Ilmu merupakan modal utama, subyek, dan juga obyek atas perkembangan segala sesuatunya yang ada di dunia ini. Manusia berlomba-lomba melakukan pengembangan, penelitian, dan riset sehubungan dengan ilmu pengetahuan. Bahkan agama menegaskan pentingnya menuntut ilmu. Namun, apakah ilmu itu? Secara etimologi, ilmu berasal dari bahasa Arab ‘alima ya’lamu yang berarti untuk mencari tahu (to know dalam bahasa Inggris). Sedangkan secara terminologi, ilmu atau sains adalah pengetahuan dengan ciri-ciri, tanda-tanda, dan syarat-syarat tertentu.
Ilmu memiliki sifat fleksibel, akan terus berkembang sesuai perkembangan zaman atau kebudayaan dan juga kemampuan bepikir manusia. Kemajuan perkembangan ilmu dalam berbagai segi ini bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Akan tetapi, selalu ada sisi negatif di tiap hal yang eksis di muka bumi ini. Perkembangan dan kecanggihan sebuah konsep ilmu turut menimbulkan kekhawatiran bagi manusia. Ilmu dan teknologi yang semakin maju juga menimbulkan degradasi nilai. Manusia tergantung pada benda-benda yang dikembangkan dari ilmu pengetahuan, seolah tak bisa bekerja tanpa mereka. Akan tetapi produk tersebut memang dibutuhkan untuk membantu manusia dalam melakukan pekerjaan mereka.
Mata Rantai Ilmu Pengetahuan Masa Depan
Hingga saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu pesat. Telah banyak fasilitas yang tecipta demi terwujudnya kemudahan dalam aktivitas manusia. Sejak suksesnya penelitian rekayasa genetika terhadap makhluk hidup yang telah dirintis oleh Dr. Gurdon dari Medical Research Council Laboratory of Molecular Biology, Universitas Cambridge, Inggris pada tahun 1961, teknologi ini seperti menjadi ‘mainan baru’ yang tak bosan diotak-atik oleh para ilmuan genetika. Jika pada masa itu mereka berhasil melakukan kloning pada katak, kapankah teknologi tersebut berhasil pada manusia? Ide melakukan kloning pada manusia ini tampaknya terus menjadi perbincangan oleh berbagai kalangan, dan menjadi kontroversi.
Teknologi kloning ini dikritisi oleh 19 negara Eropa pada tahun 1997 dengan menandatangani pakta yang menyebutkan bahwa mengkloning manusia merupakan pelanggaran martabat manusia dan merupakan penyalahgunaan ilmu. Belum lagi dalam perspektif agama teknik rekayasa genetika tak layak diteruskan karena terkesan membuat manusia berusaha menjadi tuhan, dengan memanipulasi teknologi untuk menciptakan makhluk hidup.
Dalam perkembangan teknologi, kita tak dapat mengesampingkan peran manusia yang harusnya menjadi pengontrol. Teknologi hari esok sangat erat kaitannya dengan manusia yang semakin merasa butuh melakukan banyak hal untuk mempermudahnya melakukan segala sesuatu, yang tentunya berpengaruh pada pola pikir dan menentukan karakter yang akan terbangun.
Sejumlah peristiwa yang terjadi tentunya telah memberikan gambaran atas apa yang akan kita hadapi di masa depan. Membicarakan ilmu pengetahuan, kita tak dapat menomorduakan degradasi moral yang mulai terjadi dan terus meningkat.
Moral merupakan produk yang dihasilkan ilmu pengetahuan yang pada hakikatnya dilakukan dengan memanusiakan manusia.
Degradasi Moral Hari Ini
Hari ini, degradasi moral yang sering disoroti dan menjadi penting adalah tentang perilaku anak muda yang cenderung makin tak terkontrol dan mempengaruhi kebiasaan dan karakter. Selain pekembangan teknologi yang begitu cepat, penyebabnya tentu tak dapat lepas dari banyaknya figur-figur ‘media darling’ yang menunjukkan labilnya karakter manusia yang secara tak langsung menjadi stimulan bagi pengembangan moral generasi muda, serta menghambat implementasi ilmu pengetahuan yang harusnya dapat membangun karakter manusia. Jumlah fenomena degradasi moral yang tidak sedikit menunjukkan bahwa lama kelamaan degradasi moral menjadi sesuatu yang dimaklumi.
baca juga Muhammadiyah Amerika Serikat Serukan 14 Rekomendasi Hadapi Covid-19
Sepuluh hingga lima belas tahun kedepan, anak muda yang saat ini mendapat stimulan tersebut akan menggantikan pemimpin-pemimpin yang ada saat ini. Jika penguatan kualitas karakter dalam implementasi ilmu pengetahuan tak dilakukan secara massive, maka yang nanti terjadi bukan lagi pemakluman terhadap korupsi dan tindakan tak terpuji lainnya, tetapi juga pembiaran yang berarti mengancam mental pemimpin masa depan.
Sebuah Renungan
Pada masa yang akan datang, masyarakat akan mengedepankan prisip individualis dan kurangnya interaksi sosial. Hal ini yang menjadi kekhawatiran jika hari ini masih saja mendiamkan dan memaklumi degradasi moral. Yang tak kalah mengkhawatirkan adalah krisis kemanusiaan karena gagasan, ide, atau ideologi dalam proses ilmu pengetahuan yang tak utuh dan salah interpretasi, yang tentunya berpengaruh pada sikap hingga karakter manusia di masa depan.
Semua agama yang ada di dunia ini mengajarkan umat untuk menuntut ilmu, bahkan behukum wajib. Namun, bukan berarti hal ini menyebabkan kita lepas kontrol dan mengeksplorasi ilmu tanpa mempertimbangkan nilai-nilai dan norma. Disinilah peran agama sebagai kontrol terhadap pengembangan ilmu, agar manusia dapat mengembangkannya dengan benar dan tak kehilangan hati nurani mereka. Agama juga berperan sebagai filter terhadap perkembangan ilmu, memberikan rambu-rambu, bahwa hal positif dari ilmu pengetahuan dapat digunakan dan diaplikasikan dalam kehidupan manusia sementara hal negatif yang dekat dengan degradasi moral disingkirkan.
editor: Arief M