Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Percikan-Percikan Pemikiran Cak Nur

Ilham Sopu by Ilham Sopu
Agustus 8, 2020
in Sosok
0
Selama periode ini pula Cak Nur menjadi peserta yang paling aktif dari kelompok-kelopok diskusi. Salah satu kelompok diskusi itu adalah Yayasan Samanhudi

Selama periode ini pula Cak Nur menjadi peserta yang paling aktif dari kelompok-kelopok diskusi. Salah satu kelompok diskusi itu adalah Yayasan Samanhudi

38
SHARES
223
VIEWS

Membaca Nurcholis Madjid yang biasa disapa Cak Nur khususnya dalam pemikiran Islam, dibutuhkan suatu pembacaan yang holistik. Diawal kemunculannya dalam dunia pemikiran Islam. Beliau banyak disalah pahami, dituduh sangat liberal bahkan ada yang menuduh sesat. Cak Nur memang lebih dikenal sebagai tokoh pembaharu dipemikiran Islam. Sekalipun Cak Nur kalau dibaca latar belakang pendidikan dimulai dari pesantren tradisional, Darul Ulum Jombang kemudian pindah ke pesantren modern gontor.

Kemudian  lanjut ke IAIN Syarif hidayatullah mengambil jurusan sejarah kebudayaan Islam kemudian lanjut ke Amerika. Kalau kita membaca Cak Nur secara holistik mungkin tidak akan timbul kesalapaman terhadapnya. Namun kebanyakan dari tokoh-tokoh yang mengkritisi Cak Nur itu tidak terlalu paham jalur pemikiran  Cak Nur. Penilaian mereka terhadap Cak Nur sangatlah parsial, mereka lebih banyak dipengaruhi hawa nafsu. Namun sudah menjadi hal yang lumrah bahwa setiap ada pembaharu yang muncul, pasti akan timbul kontroversi.

TulisanTerkait

Cahaya dari Pesisir: Menelusuri Jejak Intelektual Ahmad Dahlan dan Kartini dalam Arus Pembaruan Bangsa

Kursi Roda, Saksi Bisu Perjuangan Ahmad Yasin Melawan Kedzaliman Israel

Buya Hamka: Pena, Iman, dan Perjuangan Seorang Ulama

Mengutip Buya Syafii Maarif, seorang teman Cak Nur di Amerika waktu belajar Islam kepada Fazlur Rahman, yang juga mantan ketua PP Muhammadiyah, mengatakan “Setiap pembaru dimanapun di muka bumi ini, hampir pasti dilawan, dicacimaki, dan dimusuhi. Tetapi ajaibnya diam-diam  diikuti. Ini juga berlaku atas Nurcholish Madjid yang telah bekerja keras untuk mengawinkan keislaman dan keindonesiaan”.

Cendekiawan Muslim Modern

Cak Nur salah satu tokoh cendekiawan muslim yang berhasil mengawinkan ilmu-ilmu klasik Islam dengan ilmu-ilmu kemoderanan, dianggap kontrversial karena kadang dia membongkar suatu kemapanan dalam pemikiran Islam pada masa klasik. Dengan menterjemahkan ulang di masa modern dan tetap tidak meninggalkan yang klasik. Karena penguasaannya yang sangat mendalam terhadap kitab-kitab klasik yang menjadi referensi kaum santri.

Ditambah dengan penguasaannya terhadap ilmu-ilmu sosial yang merupakan ciri khas kemoderenan, sehingga dia berhasil mengawinkan terhadap kedua ilmu tersebut. Cak Nur diterima oleh tokoh-tokoh elit antara kedua organisasi terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah.

Baca Juga: Nucrholish Madjid: Martir Pembaharuan Islam

Dalam term yang menjadi landasan orang NU dikatakan “Al Mufadzatu alal qadiimissalih wal akhdzu bi ljadidil aslah“. Memelihara hal-hal klasik yang dianggap baik dan mengambil hal-hal yang baru yang lebih baik. Itu term yang dicoba diterjemahkan ulang Cak Nur dalam dunia modern saat itu.

Kita bisa melihat siapa siapa yang menjadi model tokoh yang membentuk Cak Nur. Cak Nur lahir dari keluarga Kyai, dan menimbah ilmu ilmu tradisional atau ilmu ilmu alat dari Kyai kampung, tapi dalam proses perkembangan mereka lebih banyak dipengarui oleh tokoh tokoh modernis, mulai dari M Natsir, Buya Hamka, Abd Hamid Hakim, dan tokoh sekaliber Fazlur Rahman, seorang cendekiawan ternama dari pakistan yang hidup di amerika. Cak Nur juga banyak mengutip ulama besar yang menjadi rujukan ulama wahabi yakni Ibnu Taimiyah.

Wawasan yang Luas

Kalau kita merujuk ke pembagian ilmu-ilmu keislaman yang dicoba diklasifikasi oleh Prof Harun Nasution dalam bukunya Islam ditinjau dari berbagai aspek, ada aspek teologi, aspek hukum, aspek filsafat, aspek sejarah,mistisisme atau tasauf dan aspek pembaharuan.

Cak Nur adalah masuk dalam kategori penguasaan terhadap filsafat Islam dan pembaharuan pemikiran Islam, walaupun ilm- ilmu lainnya tidaklah asing baginya. Misalnya aspek teologi, Cak Nur disebagian karyanya banyak mengupas konsep-konsep eskatologis tentang keimanan.

Pendekatan-pendekatan dalam mengupas teologi Islam diramu dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, itu karena penguasaan grammar bahasa arab dan linguistiknya sangat ia kuasai. Sehingga dengan mudah dia menterjemahkan teologi yang begitu rumit dengan polesan penjelasan yang sifatnya kekinian dan mudah dipahami. Dalam satu bukunya “Pintu-pintu menuju Tuhan“, salah satu buku yang cukup bergizi, ada kumpulan kumpulan tulisan  yang mengupas berbagai ajaran ajaran dasar Islam,dengan penjelasan yang singkat, bermakna dan mudah dipahami.

Disitu Cak Nur mengupas tentang makna iman yang dinamis, dicoba dikaitkan dengan term amanah dan term aman, ketiganya asal kata yang sama, artinya bahwa seorang yang beriman yang benar mestilah dia seorang yang amanah, dan orang ada disekitarnya seharusnya ada rasa aman dilingkungannya. Begitulah Cak Nur dalam mengupas  berbagai persoalan keagamaan, dia sangat kaya dengan dengan berbagai konsep-konsep kunci tentang wawasan keislaman.

Hilangkan Kepalsuan dalam Memaknai Tauhid

Begitupun ketika mengupas tentang Tauhid  ajaran yang sangat prinsipil dalam Islam. Cak Nur tidak mengupas dengan pendekatan konvensional yang kaku. Dia mencoba menterjemahkan dengan pendekatan yang humanis, tanpa meninggalkan akar tauhid yang bisa menjerumuskan manusia dalam perbuatan syirik. Dia sangat mengedepankan visi kemanusian dalam ajaran tauhid, bahwa manusia itu adalah makhluk yang terdepan diantara makhluk makhluk ciptaan Tuhan.

Dalam pengamatan Cak Nur, jangan sampai manusia jatuh dalam hal hal yang sifatnya tidak substantif padahal pada dirinya terdapat potensi yang sangat berharga. Semua makhluk memberi penghormatan kepada manusia ketika Adam diciptakan oleh Tuhan. Artinya bahwa manusia punya kapasitas modal yang sangat besar. Malaikatpun makhluk yang terdekat kepada Tuhan juga harus memberikan penghormatan kepadanya karena kapasitas memori seorang Adam lebih diatas dari pada malaikat.

Baca Juga: Yudi Latif: Peta Kebahagiaan Masyarakat Indonesia

Itulah yang digambarkan Cak Nur ketika mencoba memberikan interpretasi terhadap kalimat tauhid. Dalam memaknai tauhid Cak Nur mencoba memberikan peringatan kepada kita. Supaya membebaskan nilai-nilai kepalsuan yang disimbolkan “laa illaha”. Atau membebaskan diri kita terhadap kepercayaan yang palsu yang tidak memberikan nilai nilai eskatologis kita ke depan yaitu hari akhir. Lalu menenkankan kalimat sesudahnya yakni “illallah” sebagai afirmatif atau penegasan bahwa Allahlah Tuhan yang sebenarnya.

Itulah sekelumit percik percik pemikiran yang dapat diramu, yang tentu saja, penulis sangat tidak punya kapasitas yang memadai untuk membincang tentang Cak Nur. Seorang tokoh besar pembaharuan Islam yang dimiliki Indonesia. Tulisan ini kami persembahkan untuk haul Cak Nur yang ke-15. Mudah-mudahan banyak tokoh-tokoh yang bisa melanjutkan visi Islam yang digaungkan oleh Cak Nur, sebagai tokoh inklusif, moderat, pluralis, dalam visi keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan.

Terkait

Tags: cak nurCendekiawan ModernPembaruanTauhid
Previous Post

Politisi Milenial: Paradoks Demokrasi dan Politik Dinasti

Next Post

Kontestasi Pemimpin Dermawan

Ilham Sopu

Ilham Sopu

Next Post
YDSF: Lembaga Amil Zakat yang Peduli Rakyat

Kontestasi Pemimpin Dermawan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.