Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Pertarungan OSIS Melawan Radikalisme di Indonesia

RedaksiKS by RedaksiKS
Maret 4, 2021
in Report
0
Pesantren Salafi Melawan Radikalisme
32
SHARES
188
VIEWS

Kalimahsawa.id – Pada tahun 2018, MAARIF Institute mengeluarkan laporan hasil penelitian Convey Report dengan judul “OSIS Mendayung di Antara Dua Karang: Kebijakan Sekolah, Radikalisme, dan Inklusivisme Kebangsaan”. Penelitian ini adalah program yang dilaksanakan oleh MAARIF Institute, PPIM UIN Jakarta, dan UNDP Indonesia. Berbicara tentang geliat radikalisme di Indonesia, khususnya di lingkungan OSIS.

Geliat OSIS di Solo

Menurut penelitian ini, infiltrasi paham keagamaan masuk ke dalam tubuh OSIS melalui tiga pintu. Yaitu alumni, guru, dan kebijakan (kepala) sekolah. Di Surakarta, OSIS yang ada di sekolah-sekolah negeri, yang membidangi keagamaan kerap menjadikan alumni sebagai role model. Sikap keberagamaan alumni ini kemudian menjadi ideal yang harus dicapai oleh pengurus OSIS. Alumni-alumni tersebut berpaham salafi, sehingga corak kegiatan yang diadakan oleh OSIS di Surakarta juga bercorak salafi, dan dibina oleh orang-orang salafi secara langsung, seperti kegiatan Studi Islam Intensif (SII).

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Para alumni Rohis di Surakarta bergabung dalam sebuah wadah bernama Komunitas Remaja Ilmiah. Komunitas ini aktif memberikan pendampingan untuk Rohis-Rohis di sekolah-sekolah negeri daerah Surakarta. Paham keagamaan komunitas ini bercorak tarbiyah, sebuah paham Islamisme politik yang menyebarkan ide-ide tokoh Ikhwanul Muslimin seperti Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb.

Ada satu SMAN di Surakarta yang OSISnya bercorak salafi. Salafi sering diartikan dengan paham keagamaan tekstual yang bersumber dari ulama-ulama Saudi, dengan kekuatan sanad dan riwayat sebagai kerangka utama keagamaanya, dan meniru kebiasaan tiga generasi pertama Islam dalam perilaku sehari-hari. Sedangkan SMAN dan MAN yang lain lebih banyak bercorak tarbiyah.

Geliat OSIS Sukabumi

Di Kabupaten Sukabumi, para alumni OSIS bidang Kerohanian banyak yang tergabung dalam Qur’anic Club (QC). QC juga bercorak tarbiyah. Organisasi yang didirikan oleh Bupati Sukabumi ini disinyalir karena adanya kontrak politik antara bupati dengan partai pendukung. Selain itu, para alumni juga bergabung dan berafiliasi kepada sebuah sekolah tinggi Islam yang bercorak salafi wahabi.

Menurut penelitian ini, alam pikiran OSIS di sekolah-sekolah negeri Sukabumi memiliki tiga corak utama, yaitu tarbiyah, salafi wahabi, dan NKRI bersyariah. NKRI bersyariat adalah gagasan mengenai perlunya menerapkan hukumhukum Islam melalui perda syariah dan islamisasi birokrasi. Pancasila tetap sebagai dasar negara namun yang diterapkan bukan hukum positif-pidana perdata. Tiga corak utama ini cukup dipengaruhi oleh alumni yang berafiliasi ke QC maupun ke salah satu sekolah tinggi Islam.

Geliat OSIS Padang Melawan Radikalisme di Indonesia

Di Padang, OSIS bercorak salafi dan bersifat sangat puritan. Hal ini juga dipengaruhi oleh alumni. Rujukan utama mereka adalah Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyyah. Corak keberagamaan ini yang relatif sering memberikan stempel bid’ah terhadap pola keberagamaan tradisionalis yang sudah mendarah daging di Indonesia.

Para alumni Rohis sekolah ini tergabung dalam Forum Osis Nasional (FON) dan Assalam. FON adalah asosiasi OSIS tingkat nasional yang memiliki asosiasi politik dengan kelompok Tarbiyah. Sedangkan Assalam merupakan sebuah Asosiasi Pelajar Islam yang menjadi tempat berhimpun aktivis Rohis se-Sumatera Barat. Assalam dibentuk oleh Lembaga Pembinaan Pelajar Muslim (LPPM) melalui Musyawarah Rohis SLTP dan SLTA se-Sumatera Barat tanggal 27 Oktober 1999 di Masjid Nurul Iman Kota Padang.

Dalam penelitian ini dituliskan bahwa secara orientasi keagamaan, aktivis Assalam lebih dekat dengan kelompok Tarbiyah dan Salafi. Secara afiliasi politik, Assalam lebih dekat dengan kelompok Tarbiyah karena diampu oleh para aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Bahkan kegiatan-kegiatan Assalam difasilitasi oleh salah seorang seniornya dengan menggunakan tempat di lembaga bimbingan belajar yang diinisiasi oleh gerakan Tarbiyah.

Dari ketiga kota tersebut, dapat dilihat geliat kelompok Tarbiyah di kalangan aktivis OSIS, utamanya melalui rohis. Di ketiga daerah tersebut, pola dakwah menggunakan model mentoring liqo dan halaqah. Keadaan ini semakin diperkuat dengan penggunaan media sosial oleh sebagian aktivis OSIS yang berujung pada grup pertemanan.

Dalam grup-grup pertemanan yang diikuti, seringkali muncul postingan yang menstimulasi paham anti kebangsaan dan intoleransi pada siswa. Pengurus OSIS di beberapa sekolah di ketiga kota tersebut, membeberkan bahwa mereka sering mendapatkan postingan tersebut, dan meneruskannya kembali baik kepada individu maupun grup pertemanan yang lain.

Meneguhkan Identitas, Melawan Radikalisme di Indonesia

Ada beberapa best practices yang sudah diterapkan oleh sekolah untuk menangkal adanya radikalisme di Indonesia dan masuknya ideologi transnasional ke sekolah sekaligus meneguhkan pendidikan untuk penyemaian paham agama yang moderat dan santun. Pertama, dengan melakukan screening terhadap narasumber dalam berbagai kajian. Cara ini dilakukan dengan melacak riwayat hidup dan kapasitas keilmuan dilakukan demi memastikan OSIS agar mendapatkan mentor yang tepat.

Kedua, upaya lain yang ditempuh oleh salah satu SMA Negeri di Surakarta untuk menyangkal radikalisme di Indonesia adalah dengan mendorong siswa untuk belajar dari guru. “Belajar tanpa guru dan atau belajar dari internet, berarti belajar dengan setan”, ungkap seorang Guru PAI di sekolah tersebut.

Ketiga, salah satu MA Negeri di Sukabumi untuk menangkal gerakan radikalisme di Indonesia adalah mengadakan kegiatan Pesantren Sekolah. Pesantren Sekolah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman keagamaan yang lebih otoritatif dan menghilangkan ketergantungan siswa dari sumber-sumber keagamaan dari luar. Hal ini relatif cukup berhasil. Dibuktikan dengan siswa yang belajar agama dari pesantren, tidak dari luar.

Keempat, beberapa sekolah negeri juga melakukan kerjasama dengan ormas Islam moderat yang ada seperti NU dan Muhammadiyah. Sekolah menggandeng organisasi sayap pelajar dari kedua ormas tersebut, yaitu Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Salah satu kekuatan besar moderasi Islam yang secara teologis berani berhadapan dengan ideologi transnasionalisme dari Saudi (salafi wahabi) maupun Mesir (tarbiyah) adalah NU dan Muhammadiyah. Sehingga peran kedua ormas sangat diperlukan dalam infiltrasi ideologi di sekolah.

Kelima, salah satu cara yang ditempuh oleh seorang guru adalah dengan melakukan kunjungan atau anjangsana ke kelompok yang berbeda. Melalui cara tersebut, ia berupaya memperkenalkan siswa tentang realitas kebinekaan secara langsung. Dalam pelajaran praktik, secara reguler dia menugaskan siswa untuk berkunjung ke tempat ibadah agama nonmuslim dan mengenal agama lain secara langsung. Menurutnya, kunjungan ke sejumlah tempat ibadah agama non-Islam merupakan satusatunya cara yang paling realistis dalam memperkenalkan kebinekaan.

Keenam, salah satu sekolah negeri di Cirebon mengadakan kegiatan karnaval kebhikenaan. Karnaval ini berupa keharusan untuk menggunakan pakaian pahlawan nasional tertentu. Dengan demikian, siswa mengerti bahwa indonesia dibangun bukan hanya oleh satu agama dan suku tertentu, tapi oleh semua warga dengan latar belakang agama dan suku yang berbeda-beda.

Reporter: Yusuf R Y

Terkait

Tags: Moderasiosisradikalismerohis
Previous Post

Bukan Komunisme, Alasan RUU HIP Harus Dibatalkan

Next Post

New Normal Perlu Ada Narasi Baru

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
New Normal Perlu Ada Narasi Baru

New Normal Perlu Ada Narasi Baru

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.