Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Neo-Hamanisme: Fenomena Menteri Segala Urusan

Danang Maulana Arif Saputra by Danang Maulana Arif Saputra
April 13, 2020
in Narasi
0
“Hai Haman, apakah aku seorang pendusta?” dengan bertekuk lutut sang menteri pun menjawab “siapa yang berani menuduh baginda pembohong?”

“Hai Haman, apakah aku seorang pendusta?” dengan bertekuk lutut sang menteri pun menjawab “siapa yang berani menuduh baginda pembohong?”

54
SHARES
318
VIEWS

Fenomena menteri yang memiliki kekuasaan besar pernah terjadi di Brasil, Menteri Ekonomi Brasil, Paulo Guedes misalnya, dikenal sebagai “menteri segala urusan” karena besar dan luasnya wewenang yang diberikan oleh Presiden Brasil saat ini, Jair Bolsonaro kepadanya.

Kisah Firaun

Dalam Alquran, kisah tentang menteri segala urusan pernah terjadi di era kekuasaan Fir’aun pada masa Nabi Musa yaitu Minephtah (1232-1224 SM), putra dari Ramses II dan diabadikan dengan indah didalam Alqur’an. Alkisah, pada suatu hari Istana Fir’aun terguncang hebat, Sang Raja yang mengaku sebagai tuhan itu dikalahkan oleh seorang pemuda belia dari Bani Israil bernama Musa, Firaun pun marah lalu mengusir semua pejabat yang ada di istana. Ditengah kemarahan sang raja yang belum reda, ia lalu memanggil kembali para pejabat tersebut.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Baca juga: Bagaimana Menumbuhkan Semangat Literasi? 

Ketika semua para pejabat sudah berkumpul, Fir’aun tiba-tiba bertanya kepada salah satu menterinya. “Hai Haman, apakah aku seorang pendusta?” dengan bertekuk lutut sang menteri pun menjawab “siapa yang berani menuduh baginda pembohong?” ucapnya sembari membela. Lalu Fir’aun pun kembali berkata, “Bukankah Musa mengatakan bahwa ada Tuhan di surga?” ujar penguasa Negeri Mesir, geram.

“Musa telah berdusta!” ujar Haman segera. Ia tentu tak ingin tuannya marah. Hingga kemudian, Haman dengan kedudukannya memberikan pengaruh bagi keputusan raja. Ia dengan mulutnya berusaha memuja dan memuji Fir’aun. “Namun paduka, untuk pertama kalinya saya merasa keberatan. Kendati Anda telah membangun menara menjulang, Anda tak akan pernah menemukan siapa pun di langit. Karena, memang tidak ada Tuhan selain Anda,” ujar Haman ketika ia diperintahkan oleh Fir’aun untuk membuat menara agar mampu untuk bertemu Tuhan-Nya Musa.

Nama “Haman” tidaklah diketahui hingga dipecahkannya huruf hiroglif Mesir di abad ke-19. Ketika hiroglif terpecahkan, diketahui bahwa Haman adalah seorang pembantu dekat Fir’aun. Jabatan formalnya adalah sebagai pemimpin pekerja batu pahat. Alqur’an pun menyebut nama “Haman” sebanyak 6 kali. Lalu apa yang bisa kita ambil hikmah dari seorang menteri bernama Haman ini?

Didalam kitab tafsir Ibnu Katsir Qishashul Anbiya mendeskripsikan jika sosok Haman adalah seorang tokoh antagonis, pejabat penjilat, dan pembisik raja yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap keputusan Fir’aun. Didalam teori Politik dan Sosiologi modern saat ini kita mengenal istilah “Elite Politik” yang memiliki arti sekumpulan orang yang berada dilingkup kekuasaan dan memiliki pengaruh kuat. (Gaetano Mosca, 1941)

Haman Gaya Baru

Istilah Neo Hamanisme adalah istilah yang penulis pakai untuk menggambarkan suatu sikap para “pembantu” pemegang kekuasaan yang memiliki karakteristik seperti Haman. Alqur’an menggambarkan sosok Fir’aun sebagai raja yang otoriter dan pemimpin diktator, sedangkan Haman adalah sosok menteri yang menjadi pembisik sang diktator. Bagaimanapun sekuat-kuatnya diktator ia pasti memiliki orang orang kepercayaan yang memiliki pengaruh kuat. Hitler ketika berkuasa memiliki menteri yang menjadi pembisik utamanya yaitu Rudolf Hess, Joseph Stalin mempunyai Lavrenti Baria sebagai sosok sentral dalam pembuatan kebijakan Uni Soviet, dan begitulah sejarah selalu berulang pada setiap zamannya. Alqur’an selalu mengajari kita sejarah agar manusia mampu untuk mengambil setiap hikmah-Nya.

Terkait

Tags: FiraunHamanMenteriMusa
Previous Post

Tahun 2020 Menjadi Nuqthatul Intilaq (Titik Tolak) Globalisasi NU

Next Post

Merawat Alam, Bersahabat Dengan Lingkungan

Danang Maulana Arif Saputra

Danang Maulana Arif Saputra

Next Post
gunung gundul, sungai mengering, tanah tandus, banjir bandang, dan sebagainya, kini telah menjadi berita harian. Bencana alam datang silih berganti.

Merawat Alam, Bersahabat Dengan Lingkungan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.