Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Hamka, Tawakal, dan Corona

M Dwi Fajri by M Dwi Fajri
Maret 27, 2020
in Narasi
0
Apakah kita sudah memuliakan bumi sebagai "masjid"? Apakah kita memuliakan ekosistem di muka bumi ini sebagai wujud kita bersujud mengagungkan-Nya?

Apakah kita sudah memuliakan bumi sebagai "masjid"? Apakah kita memuliakan ekosistem di muka bumi ini sebagai wujud kita bersujud mengagungkan-Nya?

29
SHARES
171
VIEWS

Hamka adalah salah satu mufassir besar Indonesia. Di masa-masa sulit seperti ini, kita membutuhkan pencerahan orang seperti Hamka. Mengeluarkan fatwa adalah sesuatu yang tidak mudah. Kalau ulama telah mengeluarkan fatwa, itu artinya mereka telah menembus ruang-ruang sulit. Tanggungjawab mereka terhadap fatwa akan diminta di dunia akhirat.

Kita bukanlah siapa-siapa. Kita tidak bermaksud meninggalkan perbuatan baik. Keadaanlah yang membuat kita harus menghindari mudharat (kebahayaan). Jangan pertentangkan antara kewajiban shalat Jumat dengan imbauan tidak berkumpul-kumpul.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Berusahalah dan berikhtiarlah, setelah itu tawakal. Tawakal wilayah hamba sedangkan takdir wilayah Yang Kuasa. Buya Hamka berpesan:

tawakal tidaklah sama dengan berdiam saja tanpa usaha. Tawakal di sini tidak sekali-kali mengabaikan ikhtiar. Menghindari kemelaratan, kekurangan, atau bahaya tidaklah keluar dari garis tawakal. Tidaklah termasuk tawakal bila kita duduk di bawah pohon lebat yang buahnya berduri dan mudah jatuh digoyang angin. Tidaklah termasuk tawakal bila kita duduk tepian sungai yang meluap atau di bawah dinding yang hendak runtuh atau di atas bukit yang mudah longsor.

Saat hijrah dari Makkah ke Madinah dan dikejar kelompok Quraisy, Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di atas Bukit Tsur. Setelah bersembunyi dan tidak akan kelihatan musuh lagi, barulah berkata pada sahabatnya itu, “Jangan takut, Allah ada bersama kita”.

baca juga: Jasser Auda: Bapak Maqasid Kontemporer

Ringkasnya, tawakal melibatkan rencana dan usaha, termasuk rencana dan usaha yang dilakukan bersama-sama. Akan tetapi orang yang bertawakal tidak mengandalkan rencana dan usaha, tidak menggantungkan diri kepada rencana dan usaha itu. Yang diandalkannya adalah pertolongan Allah. Sebab, sepandai-pandainya manusia mengatur, ada lagi kekuasaan yang tertinggi yang mengatur.

Tawakal adalah akibat yang wajar dari iman. Orang yang tidak beriman tidak mengenal tawakal. Orang yang beriman saja yang dapat berserah diri dan bersandar kepada Allah. Tawakal adalah kekuatan jiwa, karena kita sadar kita punya sandaran yang kuat yaitu Allah. Orang yang bertawakal tidak akan ragu untuk melaksanakan perintah Allah, Rasul-Nya, dan juga melaksanakan keputusan yang dihasilkan oleh musyawarah kaum muslimin. Ditegaskan dalam Al-Quran. “Apabila telah bulat hati (azam) maka tawakallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran/3: 159). Apabila langkah telah diambil, pantangkan mata ke belakang, pantangkan berbalik surut dan serahkan diri pada Tuhan.

Semua hal tetap harus kita perhitungkan, tetapi dengan tawakal, kita selalu ingat bahwa ada hal-hal yang terletak di luar perhitungan kita. Tetapi, orang yang tawakal akan menambah ilmu, karena menambah ilmu itu termasuk tawakal. Dengan sebab ilmu, Tuhan akan membukakan rahasia-rahasia yang mulanya tidak kita ketahui.

baca juga: Apakah Harus Menjadi Miskin Agar Bisa Masuk Surga?

Karena itu, ikutilah keputusan orang yang berilmu tentang wabah Corona, mereka tidak mengatakan apa yang mereka tidak ketahui. Setelah kita berusaha menghindarkan sebab-sebabnya sebagaimana ilmu tentang pandemi Corona; mengurangi aktivitas di luar, tidak ke ruang-ruang berkumpul, menggunakan masker, barulah kita bertawakal dan bersabar. Semoga kebaikan menjadi milik kita. Aamiin.

Terkait

Tags: CoronaHamkamasjidsalat jamaah
Previous Post

Hindari Penggunaan Hadits Dhaif dalam Kasus Corona

Next Post

Pandemi Covid-19: Menimbang Ulang Keputusan Lock down

M Dwi Fajri

M Dwi Fajri

Next Post
Allah akan membimbing dan menunjukkan jalan untuk tetap menjadi sebaik-baik ciptaan (ahsani taqwim) dan memiliki sebaik-baik teman dekat (ahsanu qorina).

Pandemi Covid-19: Menimbang Ulang Keputusan Lock down

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.