Abdul Wahab Chasbullah adalah tokoh ulama besar yang sangat berpengaruh di Indonesia. Sebagai seorang kiai, beliau tidak hanya dikenal sebagai ahli dalam ilmu agama tetapi, dikenal juga sebagai sosok organisatoris, pejuang kemerdekaan dan ahli strategi dalam bidang politik.
Sebagai kiai yang ahli dalam bidang politik. KH. Abdul Wahab Chasbullah sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Kedekatan KH. Abdul Wahab Chasbullah dengan Presiden Soekarno, bukan saja karena kepentingan politik kekuasaan.
Walaupun semenjak terpilihnya KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagai Rais Am Nahdlatul Ulama pada tahun 1950, kekuatan partai politik Nahdlatul Ulama semakin kuat. Kedekatan K.H. Abdul Wahab Chasbullah dengan Presiden Soekarno mempunyai tujuan tentang keumatan maupun kebangsaan.
Saking akrabnya KH. Abdul Wahab Chasbullah dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno pernah diberi nama tambahan Muhammad didepan nama Soekarno oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah, bahkan ketika Presiden Soekarno ada acara kunjungan keluar negri selalu didampingi oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah.
Wahab Chasbullah Guru Politik Soekarno
Keputusan politik yang diambil oleh Presiden Soekarno, tentu saja banyak yang dipengaruhi oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah, karena ketika Presiden Soekarno mengalami kesulitan mengenai masalah Negara dan Pemerintahan selalu meminta saran kepada KH. Abdul Wahab Chasbullah.
Salah satunya ketika Presiden Soekarno meminta saran kepada KH. Abdul Wahab Chasbullah tentang pembebasan Irian Barat dari Belanda dan strategi politik program Trikora (Tri Komando Rakyat).
Baca Juga: Cara Masuk Surga ala NU & Muhammadiyah
Ketika itu Presiden Soekarno memiliki gagasan untuk melakukan pembebasan Irian Barat dari Belanda yang telah direncanakan dalam sidang BPUPKI. Isi sidang tersebut adalah menentukkan cakupan wilayah Republik Indonesia yang hendak dibentuk. Irian Barat merupakan salah satunya.
Beberapa jalur diplomatik telah dilakukan oleh Presiden Soekarno untuk pembebeasan Irian Barat, dari melalui Konferensi Meja Bundar sampai Sidang Majelis Umum PBB, tetapi tidak pernah berhasil. Pada tahun 1956 Presiden Soekarno menggelorakan pembebasan Irian Barat, baik di dalam negeri maupun saat keluar negeri.
Aksi Pembebasan Irian Barat
Tidak ketinggalan pula saat Presiden Soekarno berkunjung ke Amerika, Presiden Soekarno mengutarakan gagasanya tentang pembebasan Irian Barat kepada Presiden Eisenhower, tetapi hanya ditanggapi dingin.
Pada tahun 1957 dilancarkan aksi-aksi pembebasan Irian Barat diseluruh tanah air, yang dimulai dengan men-Nasionalisasikan perusahaan Belanda di Indonesia. Kemudian dilanjut dengan Indonesia mengeluarkan ultimatum bahwa maksimal tahun 1960 Belanda sudah harus menyerahkan Irian Barat ke Indonesia. Hal tersebut menuai ketegangan antara Presiden Sukarno dan Belanda.
Beberapa perundingan selalu gagal, akhirnya Presiden Soekarno menghubungi KH. Abdul Wahab Chasbullah, di tambak beras Jombang. Dijelaskan dalam buku Tambak Beras: Menelisik Sejarah, Memetik Uswah (2018) Presiden Soekarno menanyakan bagaimana hukumnya orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat.
****
“Hukumnya sama dengan orang ghosob.” Jawab KH. Abdul Wahab Chasbullah dengan tegas.
“Apa artinya ghosob, Kiai?” Tanya Presidan Soekarno.
“Ghosob itu istihqoqu malil ghairi idznihi (menguasai hak milik orang lain tanpa izin)” jawab KH. Abdul Wahab Chasbullah.
“Lalu bagaimana solusi menghadapi orang yang ghosob?” Tanya Presiden Soekarno.
“Adakan perdamian.” Tegas KH. Abdul Wahab Chasbullah.
“Menurut insting Kiai, apabila jika diadakan perundingan damai akan berhasil?, sementara penduduk ini sebenarnya sudah tidak sah sebagaimana isi perjanjian sebelumnya” Tanya Presiden Soekarno.
“Tidak.” Jawab KH. Abdul Wahab Chasbullah
“Lalu, kenapa kita tidak potong kompas saja, Kiai?” Tanya Presiden Soekarno
“Tak boleh potong kompas dalam syariah.” Jawab KH. Abdul Wahab Chasbullah
Perundingan Hingga terjadi Tri Kora
Kemudian setelah itu, Presiden Soekarno mengutus Soebandiro mengadakan perundingan yang terakhir kali dengan Belanda untuk menyelesaikan konflik Irian Barat. Namun Perundingan yang dilakukan gagal. Kemudian Presiden Soekarno menyampaikan kegagalannya kepada KH. Abdul Wahab Chasbullah.
“Kiai, apa solusi selanjutnya menyelesaikan masalah Irian Barat?” Tanya Presiden Soekarno
“Akhodzahu qohron! (Ambil, kuasai dengan paksa!)” Jawab KH. Abdul Wahab Chasbullah
“Sebenarnya, apa rujukan Kiai untuk memutuskan masalah ini?” Tanya Presiden Soekarno
“Saya mengambil literature kitab Fathul Qorib dan syarahnya (Al-Bayjuri). Jawab KH. Abdul Wahab Chasbullah
Baca Juga: Zakiyuddin Baidhawi: Tiga Nilai Pembangun Peradaban
Kemudian pada tanggal 19 Desember 1961 Presiden Soekarno mengumandangkan program Tri Kora di Yogyakarta. Program Tri Kora ini menuai pro dan kontra, terutama Bung Hatta yang dari awal tidak setuju dengan pembebasan Irian Barat.
Menurut Bung Hatta, Irian Barat tidak termasuk sebagai wilayah Indonesia, karena secara ras berbeda. Jika kita mengambil Irian Barat, secara tidak langsung kita telah menjajah Irian Barat dan juga Indonesia tidak memiliki kekuatan militer yang bisa menandingi Belanda.
Kritik Pembebasan Irian Barat
Kritik tersebut tidak hanya dilontarkan oleh Bung Hatta, tetapi juga dari kelompok oposisi Presiden Soekarno seperti Masyumi dan PSI. Kemudian dilanjut dengan kritikan dari Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, bahkan Amerika juga tidak mau memberikan bantuan senjata untuk pembebasan Irian Barat.
Lagi-lagi Presiden Soekarno menghadapi kesulitan. Kemudian Presiden Soekarno meminta nasihat kepada KH. Abdul Wahab Chasbullah. KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagai ahli strategi dalam bidang politik dan kemiliteran memberikan nasihat kepada Presiden Soekarno untuk harus menjalankan diplomasi Cancut Tali Wondo. Sebuah strategi politik dengan langkah-langkah yang harus dilaksanakan sungguh-sungguh hingga tuntas agar terwujud kehidupan politik dalam negeri yang sehat.
Pertama, partai-partai politik harus diberi jaminan partisipasinya secara adil dan jujur. Kedua,rakyat harus diangkat dari lembah kemiskinan. Ketiga, industri rakyat harus dilindungi dan diberi bantuan yang layak. Keempat, penghematan harus berlaku di semua kalangan. Kelima, hak-hak demokrasi harus dilonggarkan agar rakyat diberi ketentraman dan kebebasan mengeluarkan pendapat.
****
Keenam, umat Islam jangan terus dicurigai karena itikad mereka hanyalah hendak menyelamatkan bangsa dan Negara. Ketujuh, untuk melaksanakan diplomasi ini membutuhkan waktu, karena menata persoalan dalam negeri yang kompleks itu cukup lama, dengan begitu dibutuhkan kerja keras karena disaat yang sama musuh sudah mulai menyerang.
Kedelapan, kita tidak bisa melakukan diplomasi dengan Belanda secara jantan dan setara. Kalau kondisi militer kita keropos, karena itu militer harus diperkuat. Orang baru bisa bersikap “keras” (tegas) dalam berdiplomasi kalau mempunyai “keris” (senjata).
Kemudian Presiden Soekarno menjalankan nasihat KH. Abdul Wahab Chasbullah dengan segera memerintahkan menterinya untuk memperbaiki sistem politik dan mengutus Jendral Nasution untuk membeli senjata ke Uni Soviet.
Nasehat yang Mengagetkan
Indonesia mendapatkan senjata yang dibutuhkan, baik pesawat tempur mutakhir dan juga berbagai kapal perang mutakhir. Kemudian mendapat dukungan dari kalangan santri, aktivis NU dan Lembaga Misi Islam milik NU untuk turun membina masyarakat di pedalaman Irian.
Nasihat KH. Abdul Wahab Chasbullah tidak meleset. Persiapan militer Indonesia mengagetkan pihak militer Amerika dan Belanda yang menganggap tentara Indonesia tidak mempunyai kemampuan offensif. Menurut penilaian Amerika, Belanda tidak akan mampu menghadapi persiapan Indonesia dengan persenjataan yang serba modern dan kuat. Akhirnya Presiden Soekarno mampu membebaaskan Irian Barat dari Belanda.
Baca Juga: Pemuda Ashabul Kahfi Dikarantina 309 Tahun Terasa Sehari
Tampaknya diplomasi serta strategi politik Cancut Taliwondo yang disampaikan KH. Abdul Wahab Chasbullah cukup memberikan inspirasi sekaligus spirit kepada Presiden Soekarno. Hal tersebut menggambarkan keakraban KH. Abdul Wahab Chasbullah dengan Presiden Soekarno dalam membangun Bangsa dan Negara.
Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Darussalam Kunir dan Aktivis HMI Cabang Sukoharjo
Sumber Ilustrasi: islami.co