Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Dakwah Aksara Haji Muhammad Misbach

Raha Bistara by Raha Bistara
Agustus 1, 2020
in Sosok
0
Dakwah Aksara Haji Muhammad Misbach
25
SHARES
149
VIEWS

Abad ke-XX menjadi abad melek aksara bagi masyarakat Nusantara khususnya masyarakat Jawa. Melek aksara ini ditandai dengan banyaknya orang-orang pribumi yang sekolah di HBS serta begitu banyaknya media cetak yang muncul dipermukaan salah satunya Medan Moeslimin dan Islam Bergerak. Kedua media cetak tersebut dijadikan sebagai jalan dakwah Aksara bagi Haji Muhammad Misbach dalam gerakan perlawanan melawan bentuk feodalisme dari para penjajah.

Karier Intelektual Haji Muhammad Misbach

Di Surakarta, Jawa Tengah, muncul seroang berlabel “Haji” tetapi ia pada umumnya berbeda dengan “Haji” waktu itu, yaitu Haji Mohammad Misbach. Walaupun tidak sepopuler HOS Cokroaminoto dan Soekarno, Misbach adalah sosok yang berperan penting dalam sejarah pergerakan Indonesia. Ia dilahirkan pada tahun 1876 di Kauman, Surakarta dan meninggal pada 24 Mei 1926 di Manokwari.

TulisanTerkait

Cahaya dari Pesisir: Menelusuri Jejak Intelektual Ahmad Dahlan dan Kartini dalam Arus Pembaruan Bangsa

Kursi Roda, Saksi Bisu Perjuangan Ahmad Yasin Melawan Kedzaliman Israel

Buya Hamka: Pena, Iman, dan Perjuangan Seorang Ulama

Sebagai warga kauman, ia pernah mengeyam pendidikan di pesantren, namun ia juga mendapat pendidikan Bumi putera Angka Dua. Ia tidak mengerti bahasa Belanda bahkan tidak memiliki kawan-kawan Belanda. Sebaliknya justru ia fasih dalam berbahasa Arab.

Baca Juga: Kolaborasi Islam Berkemajuan, Budaya Nusantara dan Pancasila

Dengan kefasihannya ini kemudian ia masuk dalam organisasi Inlandsche Jaournalisten Bond (IJB) yang didirkan Mas Marco Kartodikromo pada 1914, lalu bergabung dengan Sarekat Islam (SI). Sifatnya yang pandai bergaul membuat ia mudah diterima di lingkungan yang baru sekalipun. Ia juga tidak membedakan-bedakan si kaya dengan si miskin, tua ataupun muda.

Dijuluki Haji Merah

Haji Merah gelar yang disematkan kepada Muhammad Misbach tidak lain dan tidak bukan karena dari ajarannya yang memadukan perintah al-Quran dan Sunnah dengan ajaran Marxis. Misbach berkeyakinan bahwa ajaran Islam sama dengan ajaran Marxis.

Karena sama-sama menolak ketidakadilan, perbudakan, korupsi, feodalisme, kolonialisme dan sebagainya. Situasi pada saat itu sangat tidak menguntungkan bagi kaum kelas pekerja (proletar) yang dilakukan oleh para pemilik modal baik dari kalangan ningrat, muslim, dan adiminstrator pemerintahan.

Ajaran Islam sangat mudah dipahami dan benar sekali bagi orang yang memilki hati yang bersih dan pikiran yang jujur. Itu sebabnya ajaran Islam mudah dijalankan bagi orang-orang yang mendayagunakan akalnya.

Karena agama Islam cocok dengan akal dan pikiran. Begitu juga dengan ajaran Karl Marx yang mengedepankan rasionalitas bagi para pengikutnya, Marxisme akan mudah dipahami dan diajarkan ketika mendayagunakan akal dengan baik dan pikiran dengan jujur.

Dengan begitu tidak ada pertentangan antara ajaran Islam dengan Marxisme. Jadi teranglah sudah cita-cita Komunis ada termaksud dalam cita-cita Islam. Kaum Islam yang sejati harus merasa wajib menguatkan cita-cita dan sikapnya kaum komunis tentang aturan dan pergaulan hidup dalam dunia bersama (Misbach, 1924).

Kritik Misbach Atas Organisasi Lain

H.M. Misbach sangat mengkritik keras bagi siapa saja yang bersifat tidak adil terutama bagi organisasi yang berazaskan agama seperti: SI (Sarikat Islam), Muhammadiyah, P.P.K.D, Jamiatul Khasanah, dan lain sebagainya.  Apalagi mereka yang menggunakan organisasinya untuk kepentingan pribadi, seperti halnya H.O.S Cokroaminoto.

Dalam pandangan asasi, Islam menganggap kepentingan masyarakat melebihi kepentingan perseorangan (O.Hashem, 1995). Sedangkan Cokro bagi Misbcah menggunakan SI untuk kepentingan dirinya sendiri dan colonial bukan untuk kepetingan rakyat.

Fenomena yang terjadi di zaman sekarang ialah mereka yang menggunakan gelar Haji atau gelar yang lainnya seperti sayyid hanya dijadikan topeng semata untuk menindas sesame muslim yang dianggap tidak sepadan dengan dirinya.  Dikarenakan ada sebuah kesenjangan antara muslim satu dengan muslim yang lain. Padahal dalam ajaran Islam semuanya sama tidak ada yang dibeda-bedakan kecuali dari kadar ketakwaan seseorang. Begitu juga dalam komunisme semuanya sama, sama rasa sama rata tidak ada yang dibeda-bedakan.

Dakwah Aksara Muhammad Misbcah

Sebagai seorang muslim yang taat terhadap perintah Tuhan-Nya Misbach yang dibesarkan di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta tentunya tidak bisa meninggalkan ajaran-ajaran yang ada di dalam al-Quran dan Sunnah Nabi. Ia mendakwahkan ajaran Islam bukan hanya melalui jalan social saja tetapi juga dengan jalan intelektual dengan mendirikan lembaga penerbitan Islam yakni Surat kabar Medan Moeslimin dan Islam Bergerak.

Pendirian media cetak ini disebabkan adanya kesadaran dalam diri Misbach terhadap fenomena yang terjadi pada saat itu. Ia sadar umat Islam akan tertinggal ketika hanya bergantung dengan cara-cara yang bersifat tradisional tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Untuk itu cara-cara modern seperti pembuatan media cetak surat kabar di atas menjadi solusi yang tepat untuk menjawab problematika ummat di zaman modern awal.

Ulama dan Intelek

Sebagai seorang ulama Misbach juga dikenal sebagai intelektual ulung, terlihat dari tulisan-tulisannya dalam surat kabar Medan Moeslimin. Pemikirannya yang tertuang dalam Medan Moeslimin sangat terlihat jelas ia tidak menyukai adanya ketidakadilan dalam tubuh pribumi khusunya umat muslim. Kapitalisme salah satu musuh bagi seorang intelektual religius tersebut.

Ia mengatakan dunia kemiskinan disebabkan adanya kapitalisme.  Kapitaslisme ialah mencari keuntungan bersama yang dilakukan oleh segelintir orang saja. Kemiskinan disebabkan karena adanya isapan dan tindasan dari kapitalisme (Misbach, 1925). Terlihat jelas kapitalisme sebagai musuh yang paling nyata di dunia dan sangat dibenci oleh Misbach dalam propagandanya di Surat kabar.

Baca Juga: Mencari Teman Ideal Versi Imam Al-Ghazali

Adanya kapitalisme dalam tubuh umat muslim dikarenakan ia tidak benar-benar mengamalkan ajaran yang dibawa nabi Muhammad. Nabi sangat melarang adanya dunia kapitalis. Nabi mengajarkan kesejahteraan untuk sesamanya tanpa memandang bulu. Namun, bagi mereka umat Islam yang melakukan dunia kapitalis disebabkan karena menyalahgunakan ajaran Islam untuk kepentingan pribadi.

****

Dan mereka salah menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad melalui tangan Jibril. Mereka menafsirkan ayat-ayat al-Quran itu bersifat teologis bukan bersifat humanis (Hassan, 2000) yang  menyebabkan mereka membabi buta memeras di antara sesama.

Medan Moeslimin menjadi alat ampuh untuk berdakwah kepenjuru pelosok negeri yang bertujuan melawan kaum kapitalis. Semua golongan bisa membaca surat kabar tersebut tanpa terkecuali baik dari golongan bawah, menengah, sampai golongan atas. Gerakan intelektual ini tidak lain hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang dikuasai oleh kaum kolonial di mana menguasai seluruh Nusantara demi kepentingan dirinya dan kemajuan negaranya.

Misbach ingin menunjukkan bahwa Medan Moeslimin bisa menggerakkan kaum bumi putera yang tertidur asyik oleh selimut-selimut kaum kolonial.

Memimpin Dua Media Massa

Ada dua Surat kabar yang langsung dipimpin oleh H.M Misbcah yang satu Medan Moselimin dan yang satunya lagi Islam Bergerak. Surat kabar ini (Islam Bergerak) dulu di kepalai oleh Soerjosasmojo tetapi ia tidak kuat menahan perselisihannya dengan Harsoloemakso.

Akhirnya Islam Bergerak diambil alih oleh Misbach sendiri. Sikap Islam Bergerak sama seperti Medan Moeslimin tidak memandang bangsa dan tidak memandang siapapun juga, jika sikapnya tidak sesuai dengan kebenaran maka dia akan dikritik habis-habisan, terutama umat muslim.

****

Sebagai surat kabar yang berazaskan keislaman Medan Moeslimin dan Islam Bergerak sudah dipastikan ingin memberantas orang-orang muslim yang tidak sesuai dengan ajaran al-Quran dan Sunnah. Mereka yang memperkaya dirinya sendiri dengan mengatasnamakan agama sudah pasti namanya akan muncul di dua surat kabar itu seperti halnya Cokroaminoto.

Baca Juga: Momen Idul Adha, Momen Untuk Berbakti Kepada Orang Tua

Sebagai seorang muslim tentunya kita harus selalu “membaca” seperti halnya perintah ayat suci al-Quran yang pertama kali turun. Membaca berarti harus memahami, menelaah dan mempraktikan.

Kebanyakan sekarang mereka hanya membaca saja tanpa memahami yang mengakibatkan mereka terjerumus dan mudah menyalahkan golongan yang tidak sesuai atau pemahaman yang tidak sejalan dengan dirinya. Haji Misbach menginginkan umat muslim tidak sesat pikir dalam melihat realita yang dihadpainya dan tidak mudah menyalahkan sesamanya ketika mereka berbeda dengan dirinya.

Ilustrasi: Tirto.Id

Terkait

Tags: Haji MisbachIslamKetidakadilanKolonialismekomunismePenjajahan
Previous Post

Momen Idul Adha, Momen Untuk Berbakti Kepada Orang Tua

Next Post

Azra: Pendidikan Islam Adalah Sistem Pendidikan Terbesar di Dunia

Raha Bistara

Raha Bistara

Penulis adalah Aktivis dan Pegiat Literasi Essay dan Artikel

Next Post
Azra: Pendidikan Islam Adalah Sistem Pendidikan Terbesar di Dunia

Azra: Pendidikan Islam Adalah Sistem Pendidikan Terbesar di Dunia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.