Politisi milenial hadir. Demokrasi dipertaruhkan. Tapi apa juga salah jika anak turun mewarisi tradisi politik keluarga? Bukankah kalah menang ditentukan oleh pilihan rakyat, tentang siapa yang layak memimpin. Tidak penting calon pemimpin darimana berasal. One man one vote. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Demikian demokrasi mengajarkan cara memilih.
Saya dan ratusan kiai yang lain juga menurunkan tradisi santri kepada anak cucu. Lantas salahkah jika Pak SBY mewariskan partai Demokrat kepada AHY putranya. Bu Mega kepada Puan. Pak Amien kepada putranya meski gagal berebut dengan besan sendiri. Jadi tak perlu di soal anak siapa maju menjadi apa. Ini demokrasi.
Jadi apa yang kita sebut dengan demokrasi? Apakah definisi konvensional Plato, kekuasaan rakyat yang diwakilkan masih relevan. Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Definisi Abraham Lincoln waktu pidato di Gettysburg masih dipakai atau hanya jargon untuk membungkus paradoks demokrasi yang berubah sesuai sepakat politik?
Penguasanya adalah rakyat. Berkuasa untuk memilih. Bukan berkuasa memerintah. Juga bukan berkuasa menentukan nasibnya sendiri. Bahkan tak kuasa menentukan berapa harga se biting (satu buah) suara yang ia punya.
Tapi Indonesia adalah negara demokrasi terbesar, lebih besar dibanding Turkey, Iran, Korea atau serumpun Malaysia. Dan tak perlu dibandingkan dengan dinasti kerajaan Saudi Arabia atau carut marut mayoritas monarki timur tengah. Apalagi negara-negara kecil Afrika. Jelas Indonesia lebih berkelas.
Indonesia jauh lebih baik, lebih dinamis dan lebih stabil. Geopolitik Indonesia nyata lebih kuat dan menakutkan barat. Penduduk besar, dengan wilayah darat dan laut yang luas.
Bahkan Indonesia adalah satu-satunya negara yang tak mempan embargo. Sumber daya alamnya berlimpah, rakyatnya tidak bergantung pada siapa rezim berkuasa. Prof William Lidle seorang Indonesianis memberikan banyak bukti dalam berbagai risetnya.
Milenial melawan hampir di semua lini. Sehingga pernah dikatakan bahwa milenial itu kill everything. Membunuh semuanya. Apanya yang dibunuh? Yang dibunuh adalah generasi di atasnya. Memangkas sistem yang ribet karena dianggap tidak berpihak. Milenial menganggap generasi di atasnya tidak cool. Tidak keren. Semua sistemnya bakal diubah, termasuk politik berikut semua perangkatnya tanpa kecuali.
Mileneal sudah punya definisi sendiri tentang demokrasi, politik, partai, kesejahteraan bahkan keadilan yang mereka inginkan. Yang mungkin saja berbanding terbalik dengan definisi yang kita anut. Milenial adalah perubahan itu sendiri. Ada partai yang siap dengan perubahan tapi tidak sedikit yang mempertahankan status quo. Realitas nya: Diterima atau ditolak akan tetap datang natural.
Editor: Yusuf