Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kebetulan-Kebetulan dalam Novel The Celestine Prophecy

Budhy Munawar Rachman by Budhy Munawar Rachman
April 22, 2020
in Narasi
0
Akhirnya, menurut The Celestine Prophecy, sebuah kebudayaan baru sedang tumbuh. Setiap orang nantinya, setelah massa yang kritis ini terus berkembang

Akhirnya, menurut The Celestine Prophecy, sebuah kebudayaan baru sedang tumbuh. Setiap orang nantinya, setelah massa yang kritis ini terus berkembang

41
SHARES
244
VIEWS

Di Amerika Serikat, tempat novel The Celestine Prophecy ini pertama kali diterbitkan (1993), pada mulanya keluar edisi yang diterbitkan sendiri. Novel ini tanpa publikasi media, tetapi menyebar dari mulut ke mulut. Rupanya novel ini mencerahkan begitu banyak orang, sehingga laku terjual tiga juta copy! Setelah diterbitkan oleh sebuah penerbit besar Warner Books, terjuallah sekitar delapan juta eksemplar di seluruh dunia, dalam edisi-edisi awalnya, dan menjadi pembicaraan hangat selama bertahun-tahun, sampai sekarang. Sensasi The Celestine Prophecy ini, selanjutnya diikuti beberapa novel lanjutannya, beberapa buku manual, dan satu film.

Sembilan Wawasan The Celestine Propechy

Dalam novel ini digambarkan adanya sembilan wawasan yang intinya mengajak pembaca, untuk menyadari bahwa dewasa ini sedang terjadi sebuah pergeseran besar dalam cara pandang terhadap dunia ini: apakah itu hubungan manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, maupun manusia dengan Tuhan. Pergeseran ini digambarkan sebagai peralihan dari cara pandangan yang mekanistik, seperti dalam fisika klasik Newton, kepada yang lebih holistik—seperti dalam fisika modern.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

baca juga: Rahma el-Yunusiyah: Mendidik Perempuan untuk Membangun Peradaban

Novel The Celestine Prophecy menggambarkan mistisisme dalam bahasa sederhana. Dimulai dengan wawasan yang menceritakan berkembangnya suatu kesadaran diantara individu-individu dalam kelompok massa yang kritis, yang mulai menyadari, bahwa hidup ini adalah suatu perjalanan kosmis yang dibawa oleh “kebetulan-kebetulan hidup yang misterius.” Kita akan bertanya-tanya, di dalam massa (orang banyak), proses gaib yang mana yang akan mendasari kehidupan manusia di planet ini?

Dan pertanyaan ini, manakala diajukan pada saat bersamaan oleh cukup banyak orang, memungkinkan wawasan-wawasan lain muncul di dalam kesadaran, sebab menurut The Celestine Prophecy, bila terdapat cukup banyak individu yang secara sungguh-sungguh mempertanyakan apa yang terjadi di dalam hidup ini, wawasan lain akan terbuka satu demi satu. Menyadari arti dan pesan kebetulan-kebetulan yang hadir dalam kehidupan ini, menurut novel ini akan menyadarkan kita akan tujuan sebenarnya dari kehidupan manusia di planet bumi.

Manusia dan Budaya Berebut Energi

Kemudian wawasan dalam novel ini berbicara mengenai energi. Kehidupan manusia bukan sekedar kehidupan material, tetapi lebih merupakan suatu dinamika dari energi. Setiap ada perhatian dalam hidup kita, di situ ada aliran energi.

Persoalan besar yang digambarkan The Celestine Prophecy adalah: rupanya manusia bergumul untuk kekuasaan, dengan cara mencari energi kehidupan itu ke luar, kepada sesama. Hasrat kuasa menjadi tanda kehidupan manusia, dan itu berarti, selama ini manusia saling mengambil energi untuk memenuhi hasrat kekuasaan. Dan akibatnya, terjadilah kekurangan energi hidup dalam dirinya. Inilah menurut The Celestine Prophecy akar spiritual dari seluruh konflik manusia.

Apa yang memberikan rasa tidak aman dan kekerasan dalam hidup ini, adalah akibat rebutan energi hidup manusia yang terbatas. The Celestine Prophecy menggambarkan rasa tak aman dan kekerasan hanya akan berakhir, jika manusia mempunyai hubungan dengan sumber energi hidup dalam diri kita, yang dalam spiritualitas disebut “energi Ilahi”.

The Celestine Prophecy selanjutnya menyebut tentang perlunya menjalin hubungan dengan Sumber-Segala-Energi. Inilah inti dari seluruh pesan para mistikus agama-agama. Pesan yang akan membawa kita kepada kesalinghubungan antara satu dengan yang lain. Kita akan kehilangan hubungan itu, jika kita ada di bawah tekanan, yang ada akibat seseorang yang telah mencuri energi kita dalam hubungan interpersonal dengan kita.

Para mistikus memberi tahu kita suatu cara hidup yang akan menjaga kita dalam hubungan dengan sesama, dengan alam, dengan Tuhan, yang akan memberi kita pertumbuhan dalam hidup ini, dengan energi yang berlimpah, yang akan memberikan pemahaman atas misi spiritual kita secara pribadi, dalam mengisi dunia kehidupan ini. Untuk mengerti misi spiritual kita itu, The Celestine Prophecy mengajarkan tentang pentingnya memperhatikan gejala kebetulan-kebetulan (“synchronicity”) yang hadir dalam hidup sehari-hari.

Kebudayaan Baru dan Etika Interpersonal

Terakhir, The Celestine Prophecy menggambarkan adanya sebuah etika interpersonal yang baru, yaitu kesadaran bahwa setiap pertemuan pribadi dengan orang-orang, sebenarnya menyiratkan sebuah etika, untuk bersama-sama kita saling meningkatkan kerohanian kita, dengan memandang keindahan yang sedang bekerja dalam evolusi setiap pribadi itu.

baca juga: Gen-E: Budaya Empati Milenial di Media Sosial

Akhirnya, menurut The Celestine Prophecy, sebuah kebudayaan baru sedang tumbuh. Setiap orang nantinya, setelah massa (orang banyak) yang kritis ini terus berkembang, akan menyumbangkan kearifan yang berasal dari pengalaman pribadi dirinya. Berbagi kearifan-kearifan ini akan menyumbang pembentukan kebudayaan yang saling mendukung satu sama lain, dan ikut menyumbang pertumbuhan spiritual banyak orang.

Terkait

Tags: novelResensithe celestine prophecy
Previous Post

Rasyid Ridla (7): Mengritik Kebijakan Politik Inggris Melalui Al-Mannar

Next Post

Menyambut Bulan Suci yang Tidak Suci-Suci Amat

Budhy Munawar Rachman

Budhy Munawar Rachman

Next Post
Doa penutup kegiatan adalah doa yang cukup penting, mengingat doa tersebut harus selalu kita ucapkan setiap mengakhiri kegiatan.

Menyambut Bulan Suci yang Tidak Suci-Suci Amat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.