Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Farag Fouda (1): Biografi & Konteks Sosial

Khairul Amin by Khairul Amin
Januari 6, 2022
in Narasi
0
Farag Fouda tidak keliru mengutip beberapa fakta yang ada, namun ia berlainan dalam interpretasi dari para ahli sejarah yang mengkaji secara subtil

Farag Fouda tidak keliru mengutip beberapa fakta yang ada, namun ia berlainan dalam interpretasi dari para ahli sejarah yang mengkaji secara subtil

78
SHARES
461
VIEWS

Tepat sekitar 1 April lalu, saya dihubungi oleh kelompok organisasi mahasiswa (Formasi IPB dan IMM IPB) untuk membedah sebuah buku yang cukup Kontroversial, Kebenaran Yang Hilang (Al Haqiqah Al Ghaibah) karya Farag Fouda pada Ahad, 5 April via Online. Seingat saya, perjumpaan pertama dengan buku itu terjadi sekitar tahun 2016.  Saat masih duduk di bangku semester 4. Saat itu saya pun tertegun membaca narasi-narasi Fouda. Tulisan ini begitu kritis kalau tidak provokatif, sehingga membacanya perlu kritis pula plus kecermatan dan verifikasi beberapa data kutipan. Tulisan singkat ini berisi catatan terhadap karya Fouda tersebut.

Sosok Farag Fouda dan Konteks Sosialnya

Sosok kontroversial itu bernama Farag Fouda. Lewat karyanya yang berjudul Al Haqiqah Al Ghaibah (cet.I 1984, saya temukan cet.III Dar Al Fikr li Al Dirasat) publik Mesir dibuat gempar. Secara berani dan nekad ia tampilkan sejarah berdarah politik muslim, suatu hal yang jarang diungkap politikus muslim, lebih jauh pengusung konsep “khilafah” sebutnya. Tidak tanggung-tanggung, Fouda secara terbuka menggelar arena perdebatan yang kemudian hari jadi sebab pembunuhannya.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

baca juga: Rasyid Ridla (1): Penerus Estafet Al-Manar di Tengah Gejolak Nasionalisme Mesir

Lahir di Kairo pada 20 Agustus 1945, Fouda seorang pemikir berpengaruh, aktivis hak asasi manusia, penulis, dan kolumnis Mesir. Ia mendapatkan gelar M.Sc bidang pertanian dan Ph.D di bidang ekonomi pertanian dari Universitas ‘Ain Syams. Ia juga tercatat pernah Aktif sebagai politisi di Partai Wafd dan Partai Istiqbal.

Sebagai pendaku pandangan penerapan sekularisme dalam bernegara Fouda aktif mengkritik pandangan-pandangan Islamisme, penerapan syariah, dan penegakan khilafah. Bagi Fouda, sekularisme adalah solusi yang masih di tempuh sebagai landasan bernegara. Bersama penulis lain, seperti Muhammad Sa’id Al Asymawi, Salah Isa, Rifat Al Sa’id, Mustafa al-Faki, dan para penulisnya Fouda lantang bersuara.

Dalam konteks umum, kontestasi ideologis gelombang kedua Mesir terjadi selepas kekalahan pada Perang Arab Israel (1967) yang memberikan pukulan psikologis bagi publik Arab secara luas, termasuk Mesir. Bila kita telusuri, gelombang besar pertama, terjadi pada paruh akhir abad ke 19 lewat gerakan anti kolonialisme sekaligus revivalisme Islam yang berujung pada kemerdekaan daerah-daerah muslim (untuk melihat tokoh-tokoh kuncinya, bisa merujuk Modernist Islam 1840-1940 karya Charles Kuzman).

Pasca kemerdekaan terjadilah dialog pembentukan konstitusi negara-bangsa dan tentu dalam banyak kasus tidak terdapat golongan tunggal, seperti kasus Indonesia dan Mesir. Kasus Indonesia bisa merujuk pada Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara: Studi Tentang Perdebatan Konstituante karya Prof Ahmad Syafi’i Ma’arif dan Negara Paripurna karya Yudi Latif. Kasus Mesir bisa rujuk Identity Politics in the Middle East: Liberal Thought and Islamic Challenge in Egypt karya Meir Hatina. Selain itu dapat juga merujuk tulisan Jeffrey T. Kenney (soal ekstrimis muslim), Carmen M.K Gitre (soal gelombang awal politik pra dan pasca kemerdekaan), dan Roel Meijer (soal Kelompok Sekular dan Sayap Kiri). Situasi tantangan modernitas terhadap masyarakat dunia, termasuk muslim Mesir juga menjadi situasi di mana pemikiran Fouda lahir.

Tercatat, beberapa bulan pembunuhan terdapat Fouda, ia terlibat dalam acara debat terbuka dalam sebuah acara pameran buku di Kairo. Bersama dengan Muhammad Ahmad Khalafallah ia berdebat dengan Muhammad Al Ghazali, Ma’mun Al Hudaibi, dan Muhammad ‘Imarah. Syamsu Rizal dalam pengantar terjemah menyebutkan konon sampai 30.000 orang yang menghadiri acara tersebut. Tema yang diperdebatkan ialah relasi politik-agama, negara-agama, syariat Islam dan Khilafah.

Dalam peristiwa inilah adalah puncak kegemparan Fouda yang ia buat secara langsung di depan publik. Beberapa waktu kemudian terbit fatwa bahwa Fouda dianggap murtad yang disambut pembunuhan oleh kelompok ekstrimis yang ditengarai berasal dari kelompok Ja’maah Islamiyah. Dikatakan pula keluarganya terluka parah. Kejadian ini tentu memunculkan perdebatan di antara kita. Kita bisa saja setuju atau tidak atas pembunuhan ini, namun lebih penting lagi kita mestinya bisa belajar dari peristiwa ini, di antaranya menghindari tindak anarkisme, apalagi disaat yang sama statusnya masih ahli kiblat. Di antara kisah yang cukup panjang soal Fouda bisa diakses di www.independentarabia.com dengan keyword: قصة المناظرة التي قتلت المفكر المصري فرج فودة

Catatan dan Tanggapan Terhadap “Kebenaran Yang Hilang”

Mengenai beberapa buku ini saya memiliki banyak catatan sebenarnya. Namun setidaknya catatan tersebut terbagi ke dalam beberapa bagian.

Pertama, soal motivasi penulisan.

Fouda adalah sosok yang pemberani, kalau tidak nekat. Sebagai karya yang ia tahu akan kontroversial karena melawan arus, lebih-lebih bisa menghasilkan konfrontasi dengan kalangan ekstremis, Fouda memilihi menunjukkan keterusterangannya. Bagi saya ini sikap gentle, sebab ia tidak bersembunyi seperti kebanyakan penulis lainnya dalam persoalan ini. Fouda sudah punya posisi (mauqif) sejak awal. Di antaranya ia menulis :

Ia menulis di antaranya, ”Buku ini memuat perbincangan yang mungkin sekali ingin dihindari banyak orang. Kebanyakan orang hanya ingin mendengarkan apa yang mereka sukai. Secara kejiwaan, manusia memang lebih condong untuk meminati aspek yang emosional dan merasa nyaman dengan kebenaran yang dianggap sudah mapan.”

“Ini adalah perbincangan yang bermaksud untuk berterus terang dan terbuka sebisa-bisanya. Tentu dengan pengandaian bahwa keterusterangan dan keterbukaan dalam persoalan ini adalah barang langka. Betapa banyak hambatan untuk bersikap terbuka dan terus terang dalam membicarakan topik seperti ini. Pertama, karena adanya ketakutan. Kedua, karena terlalu banyak hiperbola. Ketiga, karena terlalu berhitung menyangkut segala kemungkinan terburuk yang akan menimpa orang yang mengungkapkannya.”

baca juga: Khilafah tidak Harus “Negara Islam”

“Perbincangan kita adalah tentang slogan-slogan yang memukau orang-orang biasa, tetapi juga dipercayai kaum elitenya dan dipegang teguh oleh orang-orang salehnya. Lalu slogan itu dimanfaatkan oleh orang-orang cerdik untuk memaklumatkan diri sebagai pemimpin massa.”

Jadi dapat motivasi Fouda jelas untuk meng-counter kalangan yang ia anggap sebagai kalangan fundamentalis, ekstremis, dan pemuja romantisisme sejarah yang gagal melihat jernih sejarah tersebut. Maka ia menulis, ”Semua peristiwa dalam sejarah dapat menjadi argumen bagi orang-orang yang menuntut berhukum dengan Islam, atau sebaliknya, justru dapat menjadi bumerang bagi mereka. Fakta-fakta sejarah dapat menjadi senjata mereka atau justru senjata yang akan melukai mereka. Tidak ada argumen yang lebih kokoh selain fakta sejarah, landasan peristiwa, dan dalil faktanya. Karena itu, tidak seorang pun berhak mengingkari referensi-referensi  yang kita rujuk. Semuanya adalah referensi yang juga digunakan oleh orang-orang yang merasa itu berada dipihak mereka.” (4-5). (Bersambung)

Terkait

Tags: farag foudafundamentalisMesir
Previous Post

Rasyid Ridla (2): Pejuang Bersenjata Pena Saat Pecah Perang Dunia I

Next Post

Tafsir: Fenomena Hijrah itu Kemunduran

Khairul Amin

Khairul Amin

Alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, Pegiat Literasi

Next Post
Dalam podcast tersebut, Tafsir membicarakan tentang fenomena hijrah. Tafsir mengungkapkan bahwa agama tidak pernah berakhir.

Tafsir: Fenomena Hijrah itu Kemunduran

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.