Sikap toleransi merupakan sikap individu atau kelompok masyarakat dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap toleransi menurut Buya Hamka artinya menerima dengan penuh kesabaran dan tanpa adanya sikap protes terhadap sikap individu atau kelompok lain yang memiliki identitas yang berbeda dengan kelompok tersebut.
Sikap toleransi juga dapat diartikan sebagai saling menghormati, saling melindungi, dan kerjasama dengan individu atau kelompok lain.
Sebagai negara multikultural, Indonesia tidak bisa lepas dari yang namanya saling menghormati dan sikap toleransi. Upaya tersebut dilakukan agar membentuk Indonesia yang satu, terhindar dari berbagai pertikaian dan konflik dalam masyarakat. Yang tersimpul dalam kata “Bhenika Tunggal Ika” (semangat kebhinekaan).
Kemajemukan Indonesia memiliki kekhasan sendiri, dari sekian banyak penduduk, ras, suku, dan bahasa, bisa interaktif dan berdampingan. Dalam mewujudkan hal tersebut tentu ada upaya dan proses yang panjang demi tercapainya kesatuan bangsa, baik melalui perundingan, musyawarah, dan lain sebagainya.
Kebhinekaan dan Pluralitas Agama
Sikap memiliki kerukunan untuk menjunjung tinggi persatuan dalam keberagaman di Indonesia lazimnya sudah digalakan sejak terbentuknya negara ini. Hal ini terlihat beberapa tindakan yang dilakukan oleh pemerintah sebagaimana yang dilakukan oleh presiden Soeharto pada acara pertemuan dialog antar agama kala dulu.
Pada pertemuan tersebut terlihat sangat jelas, bagaiamana agama yang satu dengan agama yang lain bisa saling memahami dan mengerti dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Sehingga menurut Buya Hamka pertemuan itu layak dikatakan berhasil mempersatukan keberagaman yang ada atau kebhinekaan. Sehingga dengan upaya tersebut sampai saat ini masih tetap terjaga sikap toleransi dalam beragama.
Baca Juga: Refleksi Kemerdekaan Indonesia: Nasionalis Sekaligus Bersyari’at
Di samping terjalinnya sikap toleransi yang harmonis, tidak bisa dipungkiri pula akan terjadi yang namanya sikap intoleransi dalam masyarakat. Terjadinya sikap saling mengintimidasi satu sama lain, baik antar agama, suku, ras, dan lain sebagainya. Sikap ini terjadi karena adanya sikap intoleran dalam masyarakat.
Selain itu pula pengaruh mayoritas dan minoritas juga menjadi salah satu sebab munculnya sikap intoleran dalam masyarakat. Kewenangan yang awalnya menjadi prioritas kelompok yang mayoritas, seolah-olah berbalik arah menjadi saling mengitimidasi antara satu dengan yang lain.
Agama Sebagai Solusi dan Pemersatu Umat
Selanjutnya penulis mengambil sebuah wacana bahwa agama seharusnya menjadi alternative untuk menyatukan umat, agama juga menjadi solusi dalam menyelesaikan problematika umat saat ini. Namun fenomena keagamaan akhir-akhir ini seakan-akan menegaskan momen kritis dalam menghadapi persoalan umat.
Bahkan agama saat ini seolah-olah justru menjadi bagian dari pemicu persoalan, daripada menyelesaikan persoalan dan permasalahan yang ada. Seperti klaim kebenaran di tunjukan kepada masyarakat luas, sehingga tampak beberapa aksi dalam masyarakat yang apatis dengan pemahaman masyarakat lainnya.
Al-Qur’an sebagai kitab suci yang turun di tengah-tengah masyarakat anti Islam yang tidak kenal dengan Islam, memberikan gambaran bagaimana sejatinya menjalin hubungan dengan agama lain. Terdapat beberapa ayat yang menjelaskan bagaimana sikap seorang muslim terhadap non muslim, dan bagaimana sikap Islam yang mayoritas dengan agama yang minoritas.
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapayang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 226)
Toleransi Artinya Menurut Buya Hamka
Terkait fenomena-femonena tersebut, penulis tertarik untuk menganalisis lebih lanjut terkait toleransi yang dibangun oleh Al-Qur’an. Pada kali ini saya ingin mengambil konsep toleransi dari kacamata seorang ulama dan mufassir yang bernama BuyaHamka dalam tafsirnya al-Azhar.
Dari penjelasan di atas, toleransi artinya merupakan masalah yang krusial di masyarakat yang seharusnya ditanam dan dipupuk dalam kehidupan berbhineka. Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar. Dan tafsir al-Azhar merupakan karya seorang ulama nusantara yang merupakan bagian dari masyarakat dan negara tersebut tentunya memiliki peran penting dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.
Baca Juga: Anhar Gonggong: Apa yang Tidak Diberikan Muhammadiyah Kepada Bangsa?
Dalam penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat yang berbicara terkait toleransi lebih memberi nuansa kesalehan sosial. Diantaranya adalah lebih mementingkan kemaslahatan umat agar terjalinnya hubungan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Baik itu dengan orang yang berbeda agama, suku, dan ras. Buya Hamka cenderung bersifat Humanis-Fungsional.
Toleransi Secara Esensial
Secara esensial, sikap toleransi yang dibangun dalam penafsiran beliau mengarah kepada ranah sosial dan ranah keagamaan. Dalam bersosial toleransi itu dibangun dalam pergaulan sehari-hari dengan mengedepankan sikap saling menghormati dan menghilangkan sikap rasisme yang mengucilkan kelompok lain yang berbeda (semangat kebhinekaan).
Sedangkan dalam ranah keagamaan itu sendiri, Buya Hamka membatasi toleransi artinya halnya pada ranah pergaulan sosial. Beliau menolak keras toleransi yang berhubungan dengan keimanan. Dalam artian beliau sangat menolak jika terjadi toleransi dalam hal keagamaan. Wallahu’alambissawab.
Ilustrasi: detiknews.com