Pada hari Sabtu, (16/5), Jama’ah Shalahuddin Universitas Gadjah Masa mengadakan kegiatan Safari Ilmu di Bulan Ramadhan. Kegiatannya berupa kajian online yang diisi oleh Dr. Muhammad Supraja, S.H., S.Sos., M.Si. Kajian ini mengambil tema “Ilmu Sosial Profetik sebagai Alternatif Paradigma Keilmuan Sosial”.
Kritik Modernitas
Dalam penyampaiannya, Muhammad Supraja mengatakan bahwa umat manusia pernah mengalami sebuah masa dimana ada revolusi sains. Ini terjadi ketika sains berkembang dengan begitu cepat, kemudian menghasilkan sebuah ideologi besar bernama modernisme. Modernisme kemudian membuat perubahan-perubahan yang sangat fundamental dalam kehidupan. Modernisme mengandalkan bahwa kehidupan manusia akan lebih mudah dan makmur, dan kemanusiaan akan lebih baik. Namun faktanya tidak selalu seperti itu. Ada yang kemudian disebut dengan krisis modernisme. Dan modernisme juga sudah cukup banyak mendapatkan kritik dari beberapa ilmuwan.
Supraja membagi kritikus modernitas ini menjadi beberapa kelompok. Pertama, dari Mazhab Frankfurt. Mereka menganggap bahwa modernisme adalah capaian yang penting sehingga merupakan projek yang harus dilanjutkan. Kalau terjadi krisis maka yang harus dibenahi adalah krisisnya. Tokoh-tokoh generasi pertama Mazhab Frankfurt adalah Marcuse dan Adorno. Menurut mereka sains modernisme melahirkan mitos-mitos baru walaupun seolah-olah menghilangkan mitos-mitos kehidupan pra-modern.
Mereka juga mengkritik universitas, bahwa universitas hanya menjadi kaki tangan kapitalisme. Keilmuan, riset, dan output dari universitas selalu menguntungkan kapitalisme. Masyarakat hanya mendapat hal-hal yang kecil saja. Generasi kedua Mazhab Frankfurt ada Jurgen Habermas, yang banyak menginspirasi teori ilmu sosial profetik Kuntowijoyo.
Kelompok kedua menurut Supraja adalah kelompok ilmu sosial dengan tradisi fenomenologi. Mereka mencoba melakukan redefinisi terhadap sains. Di sosiologi pengaruhnya sangat besar. Mereka menghendaki perubahan mendasar dalam melihat relasi-relasi keilmuan. Kemudian yang ketiga adalah penganut postmodernisme.
Kritik Modernitas di Indonesia
Supraja mengatakan bahwa Indonesia juga tidak luput dari pengaruh dinamika keilmuan dari luar. Masyarakat Indonesia pernah merasakan krisis pada sekitar tahun 1980 an yang bersamaan dengan kelahiran ilmu sosial profetik. Waktu itu Indonesia sedang berada dibawah rezim otoriter. Indonesia banyak sekali mengadopsi produk sains yang diterima baik secara sukarela maupun karena dipaksakan oleh institusi internasional.
Ia memberikan contoh Revolusi Hijau, yang dulu masyarakat berfikir bahwa revolusi ini akan membawa keuntungan di Indonesia dengan meningkatnya panen dan lain sebagainya. Sebagai persyaratan untuk melakukan Revolusi Hijau, Indonesia harus mengimpor berbagai macam teknologi dari luar seperti mekanisasi pertanian dan pestisida. Belakangan masyarakat baru sadar bahwa itu semua memiliki dampak yang serius terhadap lingkungan.
Supraja juga menceritakan bahwa pada tahun 1980 an muncul semacam dinamika pergulatan pemikiran yang mengkritik modernisme dan kapitalisme. Ada Arief Budiman yang baru saja meningal dunia, Romo Mangun, Amien Rais, Hidayat Nata Atmaja, Adi Sasono, dan masih banyak lagi yang melakukan kritik terhadap modernisasi dalam kehidupan ekonomi, politik, pertanian, dan lain-lain.
Kemunculan Ilmu Sosial Profetik
“Kuntowijoyo pada tahun 1980 an mengembangkan pendekatan Ilmu Sosial Profetik. Pendekatan ini bukan tiba-tiba datang dari langit. Ada banyak proses yang mendahului. Misalnya dalam menetapkan nama saja ia lahir dari pergulatan pemikiran yang cukup panjang seiring bersamaan dengan konsep Teologi Transformatif yang digagas oleh Muslim Abdurrahman”, ujar Supraja.
Di Amerika Latin ada juga teologi transformatif yang kurang lebih sama dengan teologi transformatif yang dikembangkan oleh Muslim Abdurrahman di Indonesia. Para ilmuwan merumuskan agar kehidupan sosial ekonomi ini tidak hanya dinikmati oleh orang kaya saja, namun juga orang-orang yang termarjinalkan.
Menurut Supraja, selain Ilmu Sosial Profetik, ada ilmuwan sosial ahli filsafat yang mengembangkan islamisasi sains, yaitu Ismail Raji al-Faruqi. Ia adalah seorang ilmuwan kelahiran Pakistan yang berkarir sebagai akademisi di Amerika. Namun ini berbeda dengan apa yang dikembangkan oleh Kuntowijoyo. Di Malaysia juga ada Islamisasi sains. Bahkan mereka punya institusi pendidikan yang Menggarap serius isu-isu ini. Penggagasnya adalah Syed M Naquib Al-Attas.
Kriteria Dasar Ilmu Sosial Profetik
Ilmu Sosial Profetik, menurut Supraja, memiliki beberapa kriteria dasar. Misalnya ini adalah ilmu sosial yang sama sekali tidak anti Barat. Bagi Kuntowijoyo, Islam adalah agama yang terbuka. Islam pada zaman keemasan memiliki tradisi peradaban yang sangat terbuka. Misalnya Kuntowijoyo menunjukkan bahwa banyak ilmuwan muslim di era keemasan yang menterjemahkan kitab-kitab filsafat dari Yunani. Termasuk mengambil gagasan-gagasan dari Persia & China. Bahkan, ilmuwan muslim bukan hanya menterjemahkan, namun berhasil melakukan inovasi. Misalnya mereka mampu menemukan problem-problem eksistensial yang belum dibahas oleh Plato & Aristoteles. Sehingga, menurut Kuntowijoyo, tetap sah untuk mendayagunakan teori-teori sosial yang berkembang di era kontemporer.
Baca juga: Haedar Nashir: Keimanan yang Membumi
Ciri kedua Ilmu Sosial Profetik adalah bahwa meminjam konsep atau teori bukanlah suatu hal yang dilarang dalam Islam. Ciri ketiga, Ilmu Sosial Profetik ini tidak hanya mengenal sumber pengetahuan menjadi dua. Yaitu empiris dan rasio. Ada pula sumber pengetahuan dari wahyu. Wahyu ini tidak banyak dipakai oleh ilmu sosial barat. “Terlalu sempit kalau dinamika keilmuan hanya didasarkan pada empiris dan rasio. Bahwa karya para pemikir besar muslim adalah berupa integrasi sains dengan wahyu. Seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Al-Kindi, dan lain-lain. Dimensi wahyu sangat kental dalam narasi-narasi keilmuan mereka”, lanjut Supraja.
Dosen Fisipol UGM ini mengatakan bahwa Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo menjadikan wahyu sebagai sumber kebenaran. Misalnya Kuntowijoyo menyebutkan bahwa semangat Ilmu Sosial Profetik didasarkan pada surat Ali Imron ayat 110 yang mengatakan bahwa umat Islam adalah umat terbaik. Ayat ini mengandung tiga dimensi pokok dalam Ilmu Sosial Profetik, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi.
Humanisasi, Liberasi, dan Transendensi
Liberasi berarti ketika manusia terbebas dari berbagai macam tekanan mitos, irrasional, dan berani mengkritik persepsinya selama ini. Humanisasi berarti bahwa ilmu sosial profetik harus memuliakan manusia. Harus menempatkan manusia sesuai dengan porsinya. Hal ini berarti menarik garis demarkasi dengan ilmu positivistik yang menempatkan manusia sebagai benda. Manusia harus diletakkan pada porsinya sebagai manusia. Istilah yang sering dipakai adalah memanusiakan manusia.
Transendensi berarti bahwa manusia memiliki kapasitas ilahiyah. Dengan kapasitas ini manusia memiliki kemampuan untuk mengatasi sejarah. Meskipun manusia pernah mengalami masa-masa traumatik misalnya, ia tidak harus selamanya jatuh pada traumatik itu. Kuntowijoyo mengembangkan 3 unsur ini dalam Ilmu Sosial Profetik.
Reporter: Yusuf R Yanuri