Doa penutup kegiatan adalah doa yang cukup penting, mengingat doa tersebut harus selalu kita ucapkan setiap mengakhiri kegiatan. Kegiatan seperti rapat, kajian, diskusi, silaturahmi, dan kegiatan lain seyogyanya ditutup dengan doa ini.
Doa ini sering disebut dengan kaffaratul majlis. Ia bisa menjadi penghilang dosa-dosa yang ditimbulkan selama kegiatan tersebut. Selain itu, doa ini juga mengingatkan kepada Allah setelah melakukan kegiatan, apalagi jika kegiatan yang dilaksanakan bersifat duniawi.
Dalam sebuah hadits Tirmidzi diriwayat oleh Abu Hurairah R.A, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang berada pada suatu majelis, kemudian pada majelis tersebut tedapat banyak perkataan yang tidak berguna, lalu sebelum beranjak meninggalkan majelis, mengatakan hal yang ini (kaffaratul majelis), ‘Mahasuci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampun pada-Mu.’ Kecuali telah diampuni baginya apa yang ada pada majlis tersebut.” (HR. Tirmidzi).
Adapun lafal doa penutup majelis atau kegiatan adalah
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik.
Artinya:
“Maha Suci Engkau ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Ashhaabus Sunan dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/153.
****
Doa penutup majelis atau penutup kegiatan tidak hanya satu. Nabi juga mengajarkan doa-doa yang lain. Hal ini dapat memudahkan masyarakat agar bisa memilih doa, apakah dia memilih yang pendek dan mudah, atau memilih yang panjang dan mendalam.
Ada doa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar yang berbunyi:
اللّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اللّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Allohummaqsim lanaa min khosy-yatika maa tahuulu bainanaa wa baina ma’aashiika wa min thoo-‘atika maa tuballighunaa bihii jannataka, wa minal yaqiini maa tuhawwinu bihii ‘alainaa mashoo-ibad dunyaa. Allohumma matti’naa bi asmaa-‘inaa wa abshoorinaa wa quwwatinaa maa ahyaitanaa waj’alhul waaritsa minnaa waj’al tsa’ronaa ‘alaa man zholamanaa wanshurnaa ‘alaa man ‘aadaanaa walaa taj’al mushiibatanaa fi diininaa walaa taj’alid dunyaa akbaro hamminaa walaa mablagha ‘ilminaa wa tusallith ‘alainaa man laa yarhamunaa.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah untuk kami bagian dari rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat (kepada-Mu). Jadikanlah untuk kami bagian dari ketaatan kepadamu yang dapat menyampaikan kami kepada surgamu. Jadikanlah untuk kami bagian dari rasa keyakinan yang dengannya Engkau meringankan kami dalam menghadapi musibah dunia. Ya Allah, berilah kenikmatan kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, jadikanlah ia tetap ada pada kami, jadikanlah pembalasan kami kepada orang yang menzhalimi kami, berilah kami kemenangan atas orang yang memusuhi kami, janganlah Engkau jadikan musibah (yang menimpa) kami mempengaruhi agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar dan puncak ilmu kami, dan janganlah Engkau jadikan orang yang tidak menyayangi kami (orang kafir dan orang zhalim) sebagai orang yang menguasai kami.”
baca juga: Mahatma Ghandi: Pejuang Kemerdekaan Tanpa Melukai
Doa ini bersumber dari Al-Da’awat karya Imam At-Tirmidzi.
editor: Yusuf R Y