Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Muhammad Ali: Semua Berebut Klaim Islam

AdminKS by AdminKS
April 24, 2020
in Report
0
Pada hari Selasa, 28 April 2020, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu mengadakan Pengajian Daring dengan tema Ramadhan untuk Peradaban

Muhammad Ali mengaku bahwa sejak kecil sampai sekarang, ketika ia mempelajari Islam, ia melihat dan merasakan langsung ada yang tetap dan ada yang berubah

20
SHARES
116
VIEWS

Pada tanggal 24 April 2020, Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan diskusi secara daring melalui video conference. Yang menjadi pemateri dalam diskusi tersebut adalah Profesor Muhammad Ali. Dalam diskusi ini Muhammad Ali membedah buku Shahab Ahmed yang berjudul What is Islam?

Muhammad Ali mengaku bahwa sejak kecil sampai saat ini, sepanjang ia mempelajari Islam, ia melihat dan merasakan langsung ada yang tetap dan ada yang berubah dari pemahamannya. Apalagi Islam yang muncul di Makkah dan Madinah sejak zaman Nabi sampai sekarang. Tentu sudah banyak sekali yang berubah. Apa yang sekarang kita sebut dengan Islam, belum tentu pada zaman Nabi juga disebut dengan Islam. Dan ini berlaku bagi semua agama.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

baca juga: Menyambut Bulan Suci yang Tidak Suci-Suci Amat

Berebut Klaim Islam

Menurut Muhammad Ali, mengkaji Islam itu tidak sama dengan menjadi muslim. Artinya, orang yang menganggap dirinya muslim belum tentu bisa menjelaskan apa itu Islam, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Di sisi lain, orang yang bisa menjelaskan apa itu Islam, belum tentu ia adalah seorang muslim.

Masalah yang muncul kemudian adalah bahwa banyak sekali klaim-klaim terhadap Islam. Misalnya FPI, Wahabi, Sufi, Tarekat, dan lain-lain yang berbeda, saling berebut klaim sebagai muslim. Seolah-olah antar klaim ini ada kontradiksi. Ada yang mengatakan bahwa hanya Alquran saja yang memiliki otoritas, tidak percaya pada hadits. Di sisi lain, ada yang mengatakan bahwa hadits tidak dapat dilepaskan dari Alquran. Dan seterusnya. Keduanya saling klaim sebagai muslim.

“Kalau banyak klaim, lalu bagaimana kita mengkaji islam? Sedangkan setiap dari kita memiliki klaim tersendiri. Ini adalah latar belakang kenapa Shahab Ahmed berusaha untuk merekonseptualisasi bahwa Islam itu human and historical phenomenon of what it means to be a moslem (fenomena manusiawi dan sejarah tentang apa yang mereka anggap sebagai Islam). Artinya islam itu sebagai objek kajian, sebagai kategori, sebagai istilah analisis, harus merangkum semua. Terbuka terhadap perbedaan, bahkan terhadap semua kontradiksi dan pertentangan”, ujarnya.

Muhammad Ali berpesan agar seorang sarjana muslim tidak mengatakan misalnya, “karena saya sunni saya tidak mau mengajarkan tentang syiah”, atau mengatakan bahwa syiah sudah tidak Islam. Seorang sarjana muslim secara ilmiah harus mengatakan bahwa, menurut Fulan, Alquran itu seperti ini, menurut Fulan, seperti itu, dan seterusnya.

Pemaknaan Konsep Agama Non-Mainstream

Al-Hallaj atau Ibnu Arabi misalnya, banyak dikatakan sebagai orang yang sudah kafir. Menurut Muhammad Ali, kita tidak bisa dengan seenaknya mengeluarkan Ibnu Arabi dari kurikulum studi Islam. Jika ada sufi yang menulis puisi tentang khamr, misalnya, itu tidak berarti dia sudah bukan Islam. Padahal, ada puisi, praktek, dan pemahaman terhadap khamr yang berbeda dari pemahaman masyarakat pada umumnya. Jadi meskipun ada yang mainstream dipahamui sebagai Islam, tidak berarti yang selain mainstream itu sudah bukan bagian dari Islam lagi.

Muhammad Ali melanjutkan dengan mengatakan bahwa dalam kontkes kajian Islam, kita harus memasukkan semua pemaknaan konsep-konsep agama, termasuk yang tidak mainstream. Selama konsep itu ada hubungannya dengan pencipta dan wahyu. Konsep-konsep ini harus disampaikan apa adanya, terlepas dari pendapat subjektif kita terhadap pemaknaan-pemaknaan tertentu.

Menurut Muhammad Ali, buku ini dimulai dari banyak literatur kitab klasik. Salah satunya adalah Abu Hasan al-Asy’ari, dalam kitabnya Maqolatul Islamiyyin wa Ikhtilafil Musollin. Shahab Ahmed mengutip perkataan Al-Asy’ari yang berbunyi:

Pasca meninggalnya Nabi, manusia berbeda-beda dalam berbagai masalah. Sebagiannya terus berubah secara dinamis, sebagiannya tetap. Mereka terpecah menjadi banyak kelompok dan golongan. Namun, sebenarnya Islam itu menyatukan mereka dan mampu mencakup semua.

Kontroversi Ibnu Sina

Muhammad Ali bercerita bahwa Ibnu Sina mengatakan dunia itu abadi. Selain itu Ibnu Sina juga mengatakan bahwa Tuhan hanya tahu yang umum (general), tidak mengetahui yang detail (particular). Muhammad Ali memberikan contoh ketia ia sedang melakukan diskusi melalui aplikasi Zoom. Menurut Ibnu Sina, Tuhan tidak tahu hal-hal detail seperti Zoom. Namun, Tuhan tahu apa yang manusia lakukan secara umum. Tuhan menciptakan hukum alam, dan segala sesuatu di dunia berjalan berdasarkan hukum alam itu, yang disebut dengan sunnatullah.

Ibnu Sina juga berpendapat bahwa yang dibangkitkan pada hari kiamat nanti bukanlah jasad manusia, melainkan hanya ruhnya saja. Bahkan, lebih jauh lagi, Ibnu Sina berpendapat bahwa surga dan neraka itu alegoris. Tidak ada surga dalam pengertian ada tanaman, pohon, sungai, susu, dan lain-lain. Begitu pula neraka. Itu semua hanya alegoris saja, tidak nyata, majazi.

“Ibnu sina juga berpendapat bahwa syariah tidak benar secara intrinsik, secara dzati atau hakiki. Tetapi benar secara instrumental, sebagai alat. Syariat itu benar sebagai alat saja. Jadi salat dan puasa misalnya bukan benar sebagai kebenaran yang absolut, tetapi benar secara instrumental, ia benar ketika memiliki makna. Jadi orang itu salat, jika ia bisa memiliki salat untuk mencegah kemunkaran, maka salat itu benar. Tetapi ketika salat itu tidak berfungsi, berarti salat itu tidak benar”, papar Muhammad Ali.

Islam Syariah & Islam Hikmah

Lalu kenapa ada syariat? Karena kebanyakan manusia tidak mampu memahami majaz. Sehingga perlu sesuatu yang konkret dan praktis. Karena itu, kebanyakan manusia perlu syariat. Tetapi tidak semua manusia memerlukan syariat. Maka, al-Ghazali membuat tingkatan al-awwam, al-khass, dan khawasul khawas. Masyarakat awam perlu yang sifatnya praktis seperti salat dan puasa.

Menurut Muhammad Ali, Falsafah itu bukan berarti tidak menggunakan Alquran. Ibnu sina melihat dan memahami alquran. Misalnya al baqoroh ayat 269 yang berbunyi yu’ti al-hikmata man yasya’, wa man yu’ta al-hikmata faqod utiya khoiron katsiro. (Allah memberi hikmah kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan siapa yang diberikan hikmah, berarti telah diberikan kebaikan yang banyak). Ibnu Sina mengartikan falsafah sebagai hikmah, atau hikmah sebagai falsafah.

Hikmah sama akar katanya dengan hukum. Bagi Ibnu Sina, hikmah lebih tinggi daripada hukum yang sifatnya literal atau praktikal. Salah satu hadits yang banya dibahas oleh filosof adalah yang berubnyi: Robbi arina as’ya kama huwa (Tuhan tunjukkan kepadaku sesuatu itu seperti apa adanya).

baca juga: Gen-E: Budaya Empati Milenial di Media Sosial

Menurut Mulla Shadra, sebagaimana yang disampaikan oleh Muhammad Ali, bahwa hikmah itu tidak berarti hukum yang sifatnya halal haram, bagaimana tatacara berwudhu, sah atau tidak sah, puasa batal atau tidak, dan lain-lain. Tapi hikmah dalam pengertian pengungkapan terhadap rahasia, lebih dalam sifatnya. Kemampuan untuk melihat sesuatu apa adanya, mukasyafah, kemampuan melihat dengan mata hati. Namun, masyarakat banyak yang menganggap bahwa yang islam hanya yang hukum saja, yang syariat saja, yang lima rukun Islam saja. Ketika membahas tasawuf dan filsafat dianggap bukan Islam.

Termasuk yang coraknya keras seperti Al-Qaeda dan ISIS. Shahab Ahmed juga masih memasukkan mereka kedalam pembahasan Islam, sekalipun melakukan bunuh diri, menghancurkan perpustakaan, dan lain-lain. Sebagai objek studi, mereka juga termasuk Islam, karena mereka melakukan hal itu berdasarkan pemaknaan terhadap wahyu.

reporter: Yusuf R Yanuri

Terkait

Tags: AgamafilsafatIslamSyariahtasawuf
Previous Post

Solusi Covid-19 Itu Keteladanan Kolektif (2)

Next Post

Rasyid Ridla (9): Wafatnya Sang Pengemban Amanat Moderasi di Mesir dan Arab Saudi

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Rasyid Ridla (1): Penerus Estafet Al-Mannar di Tengah Gejolak Nasionalisme Mesir

Rasyid Ridla (9): Wafatnya Sang Pengemban Amanat Moderasi di Mesir dan Arab Saudi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.