Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Tafsir Pancasila Menurut Buya HAMKA

M Ruhul Amin by M Ruhul Amin
Juni 28, 2020
in Sosok
0
Hamka menganjurkan semuanya terutama kaum Muslim untuk berjuang dalam urat tunggang Pancasila yakni sila Ketuhanan yang Maha Esa

Hamka menganjurkan semuanya terutama kaum Muslim untuk berjuang dalam urat tunggang Pancasila yakni sila Ketuhanan yang Maha Esa

132
SHARES
777
VIEWS

Belakangan, Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup di Indonesia kembali menjadi pembicaraan yang menyita perhatian berbagai elemen bangsa. Permbicaraan tersebut tak lain dan tak bukan karena adanya rencana pembahasan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) di parlemen.

RUU HIP disinyalir akan menjadi jalan masuk bagi ideologi yang bertentangan dengan Pancasila terutama Komunisme. Lantas, secara spontan Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan pernyataan menolak, berikut juga dengan organisasi Islam lainnya seperti Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama.

TulisanTerkait

Cahaya dari Pesisir: Menelusuri Jejak Intelektual Ahmad Dahlan dan Kartini dalam Arus Pembaruan Bangsa

Kursi Roda, Saksi Bisu Perjuangan Ahmad Yasin Melawan Kedzaliman Israel

Buya Hamka: Pena, Iman, dan Perjuangan Seorang Ulama

Unsur Islam tentu akan terdepan menyikapi segala hal berbau komunisme. Sejarah perjalanan bangsa mencatat ketersinggungan yang hebat antar Islam dengan komunisme yang akan terus lekat dalam memori umat dan bangsa. Dan tanpa bermaksud menghantarkan kembali memori konflik tersebut,  bagaimana sebenarnya umat Islam di Indonesia memandang Pancasila?

Umat Islam di Indonesia berjumlah ratusan juta, terbagi pula dalam berbagai kelompok dan organisasi dengan kekhasan hujjah masing-masing. Kita ambil saja dari tokoh Islam Indonesia yang menurut James Rush telah mengabdikan tenaga, waktu, dan pikirannya dalam wacana besar Islam dan keindonesiaan, yakni Buya Hamka.

Pancasila Menurut HAMKA

HAMKA adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia merupakan ulama besar yang menjadi ketua umum Majelis Ulama Indonesia pertama kali. Unikinya, nama beliau justru bertambah masyur ketika memutuskan meletakkan jabatan setingkat mufti tersebut, setelah berlainan sikap dengan pemerintah melalui menteri agama mengenai perayaan Natal bersama. Sikap kukuh pendiriannya, tak mau “dibeli” penguasa lah yang diingat kala itu hingga sekarang. Nah, kita coba lihat pandangan ulama penulis tafsir al-Azhar ini, mengenai Pancasila.

Berdasarkan urutan dari sila-sila dalam Pancasila terdapat sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama. Pada tanggal 7 Mei 1950, Soekarno dalam pidato perayaan Isra’ Mi’raj di Istana Negara, menyatakan bahwa keseluruhan sila pada Pancasila adalah serupa dengan rukun Islam yang tidak boleh dikerjakan hanya sebahagian lalu meninggalkan sebahagian yang lain.

Sempat pula menyinggung bahwa ada kelompok yang hanya meninggikan sila pertama tadi, lalu meninggalkan sila yang lain. Padahal untuk berjuang demi negara, sila-sila yang lain harus menjadi dasar perjuangan negara juga. Mendengar ucapan Soekarno tersebut tentu seakan menyasar pada kelompok-kelompok agama, dan karena itu adalah forumnya perayaan hari besar Islam, jadilah umat Islam lewat tokoh dan ulamanya yang menjadi sasaran utama.

HAMKA tidaklah menyambut ucapan Sukarno tersebut dengan sentimen, seperti yang biasa dilakukan para elit nasional kita kini saat dikritik. HAMKA menyambutnya lewat sebuah tulisan berjudul “Urat Tunggang Pancasila”. Dalam buku tersebut, tidaklah dia menyalahi pernyataan Sukarno bahwa semua sila pada Pancasila serupa dengan rukun Islam yakni harus diamalkan semuanya tanpa terkecuali. Sama sekali tidak, bahkan HAMKA menyempurnakan pandangan Sukarno mengenai Pancasila dalam perspektif keIslamannya.

Ketuhanan Yang Maha Esa

Seperti judulnya ada satu sila dalam Pancasila yang menjadi akar utama atau urat tunggang bagi sila-sila lainnya. Akar atau urat tunggang adalah akar yang sangat nyata dan seperti tunggal menjurus ke dalam bumi agar sang pohon kuat berdiri di atas permukaannya. Lewat urat tunggang itu juga lah sang pohon menerima asupan mineral yang dibutuhkan agar terus tumbuh dan berkembang. Hidup yang bukan sekedar hidup, melainkan tumbuh, berkembang dan memberi manfaat kepada sekitar.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah urat tunggang tersebut. Sila tersebut menunjukkan kepercayaan manusia pada kekuatan yang satu. Semua ciptaan yang ada di langit dan di bumi adalah satu sebutan yakni mahkluk atau ciptaan. Semuanya dijadikan demikian oleh yang satu juga yakni Tuhan sebagai khalik atau sang pencipta. Sila ini juga melambangkan keyakinan hidup tak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya.

Konsekuensinya jelas bahwa jika ada suatu perkara yang dianggap tidak selaras dengan jalan-Nya, maka akan timbul semangat untuk berjuang (syahid). Meletuslah perang-perang kemerdekaan yang dijalankan para pahlawan walau kekuatan senjata tidak sebanding dengan penjajah. Para pahlawan tidaklah peduli dengan senjata lawan. Ketakutan itu sirna karena sinar tauhid (keesaan) dalam sanubari.

****

Mereka berjuang lagi bagi bangsa ini selepas proklamasi, menghadapi agresi militer Belanda I dan II. Rakyat jelata tampil ke muka, para santri dan kiai berjuang, para tokoh lainnya memainkan peran dengan siasat lain. Dan semuanya hanya karena satu perhitungan yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila tersebut mewajibkan kita untuk beribadah, dan wujud ibadah para pahlawan kita masa itu adalah memerdekan negeri ini dari penjajah.

Percaya kepada Tuhan yang Maha Esa, juga berarti percaya kepada Nabi. Nabi bersabda “sebaik-baiknya manusia adalah yang banyak manfaatnya kepada manusia lainnya. Ditegaskannya juga bahwa semua adalah keturunan Adam, dan Adam berasal dari tanah. Maka tidak ada kelebihan seorang manusia dengan manusia lainnya.

Yang mulia dimata Tuhan hanyalah yang taat kepadanya. Menurut HAMKA, kemanusiaan yang tergambar dalam sila kedua adalah keimanan yang tidak dapat dipisahkan, bahkan ia tumbuh langsung dari sila pertama tersebut. Pelanggaran terhadap peri kemanusiaan akan bertanggungjawab langsung kepada Tuhan.

Konsekuensi Sila Pertama untuk Empat Sila Lain

Selanjutnya mengenai peri kebangsaan yang tergambar pada sila ketiga, HAMKA menyatakan Tuhan yang Maha Esa telah memberikan konsepsi “…dan kami jadikan kamu beraneka ragam suku bangsa agar kamu saling mengenal”. Diikuti “yang paling mulia di hadapan Tuhan adalah yang paling takwa”.

Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa lewat konsepsi tersebut membuat kita bisa saling menahan diri untuk menyuarakan kemegahan masa lalu suku-suku bangsa yang ada. Kita tidak lagi surut kebelakang untuk membanggakan kebesaran masa lampau dengan slogan kebudayaan asli nusantara. Ketuhanan yang Maha Esa mengajarkan kita seluruh bangsa adalah kawan untuk tujuan akhir perdamaian manusia dan dunia baru yang adil dan makmur.

Ketuhanan yang Maha Esa juga melahirkan paham kedaulatan rakyat yang berada pada sila keempat. Manusia seluruhnya adalah khalifah Tuhan. Rakyat semuanya berdaulat dan berkuasa. Sehingga pemimpin di manapun tidak bisa mengklaim dirinya adalah wakil Tuhan, bisa memerintah manusia lainnya dengan leluasa. Semua bentuk jabatan dan pemerintahan dari pusat hingga dusun/kampung merupakan amanat Tuhan yang Maha Esa yang harus dikelola dengan prinsip syura/musyawarah.

Manusia diberi kebebasan untuk memilih bentuk pemerintahan sesuai kemajuan zaman. Tetapi rakyat sesamanya harus bersepakat atau bermusyawarah memilih bentuk pemerintahan, dan yang terpilih sebagai penguasa harus mau bermusyarah juga dengan yang memberi kuasa yakninya rakyat. Ditegaskan “kalau engkau (pemimpin) bersitegang dan hati membatu, orang-orang (rakyat) itu akan menjauh darimu”. Penguasa harus adil, dan rakyat harus menjaga aga penguasa tidak keluar dari jalan keadilan.

Terhadap keadilan sosial pada sila kelima, Hamka lebih keras lagi, bahwa bohong seorang yang mengakui Ketuhanan Yang Maha Esa tetapi tidak mau mengurus makan fakir miskin, sembahyangnya hanya untuk pencitraan semata. Nerakalah menjadi balasan orang yang demikian. Percuma semua solatnya jika tidak mau tolong-menolong dan bergotong royong.

****

Tiga kali Nabi bersumpah demi Allah tidaklah beriman orang yang menyakiti hati tetangganya. Bahkan dikatakan “kalau ada orang mati kelaparan dalam satu kampung, maka seisi kampung bertanggung jawab atas kematian tersebut”. Ringkasnya, orang yang percaya pada Ketuhanan yang Maha Esa akan otomatis menuntut keadilan sosial juga. Karena kalau tidak, menurut Hamka, dia telah membohongi agama.

baca juga: Sikap Nahdlatul Ulama: Hentikan RUU HIP

Sebagi penutup dari karyanya, Hamka menganjurkan semuanya terutama kaum Muslim untuk berjuang dalam urat tunggang Pancasila yakni sila Ketuhanan yang Maha Esa, yakni dengan arti yang sebenar-sebenarnya. Ketika sila Ketuhanan yang Maha Esa terjaga, maka keempat sila lainnya juga akan terjaga.

Sekilas terlihat kalau Hamka mencoba memeras Pancasila yang lima butir tersebut menjadi hanya pada satu sila, seperti yang dilakukan oleh elit partai penguasa beberapa hari yang lalu. Tapi syukur elit partai tersebut tidak mengakuinya. Lebih syukur lagi jikalau tidak menuduh Hamka juga coba memeras sila juga.

Karena Hamka adalah seorang ulama dan punya kemampuan tafsir, dan dia menafsirkan Pancasila dengan Ketuhanan yang Maha Esa sebagai urat tunggangnya dan menyebut “Ketuhanan yang Maha Esa sumber hakiki dari segala Sila dan Kesusilaan”. Semoga kita semua memahaminya dan mau bertanggungjawab mengamalkan keluhuran Pancasila dengan niat dan tujuan luhur juga.

editor: Yusuf R Y

Terkait

Tags: Hamkapancasilaruu hip
Previous Post

Bernegara Tanpa Haluan

Next Post

Panduan Singkat Shalat Gerhana (Kusufain)

M Ruhul Amin

M Ruhul Amin

Sekretaris Umum DPD IMM DKI Jakarta & Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia

Next Post
Panduan Singkat Shalat Gerhana (Kusufain)

Panduan Singkat Shalat Gerhana (Kusufain)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.