Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

“Risalah” Di Balik Hadirnya Covid-19

Budi Nurastowo Bintriman by Budi Nurastowo Bintriman
Juni 6, 2020
in Report
0
“Risalah” Di Balik Hadirnya Covid-19
15
SHARES
89
VIEWS

Semua peristiwa sejatinya selalu punya makna. Perkara yang sangat sepele sekalipun, sejatinya mengirim pesan yang tidak sepele bagi umat manusia. Sayangnya, tidak semua manusia mampu menangkapnya. Sayangnya, ini hanya bisa difahami oleh sedikit manusia. Mereka itu manusia-manusia istimewa, yang dalam Islam disebut sebagai ulul-albab atau juga insan kamil.

Perkara yang sangat sepele itu misal daun yang musti lepas dari tangkainya atau berguguran ke bumi. Pernahkah peristiwa yang demikian menjadi perhatian kita? Pernahkah kita memikirkannya? Kemudian misal tentang proses atau mekanisme pernafasan kita. Pernahkah kita memikirkannya? Misal tentang gerak kedipan mata. Bilamana kita tak berkedip dua menit saja rasanya sudah pedih. Pernahkah kita memikirkannya?

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Kini muncul perkara luar biasa, yaitu wabah global corona atau pandemi covid-19. Maka tentu bisa dipastikan, bahwa itu membawa pesan luar biasa bagi umat manusia. Pesan apa yang hendak disampaikannya? Kembali lagi, hanya para ulul-albab dan atau hanya para insan kamil sajalah yang mampu memahami pesan tersebut.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Furqan: Ciri-ciri Generasi ‘Ibadur Rahman

Pesan Jangan Terlalu Angkuh

Bagi manusia-manusia sekuler, mereka sibuk riset, sibuk cari obat, sibuk mengantisipasi penyebaran dan lain sebagainya dari segi medis belaka. Jika kemudian mereka mampu mengatasi wabah corona, maka mereka semakin angkuh dan takabur. Perjalanan hidup kemudian kembali seperti sediakala. Maka peristiwa besar pandemi covid-19 kemudian berlalu tanpa kesan dan tanpa makna.

Kehidupan mereka jalani dengan budaya profan, positivistik, materialistik dan individualistik. Tuhan, mereka posisikan dipinggiran belaka. Atau bahkan sampai pada batas ditiadakan. Otak, rasio, logika, sains, dan ilmu, mereka junjung setinggi-tingginya.

Mereka tetap angkuh dan takabur. Mereka tak memperoleh hikmah apapun di balik peristiwa wabah virus corona ini, kecuali meningkatnya ilmu medis. Misal dengan ditemukannya vaksin corona.

Jangan Terlalu Takut

Di sisi lain, ada manusia-manusia yang merasa dekat dengan Tuhan, kemudian mereka menafikan segala ikhtiar penanganan dan pencegahan wabah corona. Mereka gembar-gemborkan, bahwa taqdir sakit dan taqdir mati adalah kepastian dari Tuhan. Maka menurut mereka, kita harusnya hanya takut kepada Tuhan, jangan takut terhadap corona. Dalam terminologi kalam, mereka bisa disebut sebagai neo-jabariyah.

Manusia-manusia yang merasa paling dekat dengan Tuhan ini sukanya mengolok-ngolok orang yang waspada mencegah corona. Bagi mereka, upaya waspada cegah corona dituduh sebagai takut yang berlebihan atau panik atau tak ada tawakal atau tipis iman. Padahal mereka sendiri belum tentu bisa membedakan mana nekat, mana fatalistik, mana waspada dan mana yang panik.

Mereka mungkin tak tahu sejarah, bahwa lockdown adalah anjuran Rasulullah Saw di saat ada penyakit yang mewabah. Mereka mungkin tak faham, bahwa social distancing sesungguhnya pernah diterapkan oleh Amru bin Ash sebagai gubernur Negeri Syam. Di mana saat itu, negeri Syam terserang wabah penyakit seperti bisulan yang menjijikkan dan mematikan. Itu terjadi sekitar 1500 tahun yang lalu.

Pesan Kebaikan Hadirnya Covid-19

Jadi apa pesan di balik wabah virus corona ini? Pesan tersebut adalah : (1) Umat muslim harus tetap berpegang-teguh pada ajaran Islam. (2) Ada kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah (taqarub ilallah). (3)  Umat manusia musti bersatu dan kompak (ukhuwah insaniyah) “melawan” wabah ini.

(4) Didahului dengan kesatuan antara doa khusyu’ dan ikhtiyar maksimal, serta yang terakhir kemudian tawakal. (5) Tawakal yang sempurna akan memberi serba kebaikan dari hasil yang berupa apapun.

Mengapa musti ada persatuan dan kekompakan umat manusia? Karena karakter persebaran virus corona sama sekali tak pilih-pilih suku, ras, agama, antar golongan, status sosial dan latar belakang apapun. Maka mutlak dibutuhkan persatuan.

****

Sedang kekompakan juga mutlak dibutuhkan.  Karena persebaran virus corona bisa diputus mata-rantai persebarannya (hanya) dengan kekompakan tersebut. Kerjasama umat manusia untuk kepentingan utama (menyelamatkan nyawa), hukumnya wajib. Sekali lagi, hukumnya wajib (maqashidu syari’ah).

Baca Juga: Benarkah Cara Beragama Muhammadiyah Bercorak Individualistik dan Egoistik?

Di sini bukan sekedar kompak menghadapi persebaran virus corona. Misal kompak pada upaya social distancing atau lockdown. Bukan sekedar itu. Tapi umat manusia juga musti kompak menghadapi segala resiko atau konsekuensi yang muncul dari social distancing ataupun lockdown.

Kaum kaya musti rela untuk menjamin atau menanggung ekonomi atau kehidupan kaum miskin. Karena saat social distancing atau lockdown, merekalah yang paling kena dampaknya secara langsung. Karena pendapatan mereka harian. Nah, inilah pesan terpenting wabah corona tersebut!

Pancasila: Pemicu Ukhuwah Insaniyah

Sebuah pesan yang selama ini kemungkinan besar sudah tak diindahkan lagi oleh umat manusia. Kabar buruknya, negeri kita Indonesia sangat jomplang dan sangat senjang antara kaum kaya dengan kaum miskin. Tapi kabar baiknya, kita punya Pancasila, kita punya agama, kita punya norma-norma sosial dan kita punya Islam yang mengajarkan ukhuwah insaniyah. Ini ujian terberat bagi bangsa dan umat Islam Indonesia. Ujian untuk mewujudkan prinsip-prinsip “takaful“.

Prinsip-prinsip “takaful” yang lintas suku, lintas agama, lintas aliran dan golongan. Prinsip “takaful” merupakan puncak dari konsep ukhuwah insaniyah.

Di mana tiga tahapan di bawahnya adalah tahapan ta’aruf, tahapan tafahum, dan tahapan ta’awun. Jika bangsa ini gagal dalam melewati ujian pada prinsip-prinsip “takaful” ini, maka kemungkinan besar, Indonesia akan “dikiamatkan” oleh corona. Semoga ini tidak terjadi tentunya.

Editor: Dartim I.R.

Terkait

Tags: Bantuan KemanusiaanCoronacovid-19PandemiPesan Kebaikan
Previous Post

Apa itu “The New Normal” ?

Next Post

Keragaman Makna Kafir Menurut Buya Syakur

Budi Nurastowo Bintriman

Budi Nurastowo Bintriman

Next Post
Hukum radikal

Keragaman Makna Kafir Menurut Buya Syakur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.