Pagi yang cerah di desa Umbulmartani, Ngemplak. Ini adalah salah satu kecamatan di kota Sleman. Jaraknya sekitar 13,5 km dari puncak Gunung Merapi sisi selatan. Pagi ini saya memenuhi janji untuk mengikuti cara Bunda Doktor Ruki dari Jogja dan Ustadz Zaini dari Madura menikmati persawahan saat matahari baru terbangun dari lelapnya.
Sepulang dari sawah, saya segera mandi menyegarkan badan, dan kemudian mengupas jeruk untuk mengisi perut. Laptop sudah terbuka, sebentar lagi saya akan sibuk mengarungi teori-teori feminisme dalam kajian perfilman.
baca juga: Soal Kesejahteraan: Jangan Jadi Penonton di Negeri Sendiri
Saya ingat bahwa manusia pada umumnya mempunyai dorongan kuat untuk melihat aktifitas orang lain dalam tempat tersembunyi. Ini teori Psikoanalisa Freud. Bioskop tidak pernah mampu digusur oleh youtube karena faktor dorongan ini. Sekalipun youtube juga menyajikan tontonan film, akan tetapi sensasi ‘mengintip’ itu lebih terasa di ruang gelap seperti bioskop. Laura Mulvey (1975) menyebut hal ini dengan istilah ‘Scopophilia’.
Dorongan Berhubungan secara Online
Saya tidak yakin apakah dorongan untuk berhubungan secara online juga adalah dari ‘scopophilia’ ini. Secara jujur, banyak orang mengikuti Zoom atau Google Meeting hanya untuk mendapatkan sensasi melihat kamera video orang-orang tertentu, terutama mereka yang terkenal. Malam tadi, saya dapat melihat Luqman Hakim, Ulil Absar Abdala, Daniel Dhakidae, dalam Zoom meeting membahas kenangan tentang almarhum AE Priyono.
Zoom meeting yang saya lakukan bersama lima kelas mahasiswa saya di Universitas Ahmad Dahlan sering diwarnai celetukan antar partisipan. Ini juga terjadi pada grup saya yang lain. Ada semacam kerinduan untuk melihat wajah orang yang kita kenal namun belum sempat bertemu.
Manusia memang mahluk yang hidup dalam dorongan, penuh motivasi dan inspirasi. Tanpa motivasi, manusia seakan menjadi mayat hidup (zoombie). Betapa banyak kejadian di muka bumi ini, entah itu kejadian yang baik atau buruk, namun menjadi dorongan penemuan baru atau teknologi baru. Penyebaran Covid-19 ini juga telah melahirkan banyak dorongan positif.
Saling peduli antar warga negara menjadi jejaring pengaman yang paling aman bagi mereka yang sedang kurang beruntung. Tanpa semangat saling peduli ini saya khawatir akan muncul dorongan untuk menjadi ‘homo homini lupus’, karena kelaparan maka orang menjadi kalap untuk merampas milik orang lain.
Di Pulau Bangka, setelah viral kesaksian mimpi Kakek Marsudi di Sungailiat, orang mulai rajin mengumpulkan daun laban (leben dalam bahasa daerah Bangka) karena diyakini mampu mengobati Covid-19. Di grup-grup WA, bertebaran informasi tentang berbagai cara untuk menghindari dan menyembuhkan penyakit paru-paru unik ini. Manusia mempunyai dorongan begitu kuat untuk hidup.
baca juga: Sudah Saatnya Bergerak Bersama Hadapi Corona
Saya mau ke dapur dulu. Setelah melahap jeruk tadi dan segelas bubur kacang hijau, saya ingin membuat kopi susu. Ini usaha saya untuk membangun motivasi melanjutkan kerja dan berkarya untuk ‘sesuap nasi’.