Benarkah Kiai Dahlan lewat pergerakan Muhammadiyah telah menghapus kelas-kelas sosial dalam agama, sehingga melahirkan komunitas berbentuk persarikatan yang egaliter, demokratis dan setara?
Jika tesis ini benar, maka Kiai Dahlan sesungguhnya adalah penganjur sosialisme Islam yang kuat berpengaruh dan berhasil dengan spektakuler. Di Muhammadiyah tidak lagi dijumpai pemisahan ulama dan umat yang secara vertikal berbatasan dan secara horizontal tidak sebanding. Semua setara tidak ada batas, membaur dalam sebuah kelas komunal.
Kiai Dahlan bukan hanya konseptor atau penganjur sosialisme Islam yang cerdas lagi brilian, tapi sekaligus seorang praktikus sosialisme Islam modern melebihi Marx, Hegel, Feurbach, Syariati, Arkoen Mohammad, atau Hubermans. Mereka hanyalah tokoh-tokoh sosialis macan kertas yang tidak pernah berhasil mewujudkan gagasan dan idenya.
Bandingkan pula dengan NU, LDII, HTI atau FPI dimana peran dan fungsi ulama, kyai, habib sangat dominan dan berpengaruh terhadap setiap pengambilan kaidah hukum dan muamalah. Baik bersangkut urusan individual atau kolektif. Pada perkumpulan ini kelas agama masih sangat dominan.
****
Kyai Dahlan dengan jenius mengkonversi sosialisme Islam dalam watak teologis yang kuat. Islam menjadi sandaran utama pergerakan dan rakyat kecil yang tertindas menjadi fokus gerakan.
Pun dengan teologi al-Maaun yang juga mendasari pemikiran sosialisme Kyai Dahlan. Al-Ma’un dijabarkan dalam bentuk keberpihakan kepada rakyat atau proletar yang ditindas dan dimiskinkan dan tidak punya akses. Gerakan filantropi adalah puncak sosialisme Islam yang realistis dan faktual hidup dalam jiwa setiap jamaah persyarikatan.
“Setiap orang akan bekerja sesuai kemampuan dan mendapatkan upah sesuai kebutuhan”. Rumus ini tak selamanya bisa dipandang benar bila dikonversi dengan firman Allah swt: “Barangsiapa berbuat baik maka kebaikan itu untuk dirinya sendiri dan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.”
Peter Hudi seorang pemikir sosialis Barat mutakhir menyatakan bahwa setiap individu menerima kompensasi berdasar waktu kerja aktual yang mereka curahkan. Terlepas profesi masing-masing. Karena tidak ada dua individu yang sama persis dan mereka bebas menentukan banyak atau sedikitnya kerja mereka, maka beberapa menerima kompensasi lebih besar dari yang lain atau sebaliknya.
****
Kelas dihapuskan, namun ketidaksetaraan tetap ada. Penerapan standar yang sama (waktu kerja aktual) terhadap individu yang tidak sama menyebabkan kompensasi yang tidak sama. Marx tak pernah berpegang pada gagasan vulgar bahwa dalam “sosialisme” setiap orang mendapat jumlah yang sama.
baca juga: Apakah Musim Kemarau Toleransi Datang Lagi
Sementara Soekarno salah seorang penganjur Marhaenisme lantang berkata: “Perjuangan untuk rakyat itu Bung, bukan narsisme, bukan untuk nampang, untuk jadi pahlawan, bukan untuk diliput media. Perjuangan untuk rakyat adalah kerja tekun, gigih, tanpa tepuk tangan.”
Kajian pemikiran Kyai Dahlan sangat menarik, meski jarang mendapatkan perhatian. Sebab sebagian besar telah hanya fokus pada amal usaha Muhammadiyah (AUM) sebagai buah sosialisme Islam yang meninabobokan para pengikutnya tanpa kata tapi.
Editor: Yusuf R Y