Di balik kehebatan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH. Ahmad Dahlan (pendiri Perserikatan Muhammadiyah), ada sosok KH. Sholeh Darat ulama yang menggaungkan doktrin bela negara. Dua ulama pendiri organisasi keagaamaan di Indonesia itu tidak lain dan tiada bukan adalah murid KH. Sholeh Darat.
Memang, dalam diskursus Islam di nusantara, nama KH. Sholeh Darat tak sepopuler KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Dan baru belakangan ini gaung ulama kondang kelahiran tahun 1820 M asal desa Kedung Cumpleng, Jepara ini terdengar berkat kerja intelektual banyak sarjana yang menelisik karya-karya dan gagasannya.
Selain itu, juga sudah berjubel komunitas-komunitas yang concern mengkaji dan mengkampanyekan gagasan KH. Sholeh Darat, seperti KOPISODA (Komunitas Pecinta Sholeh Darat) di Semarang yang dikomandoi oleh Gus In’amuzzahidin.
Baca Juga: Gadamer, Tokoh Hermeneutika yang Tidak Direstui
Sebagai ulama yang hidup di era penjajahan, KH. Sholeh Darat (1820-1903 M) memiliki komitmen keislaman dan kebangsaan yang luar biasa. Hal ini bisa dilihat dari pemikirannya yang tertuang dalam berbagai lembaran-lembaran (buku) yang ia tulis. Berdasarkan data yang diperoleh dari Komunitas Pecinta Sholeh Darat (Kopisoda), setidaknya Sholeh Darat mempunyai 14 karya. Diantaranya Tafsir Faidh al-Rahman, Minhajul Atqiya, Munjiyat dan Matan al-Hikam
Sholeh Darat dan Bela Negara
Uraian ini akan mengulas jejak perjuangan KH. Sholeh Darat dalam konteks membela negara. Ulasan mengenai bela negara masih perlu terus digaungkan, terlebih di era seperti saat ini di mana masih ada orang yang beranggapan bahwasannya agama tidak menuntun pemeluknya untuk melakukan aktivitas seperti bela negara.
Hal ini bisa diletisik dari pandangan yang mengatakan bahwa cinta tanah air tidak ada dalilnya dalam Islam dan bela negara tidak relevan dengan kondisi saat ini. Dan juga ada yang menganggap bahwa bela negara adalah bagian dari jihad mengangkat senjata.
Ihwal bela negara, kita bisa menggali dari sosok KH. Sholeh Darat. Pada akhir abad ke-19, kepulauan Jawa, utamanya di daerah pesisir utara, menjadi panggung propaganda kyai Sholeh Darat untuk melawan penjajahan dan mewujudkan harmoni masyarakat kala itu.
Tidak hanya secara fisik, Sholeh Darat juga menyisipkan keharusan membela negara dalam karya-karya beliau guna membangkitkan semangat masyarakat kala itu untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah Indonesia yang tidak hanya sekedar mengangkut kekayaan alam Indonesia, melainkan juga memiskinkan dan membuat masyarakat bodoh.
Agama menjadi Gaung Pembebasan
Bizawie (2016: 76) memberikan potret cukup lugas, bahwa betapa agama, pada masa kolonial, menjadi basis propaganda yang cukup intensif digelorakan oleh elit agama, khususnya di kalangan pesantren. Bukti-bukti akan hal ini banyak sekali, misalnya di Banyuwangi.
Ada kyai Saleh Lateng (1862-1952 M) dikenal sebagai tokoh Islam yang keras menentang penjajahan kala itu. Salah satu wujud perlawanannya adalah dengan melarang anak-anak, keluarga dan orang sekitarnya untuk tidak belajar di sekolah-sekolah yang didirikan dan dikuasasi oleh pemerintah kolonial.
Di belahan wilayah lain, terjadi arus perlawanan yang sama. Spirit anti-kolonialisme terus dihembuskan oleh para ulama untuk membangun kekuatan solid di akar rumput dalam menghadapi dominasi kolonialisme yang akut.
****
Ayat-ayat suci, motivasi, dan lain sebagainya digelorakan di sudut-sudut desa sebagai salah satu cara agar masyarakat memiliki kesadaran bela negara serta keberanian yang lebih dalam menghadapi pemerintah kolonial yang dzalim.
Baca Juga: Abdul Fattah Santoso: Konsep Jiwa Ibnu Sina Menghadapi Pandemi
Hal yang sama juga dilakukan oleh kyai Sholeh Darat, yakni menyuntikkan spirit anti-kolonial dan merangsang alam bawah sadar masyarakat untuk memiliki nyali diatas rata-rata. Perlawanan semacam ini dibungkus secara apik melalui nilai-nilai agama sebagai pemantiknya. Pada masa ini, semangat perlawanan dianggat sebagai bagian dari misi agama, yakni tafaqquh fi ad-din dan bagian dari jihad membela agama Allah.
Satu hal namun berdampak besar adalah, Sholeh Darat menanamkan “virus-virus” anti-kolonial melalui karya tulis beraksara arab pegon, seperti dalam kitab Minhaj al-Atqiya.
Cerdik dalam Strategi
Pilihan aksara arap pegon ini adalah sebagai strategi untuk mengelabui pemerintah kolonial yang kala itu melarang menulis dan menerjemahkan konten keislaman dalam bahasa latin (melayu). Selain itu juga sebagai upaya untuk memudahkan masyarakat Jawa dalam memahami teks dan ajaran Islam.
Jadi, melalui karya berbahasa jawa yang ditulis menggunakan aksara arab pegon yang dipadukan secara kreatif dengan ilmu-ilmu agama dan basis spiritual, seperti ilmu tasawuf, masyarakat lebih bisa memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Guru dan kyai di dalam tradisi Jawa memiliki peran yang vital. Menurut Edi Susanto (2007: 34),
Guru adalah orang-orang pilihan yang memiliki pengaruh besar dalam masyarakat; yang membentuk kehidupan sosial, kultural, dan spiritual warga muslin di Indonesia.
Terhadap kyai, sampai muncul ungkapan “Suwargo nunut, neroko kanut” [Ke surga ikut, pun jika masuk neraka, juga ikut].
Sejarah mencatat bahwa kyai Sholeh Darat termasuk salah satu jejaring utama yang menjadi simpul di Nusantara. Bahkan Abdurrahman Mas’ud (2004: 69) sampai memberikan julukan kepada kyai Sholeh Darat sebagai “Gurunya Para Arsitek Pesantren”. Dalam posisi inilah, sekali lagi, Sholeh Darat tidak diam diri melihat pemiskinan, penindasan dan pembodohan mengintai umatnya.
Tiga Teknik Propaganda
Menghadapi situasi yang seperti itu, Sholeh Darat mengambil menempun cara propaganda sebagai bentuk atau strategi dalam menghadapi musuh kala itu. Adapun 3 teknik propaganda yang dilakukan oleh Sholeh Darat, sebagaimana diungkapkan oleh Aflah Misbah (2016), sebagai berikut:
Pertama, plain folks. Yaitu salah satu upaya yang dilakukan oleh propagandis untuk menarik empati khalayak supaya terlibat secara emosional. Teknik ini diterapkan pada karya-karyanya Sholeh Darat. Penggunaan aksara jawa pegon adalah medianya untuk menarik simpati dan “mengocok” emosional masyarakat Jawa. Karena pada waktu itu, ilmu-ilmu Islam masih berbentuk bahasa Arab, kemudian ada literatur berbahasa Jawa, tentu langsung mendapatkan simpati dari masyarakat.
Baca Juga: KOKAM Itu Membela Pancasila dan Nalar Kebangsaan
Kedua, name calling. Adalah pemberian label buruk kepada gagasan, orang, objek dengan tujuan agar orang menolak sesuatu tanpa menguji kenyataannya. Tuduhan negatif kepada seseorang atau kelompok, misalnya kelompok teroris, dilakukan secara terus menerus agar orang atau kelompok tersebut tersudutkan dan jatuh.
****
Dalam karyanya, Sholeh Darat, terutama ketika menerangkan konsep taubat, ia membahas atau memberikan label buruk kepada pemerintah Belanda. Khusunya para dedengkotnya, sebagai “khadim az-Zulmah atau “khadame ratu” dan untuk pimpinan diberi “gelar” “Sulthan Zalim” (Sholeh Darat, 318 H: 66-68). Dengan sebutan ini, masyarakat menjadi menaruh rasa kesal, harus dijauhi dan lain sebagainya.
Ketiga, teknik propaganda ukhuwah islamiyah. Setelah melakukan berbagai serangan kepada pihak kolonial, maka garapan selanjutnya adalah melakukan propaganda diinternal. Dengan menggunakan teknik glittering generalities—teknik ini bisa ditempuh dengan cara pembuatan kata-kata, kalimat, slogan, dan pernyataan yang berkaitan dengan kehormatan, perdamaian, cinta negara dan sejenisnya—, Sholeh Darat mampu mempersatukan dan menyolidkan barisan umat Islam.
Propaganda Untuk Menyatukan Umat
Propaganda di sini memiliki konotasi positif, yakni bermakna menyatukan. Dalam bahasa sekarang, propaganda yang dilakukan oleh Kyai Sholeh Darat bisa dimaknai sebagai upaya serius untuk melakukan bela negara; mempertahankan dan menjaga bangsa dan negara ini dari berbagai ancaman yang mengintainya.
Apa yang dilakukan oleh Sholeh Darat di masa lampau memberikan isyarat kuat bahwa bela negara merupakan sesuau yang integral dengan agama. Dan kegigihan Sholeh Darat ini juga harus menjadi spirit generasi masa kini untuk senantiasa melakukan bela negara sesuai dengan kemampuan dan kondisi, tidak harus perang fisik. Karena spirit perlawanan Sholeh Darat adalah “pembebasan” atau kemerdekaan.
Jika direfleksikan dalam konteks kekinian dan kedisinian, maka spirut bela negara itu bisa dalam bentuk membebaskan belenggu kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan masyarakat Indonesia.
Inilah bela negara saat ini. Untuk itu, mari turut menjadi bagian dalam membala negara kita tercinta ini. Tentu bela negara dengan kadar kemampuan dan bidang masing-masing.
Penulis adalah Direktur Abana Institute, alumnus UIN Walisongo Semarang, Pengajar di Pondok Pesantren Putra Fatahillah Jakarta.
Sumber Ilustrasi: islami.co
Editor: Dartim I.R.