Universitas Muhammadiyah Surakarta-Beberapa hari lalu tepatnya pada tanggal 30 November 2019, Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial atau yang sering dikenal dengan PSBPS bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Ilmu-Ilmu Dasar dan Bahasa (LPIDB)–Universitas Muhammadiyah Surakarta tengah melaksanakan program “Revitalisasi dan Institusionalisasi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi (RIPP-PT)” dengan mengadakan Forum Diskusi Terpimpin (FGD) bertujuan untuk mengukuhkan dukungan kelembagaan akan implementasi rancangan Pendidikan Pancasila.
Acara ini dihadiri Pimpinan Pusat Muhamamdiyah, Pimpinan Pusat Aisyiyah, Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, Majelis Litbang dikti PP Muhammadiyah, Ditjen Belmawa Kemenristek Dikti RI. Selain itu, diundangan pula beberapa Universitas yang berada di Surakarta, Yogyakarta, Malang, serta beberapa undagan lembaga swadaya masyarakat.
Dra. Yayah Khisbiyah, M.A. sebagai Direktur Eksekutif PSBPS mengatakan pada saat pembukaan acara bahwa cikal bakal program Revitalisasi dan Institusionalisasi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi bermula 2 tahun lalu saat masih berada di UKP PIP. Beliau ingin menjadikan Universitas Muhammadiyah Surakarta menjadi gerbong serta beacon untuk merevitalisasi Pancasila.
Saat Pancasila tidak diimplementasikan dengan baik, kita perlu melakukan kegiatan substantif yang terkait Pendidikan Pancasila. Hingga saat ini, banyak kritik terhadap implementasi Pendidikan Pancasila yang terlalu monoton dan terpaku pada aspek kogitif; belum menyentuh aspek afektif dan psikomotorik hingga pada akhirnya tidak bisa mendorong pada perubahan sifat.
Prof. Dr. Dadang Kahmad mewakili PP Muhammadiyah mengaprsiasi acara ini. Hal ini dikarenakan pada saat membicarakan Pancasila, sama kedudukannya dengan Piagam Madinah (1400 tahun lalu). Beliau menambahkan bahwa Muhammadiyah pada saat branstorming merumuskan asas dasar negara bukan hanya menjadi tokoh Islam, tetapi kemudian tawakal ‘alallah, menjadi darul ‘ahdi wa syahadah.
Muhammadiyah sejak itu tidak pernah berkhianat dan terus menjaga keutuhan Negara. Sangat disayangkan juga bila meelihat saat ini pendidikan Pancasila hanya di ranah kognisi dan tidak sampai menyentuh ranah afektif. Untuk itu, Beliau mengharapkan UMS dapat menginisasi untuk dapat membuat proram yang bisa mewujudkan penanaman nilai-nilai Pancasila pada program tertentu.
Di sisi lain, Prof. Lincolin Arsyad, M. Sc., Ph.D. yang mewakili litbang dikti PP Muhammadiyah mengatakan bahwa Pancasila ini perlu digambarkan melalui perilaku. Pancasila memang harus dipahami secara kognitif, namun harus juga ditunjukkan secara psikomotorik. Yang menjadi tantangan ini dalam dunia akademik adalah tentang pembuatan kontendan delivery method. Beliau menjelaskan bawha konten yang dibuat harus menarik; bukan lagi model-model indoktrinatif.
Itu artinya kontennya jangan hanya berupa hafalan-hafalan semata. Sedang dengan delivery method, harus dipikirkan apakah hanya akan indoktrinasi karena realitasnya mahasiswa itu berbeda dari sekolah dasar atau menengah. Harapannya, di perguruan tinggi bukan hanya learning to know tetapi juga perlu didorong penerapannya (learning to do). Multi-learning Approach itu diperlukan karena pengajar Pancasila tidak saja dosen Pancasila, namun juga dosen lain yang harus mampu menyampaikan sikap Pancasilais dalam berbagai aspek yang sedang diajarkan.
By: Redaksi Kalimah Sawa’