Dalam seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah & Aisyiyah 48, Muhammad Ali, Kaprodi Pendidikan Agama Islam UMS dan juga praktisi Pendidikan di Solo, menjadi salah satu pembicaranya. Seminar yang mengangkat tema “Pendidikan Holistik: Ijtihad Muhammadiyah Abad Kedua” ini bertempat di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, pada Sabtu (7/3/2020).
Muhammad Ali mengawali penyampaiannya dengan mengatakan beberapa hal yang menjadikan pendidikan holistik ini menjadi penting. Pertama, konsep pendidikan holistik sesuai dengan konsep pendidikan Ahmad Dahlan. Kedua, pendidikan holistik ini berangkat dari kebutuhan mendesak kelas menengah muslim. Kelas sosial yang mampu membiayai anaknya dengan biaya yang cukup besar, menginginkan sekolah yang baik.
Ketiga, pendidikan holistik juga sesuai dengan semangat yang diberikan pemerintah. Keempat, pendidikan holistik menjadi alternatif pengembangan sekolah Muhammadiyah. Ada nilai tambah yang dikembangkan pada pendidikan holistik.
Memulai Pendidikan Holistik
Lalu, darimana kita dapat memulai menerapkan konsep pendidikan holistik ini? Pertama, Ali menyampaikan bahwa kita bisa memulai dari percikan ide-ide baru dari lingkungan sekolah. Dari ide-ide guru yang mengalami keresahan, Majelis Dikdasmen yang mengalami keresahan, Kepala Sekolah yang mengalami keresahan, dan lain-lain. Biasanya, guru di sekolah Muhammadiyah hanya datang, mengajar, kemudian pulang. Ini yang harus diubah.
Baca Juga: Agus Taufiqurrahman: Memandang Corona Secara Teologi
Kedua, Setelah itu, sekolah juga harus melihat kebutuhan masyarakat. Ali berpesan kepada peserta agar mereka tidak mendirikan sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini dapat dibarengi dengan menghimpun potensi masyarakat.
Ali bercerita bahwa ia pernah menemui sekolah yang kurang berkembang, dengan cara meminta bantuan ke tokoh masyarakat. Ketiga, sekolah harus mampu membangun jejaring. Contohnya, ada Jaringan Sekolah Muhammadiyah. Maka, dengan hal-hal seperti ini, perkembangan sekolah Muhammadiyah yang berjejaring akan lebih cepat daripada yang tidak berjejaring.
Keempat, menurut Muhammad Ali, harus step by step, pelan-pelan, dan sabar. Kelemahan Muhammadiyah adalah sering terburu-buru memiliki murid dan gedung yang banyak. Mereka sering lupa bahwa aset sekolah yang paling mahal adalah guru, bukan hanya gedung. Sehingga tidak perlu terburu-buru mendirikan gedung.
Terakhir, sekolah Muhammadiyah harus fokus pada layanan yang optimal. “Kelemahan kita adalah sering tidak fokus kepada layanan yang optimal. Jadi, untuk dapat benar-benar ingin membenahi sekolah, kita harus fokus pada layanan yang optimal. Dengan itu, prestasi anak akan tumbuh sesuai dengan kemampuan.” Ujar Ali lebih lanjut.
Terobosan-terobosan Sekolah
Ali menceritakan bahwa sekarang mulai ada tren baru di Muhammadiyah. Selama ini, Majelis Dikdasmen kurang berfungsi secara optimal untuk pengembangan sekolah. Maka, tren yang terjadi adalah beberapa sekolah mengelompok kemudian menunjuk direktur untuk membawahi kelompok sekolah tersebut, agar pengembangan bisa lebih cepat. Ia mengatakan bahwa ini dapat meringankan fungsi Majelis Dikdasmen, sekaligus mempercepat pengembangan sekolah.
Misalnya di Salatiga ada SD Muhammadiyah Plus dan SMP Muhammadiyah Plus di Salatiga. Selain itu juga ada di Solo, Kartasura, dan Blimbing, Sukoharjo.
Ali memberikan contoh-contoh terobosan yang dapat dilakukan oleh sekolah, yang pernah ia lakukan sebelumnya. Misalnya ia pernah melakukan program guru produktif, siswa belajar mandiri dibimbing oleh orang tua. Jadi program ini menekankan peran penting guru dan orang tua. Dan nilai UN siswa dengan hal itu bisa naik.
Baca Juga: Zakiyuddin Baidhawi: Pendidikan Holistik, Menyatukan Nalar dan Etis
Selain itu, Ali juga memberikan contoh agar sekolah dapat mengembangkan sistem keuangan kreatif, dinamis, produktif. Sekolah bisa memiliki BTM yang digunakan untuk kesejahteraan guru. “Misalnya, guru butuh uang 50 juta, pagi bilang ke sekolah, sore bisa langsung cair. Tentu dengan beberapa syarat dan ketentuan.” Papar Ali.
Selain mensejahterakan guru, keuangan sekolah juga dapat terus diputar menjadi kuat, tidak habis pakai. Ali mengkritik Kepala Sekolah yang memiliki mobil dinas, namun gaji guru masih dibawah 1 juta. Jadi, yang harus diperhatikan adalah kesejahteraan guru. Jangan sampai ada kesenjangan yang lebar.
Terakhir, Ali memberikan contoh bahwa sekolah Muhammadiyah harus memiliki iklim belajar yang santai, rileks, dan nyaman. Jangan sampai guru mengajar dengan serius hanya karena diawasi kepala sekolah. Ia juga mengkritik Kepala Sekolah yang sering marah kepada guru ketika anak didiknya kalah dalam suatu perlombaan. Menurutnya, semua permasalahan di sekolah harus diobrolkan secara baik-baik.
Reporter: Yusuf R Yanuri