Menurut KBBI Kultur artinya kebudayaan, kalau tanpa kata imbuhan awalan dan akhiran menjadi budaya. Sedangkan Humanisme artinya orang yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan asas-asas perikemanusiaan; pengabdi kepentingan sesama umat manusia.
Penulis teringat ketika aktif di salah satu organisasi otonom muhammadiyah. Di organisasi otonom tersebut ada istilah Tri Kompetensi Dasar yaitu intelektul, religius, humanis. Bagi yang pernah aktif di organisasi tersebut pasti tidak asing dengan istilah itu, minimal pernah baca ataupun mendengarnya kata-kata itu. untuk kali ini fokus ke humanis.
KH Ahmad Dahlan dan Surat Al-ma’un
Suatu ketika K.H Ahmad Dahlan mengajar kepada para muridnya berulang-ulang tentang surat Al-maun, kemudian muridnya ada yang protes “kenapa kiyai selalu berulang-ulang dalam menjelaskan surat Al-ma’un?” Tanya muridnya. Kemudian K.H Ahmad Dahlan menjawab sekaligus bertanya “Apakah kalian sudah mempraktekkan dari surat Al-ma’un tersebut?”
Di dalam surat Al-maun dijelaskan bahwa orang yang mendustakan Agama yaitu orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Celakalah orang yang shalat dalam keadaan lengah, tidak menyadari dari gerak dan bacaannya dalam shalat.
Baca Juga: Amien Rais: Demokrasi Kita Sudah Rusak
Termasuk golongan celaka juga orang yang ria dalam mengerjakan amal kebajikan dan orang-orang yang tidak mau meminjamkan atau memberikan barang yang tidak diperlukannya, tetapi orang lain sangat memerlukan.
Ajaran tersebut sangat familir di kalangan muhammadiyah yang biasanya di kenal dengan istilah Teologi Al-maun. Maka tidak heran jika K.H Ahmad Dahlan lebih dikenal Man of Action dengan berbagai macam gerakan-gerakan sosialnya.
Gen Sosial
Baik itu di bidang pendidikan maupun kesehatan hingga melahirkan beberapa hal, seperti Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), Panti Asuhan, Panti Jompo, dan lain sebagainya. Jika di ibaratkan tubuh manusia, maka muhammadiyah memiliki Gen Sosial.
Nalar yang digunakan dan dirawat Mbah Dahlan dan Generasi Muhammadiyah al awalun adalah nalar altruisme. Nalar dimana logika sehat digunakan untuk mendorong tindakan atau gerakan yang berorientasi pada kepentingan orang banyak (umat) dibandingkan kepentingan diri sendiri.
Demi kepentingan orang banyak (umat). Istilah Altruisme pertama kali diperkenalkan oleh bapak sosiologi Auguste Comte. Merujuk walstern dan piliavin (Deaux, 1976).
****
Perilaku altruistik adalah perilaku menolong yang timbul bukan karena adanya tekanan atau kewajiban. Melainkan tindakan tersebut bersifat sukarela dan tidak berdasarkan norma-norma tertentu. Tindakan tersebut juga merugikan penolong karena meminta pengorbanan waktu, usaha, uang dan tidak ada imbalan ataupun reward dari semua pengorbanan (Dahnil Anzar Simanjuntak: 2015,h.239).
Perilaku sosial K.H Ahmad Dahlan tersebut turun-temurun hingga saat ini, sudah tidak terhitung jumlahnya gerakan-gerakan sosial muhammadiyah yang berkontribusi untuk masyarakat banyak baik masa K.H Ahmad Dahlan maupun sepeninggalan K.H Ahmad Dahlan, walaupun ada perbedaan itu karena dinamika perkembangan zaman.
Trisula Gerakan Humanisme Baru
Menurut Hajriyanto Y Tohari selama satu abad muhammadiyah memiliki gerakan trisula lama yakni pendidikan, ekonomi, dan kesehatan sudah dianggap bagus. Misalnya, Muhammadiyah kini sudah mempunyai banyak rumah sakit besar dan mendirikan 174 perguruan tinggi, yang 30 di antaranya adalah universitas besar. Pada perjalanan abad kedua ini, Muhammadiyah membuat trisula gerakan baru.
Trisula gerakan baru Muhammadiyah yaitu, Sila pertama dengan menjalankan Lazismu. Sehingga dengan dana umat itu Muhammadiyah bisa lebih mandiri dalam melakukan pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: Negeri Di Bawah Kabut
Kemudian sila kedua adalah gerakan volunterisme dengan membentuk lembaga penanggulangan bencana. Dalam hal ini, Muhammadiyah mendirikan Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC). Yaitu memberikan bantuan penanggulangan ketika terjadi bencana alam.
Bukan hanya ketika darurat, tetapi juga sampai rekontruksi pembangunan manusia dan masyarakat setelah terjadi bencana. Sementara, sila ketiga trisula Muhammadiyah yang baru yaitu pemberdayaan masyarakat dengan didanai oleh Lazismu, majelis pemberdayaan masyarakat (MPM) akan bergerak di kalangan petani, nelayan dan buruh. Muhammadiyah akan melakukan pendampingan pertanian dan lain-lain terutama di daerah pelosok. (Republika: 2017)
Catatan Gerakan Selama Menghadapi Pandemi
Sejak WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi dunia banyak sudah ormas-ormas ataupun komunitas di Indonesia yang berlomba-lomba dalam gerakan-gerakan sosialnya untuk berkontribusi turut serta dalam membantu penanganan Covid-19.
Gerakan-gerakan seperti itu sudah menyatu dengan nafas Muhammadiyah, seperti yang saya sebutkan di atas jika diibaratkan tubuh maka muhammadiyah memiliki Gen sosial.
Dalam menyikapi Pandemi Covid-19 di Indonesia, Muhammadiyah mendirikan tim khusus yang diberi nama Muhammadiyah Covid-19 Comand Center (MCCC) dengan Lazismu sebagai penghimpun dan penyalur dana dan mengoptimalkan ratusan rumah sakitnya serta mengerahkan kader-kadernya sebagai relawan.
Melalui jaringan kantor layanan yang sudah mencapai tingkat Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) bahkan ada yang tingkat ranting (PRM), Lazismu mampu menghimpun kekuatan filantropi warga Muhammadiyah. Selain Lazismu tidak ketinggalan pula peran serta amal usaha Muhammadiyah (AUM) juga memberi kontribusi signifikan dalam kerja-kerja penanganan Covid-19.
Berkat dukungan dari kekuatan internal tersebut, hingga kini kerja-kerja penanganan Covid-19 masih terus berjalan. “Berdasarkan update terbaru hingga tanggal telah mendistribusikan dana sebanyak Rp. 149.121.734.496 lebih dengan total penerima manfaat sebanyak 2.467.787 jiwa.
Meniti Jejak Humanisme
Dalam bidang kesehatan yang menjadi domain utama penanganan wabah Covid-19, hingga kini tercatat 77 Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA) yang merawat pasien Covid-19 dengan jumlah kasus yang ditangani yaitu ODP 3126, PDP 1623 dan positif 235,” (Muhammadiyah Covid-19 Comand Center: 2020).
Baca Juga: Syekh Nawawi dan Budaya Syawalan di Serang
Selain dari internal Muhammadiyah, dari eksternal juga mempercayakan bermitra dengan Muhammadiyah. Seperti perusahaan, lembaga keuangan, komunitas dan lain sebagainya. Salah satunya seperti yang telah kita ketahui adalah musisi maestro jawa yaitu Didi Kempot (Alm).
Di akhir hayatnya sempat mengadakan konser amal peduli covid-19 yang bekerja sama dengan sobat ambyar dan ditayangkan di Kompas TV menyumbangkan ke Lazismu senilai Rp. 2.122.000.000. Semoga pandemi ini segera berakhir, dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Ayo kita taati peraturan pemerintah sesuai protokol kesehatan.
Sumber Ilustrasi: kompasiana.com
Editor: Dartim I.R.