Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Literasi Progresif, Untuk Membaca Realitas Kehidupan

Achmad Fauzan by Achmad Fauzan
Juli 7, 2020
in Esai
0
kalimahsawa.id

kalimahsawa.id

36
SHARES
213
VIEWS

Literasi, atau bahasa lainnya melek huruf lambat laun menjelma seperti syarat wajib seseorang bisa dicap sebagai orang yang progresif. Tidak hanya pintar dan paham dalam membaca buku dengan berbagai genrenya, termasuk hitung menghitung namun juga pandai memecahkan realitas dalam kehidupan sehari-hari.

Di era yang semakin mengandalkan teknologi ini, atau bahasa lainnya revolusi industri, manusia di seluruh dunia ini dihadapkan dengan sebuah realitas yang benar-benar baru. Musim pandemi Covid-19, misalnya.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Seluruh jenjang pendidikan dari SD hingga Universitas melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) via online. Tak perlu repot pakai seragam dan sepatu. Tak peduli sudah mandi atau celemotan. Yang penting online agar tidak dikira mangkir.

Meningkatkan Daya Pikir

Kajian mengenai literasi teknologi dan media pun mendapat porsi untuk lebih ditingkatkan. Apa yang perlu ditingkatkan? kualitas berpikir anak bangsa. Agar tidak mudah terserang hoaks dan menimbun sampah informasi.

Ajaran mengenai kehati-hatian melihat sebuah fenomena apapun termasuk informasi berita, mungkin sudah pernah kita dengar sebagai sesama umat Muslim. Dalam Al-Qur’an, QS al-‘Alaq [96]: 1-5 adalah bukti yang secara terang-terangan menyuruh umat Muslim untuk pintar-pintar membaca sesuatu, baik teks maupun konteks.

Sementara dalam hadis, umat Muslim diajarkan untuk tidak asal memakai sebuah hadis. Melainkan harus pandai memilih dan memilah informasi yang mata rantai sanadnya dapat dipercaya.

Jika kita amati betul mengenai dunia teknologi dan media, bukankah hoaks dan sampah informasi telah menyumbang peradaban manusia yang suka marah-marah? Tentunya hal itu sangat menyebalkan jika kita tidak pandai memilah informasi dengan baik dan benar.

Pintar Membaca Teks dan Konteks

Kita akan dengan mudah menemukan referensi tentang modul literasi yang keluar dari teriakan para akademisi dan para kulak buku yang Instagrammable. Inti dari keduanya mempunyai semangat yang sama; ajaklah otakmu pintar dalam membaca ‘teks’.

Tentu bagi orang awam, teks memiliki wajah yang sama persis dengan buku. Di mana tidak ada sama sekali gambar-gambar komikal yang dapat mengobati kakunya kedua pantat menyangga buku setebal tempe yang harganya 5.000-an.

Baca Juga: Pancasila sebagai Landasan Anak Muda untuk Berkarya

Padahal, makna teks melampaui hal itu. Semua realitas yang ada di dunia adalah teks. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Umberto Eco dalam Semesta Tafsir (2019): “Sebuah teks adalah sebuah semesta terbuka di mana penafsir dapat menemukan interkoneksi yang tak terhingga.”

Semua kenyataan yang benar-benar ada, bisa ditunjuk, dan bisa dikomunikasikan. Itu adalah teks. Teks yang mewujud sebuah tulisan tiada lain bersumber dari kompleksitas sebuah realitas. Yang perlu diabadikan, dibaca banyak orang, dan berharap ikut sadar menghadapi kenyataan.

Literasi Progresif Kehidupan

Sebuah kenyataan bahwa selalu ada kerumitan masalah manusia yang perlu ditemukan jalan keluarnya. Dan untuk mendapatkan sebuah jawaban dari masalah hidup manusia, tidak melulu merujuk kepada sebuah buku. Sebagaimana ketika kita menyelesaikan tugas perkuliahan yang perlu merujuk kepada sebuah buku.

Kita bisa saja menemukan sebuah jawaban yang kita inginkan dari orang-orang tua yang pengalaman hidupnya sudah melalang-buana selama puluhan tahun. Dan sudah barang tentu, mereka memiliki sebuah teori tentang apa dan bagaimana cara menyikapi sebuah kehidupan.

Mungkin  kita pernah menemui suatu persoalan hidup, dan salah satu teman kita menjawab; “Teorinya itu begini, bukan begitu.” Kebanyakan dari kita yang pernah duduk di bangku perkuliahan, bisa saja menerimanya dan mempertimbangkannya.

Contohnya saja salah satu teori eksistensialisme ala Jean-Paul Sartre; “man is condemned to be free”. Manusia itu dikutuk untuk bebas mengekspresikan dirinya. Teori ala Sartrean ini bisa saja dijadikan pedoman hidup para mahasiswa yang sudah lelah dengan kungkungan tradisi yang sama sekali tidak membebaskan. Maka perlu ada literasi progresif yang nemampungnya. Literasi progresif adalah solusi.

Teori itu Mendaki ke Langit

Berbeda dengan mereka yang tidak pernah merasakan kicauan para akademisi di perguruan tinggi. Yang kebanyakan ditempati oleh para pekerja, “Ah, teori. Bullshit. Yang realistis saja lah.” Dalam hal ini, saya tidak men-judge bahwa semua pekerja muak dengan kata ‘teori’, tapi saya sering mendengarnya dari teman-teman saya yang kebetulan banyak menjadi seorang pekerja.

Dan sebenarnya, istilah teori itu tidak hanya dimiliki oleh para akademisi yang, kata sebagian orang selalu ndakik-ndakik dan sama sekali tidak membumi. Teori itu pendapat seseorang yang diungkapkan atas dasar penelitian kita terhadap realitas. Dan hampir semua perilaku yang manusia lakukan berdasarkan pada sebuah teori. Teori tentang cara menyikapi sebuah kehidupan.

Baca Juga: Membumikan Budaya Literasi: Bergerak dan Menghampiri

Ada yang mengatakan bahwa hidup itu indah. Kita perlu menikmatinya saat ini, menyikapi hidup secara afektif, dan mensyukuri apapun yang kita punya. Meminum kopi hangat di pagi hari sambil membaca koran terkini, menghisap rokok Surya, dan berkata; “Beginilah hidup saya yang indah ini, wahai matahari yang selalu baharu setiap hari.”

Ada juga yang mengatakan bahwa hidup ini absurd. Tidak jelas. Cukup disikapi secara apatis dan perlu  Kita sadari bahwa sang waktu terkadang bisa mengobati kegelisahan kita. Sekarang A, beberapa detik kemudian B. Terkadang untuk menyikapi hal ini juga perlu berontak. Bukan marah-marah yang berujung peperangan dan kematian, melainkan sikap kritis yang elegan dan menyadarkan.

Harus Melek Melihat Realitas

Bagi saya keduanya sama-sama benar. Dalam literatur pustaka, teori mengenai hidup itu indah bisa saja kita membaca buku karya Dea Anugrah yang berjudul “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya” (2019) terbitan Mojok.

Sementara teori mengenai hidup itu absurd atau bahkan brengsek, bisa saja kita membaca buku karya Puthut EA dan Gindring Wasted yang berjudul “Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya” (2019) terbitan Shira Media.

Salah satu fenomena yang tidak asing lagi bagi kita di era modernisasi kini; manusia bilang bahwa untuk bisa mensejahterakan rakyat, diperlukan infrastruktur-infrastruktur yang memobilisasi aktivitas manusia dengan mengorbankan penggundulan hutan. Jadilah jalan raya, jalan tol. Bahkan buku-buku yang didapuk sebagai salah satu syarat wajib di seluruh jalur pendidikan harus mengorbankan jutaan pohon-pohon.

Baca Juga: Titik Temu Negara Kesejahteraan dan Nilai-Nilai Islam dalam Pancasila

Sementara alam dan hewan bilang bahwa untuk bisa menyeimbangkan sirkulasi kesehatan kosmos, manusia perlu dimusnahkan biar tidak seenak jidatnya saja menyakiti alam semesta. Muncullah bencana alam dan virus-virus yang memporak-porandakan kehidupan manusia.

Dengan demikian, sebenarnya untuk pandai memecahkan realitas kehidupan tidak sekadar membaca tulisan ini, membaca sebuah buku atau melihat video di gawai, melainkan juga melibatkan diri untuk ikut ‘merasa’ dengan makhluk apapun dan siapapun di manapun kita berada. Satu lagi, mata saya, mata Anda, dan mata kita memang harus benar-benar melek untuk melihat berbagai realitas yang ada.

Editor: Dartim I.R.

Terkait

Tags: Dunia BacaKeadabanKeilmuanLiterasiProgresif
Previous Post

Jika Ibadah Tak Kunjung Menyibak Rahasia Tuhan

Next Post

Menelusuri Manuskrip Tentang Wabah dari Kitab Ibnu Hajar Al-Asqolani

Achmad Fauzan

Achmad Fauzan

Next Post
Menelusuri Manuskrip Tentang Wabah dari Kitab Ibnu Hajar Al-Asqolani

Menelusuri Manuskrip Tentang Wabah dari Kitab Ibnu Hajar Al-Asqolani

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.