan pertama dan kedua. Sekaligus menjadi hasil akhir dari konsep gaya pikir fase dialektika.

Jadi apabila saya mencari hasil akhir berupa kemutlakan benar atau salah, maka saya berada pada konsep gaya pikir fase logika. Namun jika saya mencari hasil akhir berupa kesepakatan diantara pernyataan-pernyataan yang saling kontradiksi, maka saya berada pada konsep gaya pikir fase dialektika. Lebih lanjut lagi Tan Malaka menyatakan bahwa fase logika adalah fase pertama sebelum naik tingkat ke fase kedua, yaitu fase dialektika.

Bagi Tan Malaka, konsep gaya pikir fase dialektika adalah konsep ideal, efektif, sekaligus progresif dalam rotasi ilmu pengetahuan karena berupa pernyataan-pernyataan logika yang berkontradiksi satu sama lain. Untuk kemudian bisa tercipta sintesis-sintesis baru. Artinya berdialektika otomatis termasuk berlogika, tetapi berlogika tidaklah termasuk berdialektika.

Seusai memahami penjelasan Tan Malaka mengenai fase logika dan fase dialektika, sejujurnya saya pribadi selaku penulis menjadi tertarik sekaligus resah. Tertarik untuk mengkomparasikan dengan sistem pendidikan Indonesia yang berlaku saat ini, sekaligus resah karena merasa ada yang ganjil dengan sistem pendidikan yang berlaku saat ini.

Sistem Pendidikan Indonesia terfase dari si anak yang tidak tahu sesuatu lalu di sekolah dia pun diajari dan menjadi tahu akan sesuatu. Kemudian sesuatu yang telah diajarkan kepadanya akan diujikan 2 kali dalam satu semesternya, yaitu pada waktu tengah semester dan akhir semester. Tetapi si anak bisa dikatakan paham akan sesuatu yang telah diajarkan bukan karena dia mampu berdialektika, melainkan karena dia mampu berlogika.

Hal tersebut bisa disaksikan saat si anak ujian, yang mana instruksi yang diberikan adalah mencari jawaban yang benar alias hanya menyampaikan ulang apa yang sudah diajarkan. Jika disampaikan ulang sesuai dengan apa yang sudah diajarkan maka itu benar, jika tidak sesuai maka itu salah. Si anak tidak diberikan instruksi berupa beranalisis, berantitesis, berpendapat, maupun berargumen. Mencari benar atau salah berarti berada pada fase logika, sedangkan berantitesis, beranalisis, berpendapat, dan berargumentatif berarti berada pada fase dialektika.

Padahal prinsip kebenaran dalam rotasi ilmu pengetahuan adalah kebenaran yang seusai diuji tetap layak, yang dianggap sebagai kebenaran. Maksudnya begini, ada suatu hal yang dianggap benar dalam suatu paradigma, lalu timbul antitesis terhadap suatu hal tersebut. Jika antitesisnya gagal maka suatu hal tersebut masih layak dianggap sebagai kebenaran. Jika antitesisnya berhasil maka suatu hal tersebut tidak layak lagi dianggap sebagai kebenaran. Dan prinsip kebenaran seperti ini hanya bisa didapatkan pada fase dialektika.

Sedangkan pada fase logika tidaklah bisa didapati uji kebenaran, kebenaran yang diterapkan pada fase logika. Sifatnya mutlak, tidak bisa diganggu gugat, serta dibawah kendali. Berantitesis adalah terlarang dalam fase logika, kulturalisasi fase logikalah yang diterapkan dalam Sistem Pendidikan Indonesia saat ini. Akhirnya sistem Pendidikan Indonesia menghasilkan si anak dengan daya ingat yang kuat dan terlatih, karena mereka dituntut mengetahui kebenaran mutlak yang tidak diuji. Tetapi si anak tidak paham pengaruh tesis-antitesis-sintesis terhadap majunya peradaban khususnya ilmu pengetahuan.

Negara Israel sudah menerapkan kulturalisasi dialektika dalam sistem pendidikannya sejak dulu. Hasilnya, rata-rata setiap warga negara Israel memiliki 3 gelar doktoral, yaitu doktoral profesi, doktoral akademisi, dan doktoral agama. Serta tidak heran juga bahwa mereka adalah masyarakat dengan kuantitas paling minoritas didunia tetapi memiliki intelektualitas paling berkualitas didunia.

Negara Tiongkok berbeda lagi, produk-produk android yang mereka hasilkan dewasa ini telah menembus sebagian besar pasaran dunia. Hal tersebut merupakan hasil dari antitesis yang terus mereka upayakan terhadap produk-produk android terdahulu, yang berlanjut pada modifikasi. Sehingga dapat menghasilkan produk-produk android yang jauh lebih sempurna daripada sebelumnya.

Adapun proses antitesis terhadap produk-produk android terdahulu, yang berlanjut pada modifikasi termasuk penerapan kulturalisasi fase dialektika. Hasilnya, produk-produk android negara Tiongkok dapat bersaing cepat dengan produk-produk dari negara-negara maju dalam waktu relatif singkat.

Sebenarnya Indonesia sudah menerapkan kulturalisasi fase dialektika, tetapi dimulainya pada tingkat perguruan tinggi. Penerapan yang sangat terlambat jika dibandingkan dengan negara Israel dan negara Tiongkok, belum lagi jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya. Kalau kata orang Solo “lemot!”.

Editor: Muh. Saleh

 

 

Terkait

Tags: logikapendidikanTan malaka
Previous Post

Begini Ijtihad Muhammadiyah Menurut Ahmad Syafii Maarif

Next Post

Bumi Para Nabi yang Makin Tandus dari Nilai Kerohanian

Rohmat Faizin SP

Rohmat Faizin SP

Next Post
buya syafii kebijaksanaan

Bumi Para Nabi yang Makin Tandus dari Nilai Kerohanian

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.