Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Membaca Realitas Keummatan

RedaksiKS by RedaksiKS
Januari 4, 2020
in Narasi
0
Membaca Realitas Keummatan

Ilustrasi: Redaksi Kalimahsawa. Id.

15
SHARES
89
VIEWS

Oleh: Furqan Mawardi

Keanekaragaman itu terikat di dalam kosmis. Keanekaragaman kosmis adalah sebuah fakta, namun terkadang tidak menafikkan yang lain seperti uang, materi dan kebendaan. Jadi faktor keanekaragaman manusia itu bukan berarti ada manusia di luar.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kebenaran itu tidak bisa dimonopoli oleh seseorang sebagaimana udara, kita tidak menghirup udara itu sendiri, kemudian orang lain tidak bisa.

Coba kita lihat sebuah menara, misalnya puncaknya adalah Tuhan yang satu, dan Tuhan yang satu itu banyak kitab, nabi, dan agama. Islam menyebut Allah, Yahudi menyebut Yahwe, Kristen menyebut Allah, Hindu menyebut Om Santi Om. Hindu tetap Hindu, PKI tetap PKI, dan Yahudi tetap Yahudi.

Dan kalau kita mengatakan bahwa memang orang Islam itu ya akan masuk ke surganya orang Islam, masa mau masuk ke surganya orang lain.

Dalam kerangka berfikir ini, memang orang lain tidak punya surga? Orang lain punya surga menurut keyakinan masing-masing orang, dan keyakinan setiap orang tidak sama. Tetapi yang jelas, kita masuk ya surganya Tuhan bukan surganya manusia. Orang yang ke surga ia mau ketemu “bidadari”.

Lalu dengan pemikiran seperti itu bagaimana kita menyelaraskan dengan ayat-ayat yang sesungguhnya bahwa agama di sisi Allah itu adalah Islam. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam.

Terlebih doktrin langit ini perlu diterjemahkan ke realitas dunia dengan berbagai bentuk pluralismenya. Terutama terkait dengan kehidupan sosial dan budaya.

Ummatan Washatan

Ad-Din itu artinya jalan. Penulis pernah melakukan penelitian bahwa din itu jalan dan bukan berarti agama. Ini adalah persepsi. Akan tetapi, yang salah ialah anda memutlakan persepsi anda sebagai tuhan.

Apalagi dipakai untuk menghakimi orang lain. Dan berpersepsi itu tidak bisa dihindari. Penulis katakan agama itu banyak dan punya ritualnya sendiri-sendiri dan tujuan melakukan ritual itu untuk mencapai ritual di atasnya.

Umat itu wahid. Dalam istilah Al-Quran disebut sebagai “ummatan wasathan” itu artinya Al-Qurannya satu, Allahnya satu, dan nabinya juga satu. Tapi realitasnya bagaimana? Ada muncul perbedaan, itu bisa mendatangkan rahmat dan bisa saja laknat.

Adanya kemutlakan penafsiran atau menganggap pendapat sendiri yang benar, itu bisa menyebabkan orang mengkafirkan orang lain. Jadi kalau kita melihat doktrin, wahyu dan teks ini sudah selesai, karena Al-Quran tidak mungkin dipisahkan.

Tetapi kalau melihat rasio, peradaban, konteks, dan penafsiran ini tidak bisa diselesaikan, akan terus ada perbedaan. Apalagi kalau kita melihat Islam konteks, rasio, peradaban itu artinya plural.

Relatif berubah tapi pada akhirnya antara wahyu dan rasio itu harus melahirkan akhlakul karimah. Aklakul karimah inilah buah relevansi dengan moral dan etika dalam konsep keilmuan universal yang tidak hanya muslim saja yang mengerti tetapi juga non-muslim.

Islam dan Pluralisme  

Kalau tidak bisa melahirkan akhlak mulia bukan Islam lagi namanya. Di kalangan kita ada stigma pluralisme kurang baik. Dianggap bahwa pluralisme itu mengabaikan dimensi Islam, padahal Islam kalau kita lihat di tataran rasio peradaban (di dalam konteks kehidupan).

Maka Islam itu relatif plural dan terus berubah. Kalaulah fiqih kita milih siapa? Di dunia ini ada banyak aneka ragam rujukanya.

Otak manusia jangan diseragamkan. Kata Kahlil Gibran “gimana anakmu adalah anakmu, tapi bukan anakmu”. Kalian bisa memberikan pakaian, makanan, tempat tinggal, tapi bukan untuk jiwanya. Jiwa mereka itu tidak bisa didikte. Kalau kita melakukan humanisasi di pendidikan, biarkan dia jadi dirinya.

Jadi kita melihat Islam Indonesia berbeda dengan Islam yang lain. Islam dulu, esok dan kini juga berbeda, Islam sosial, Islam ekonomi, Islam politik juga berbeda. Itu beranekaragam sekali.

Itu di tataran rendah, namun di tataran atas kita sama, wahyunya sama, Al-Quranya sama, nabinya sama. Kita mesti melihat proses Islamisasi ini biar tidak berantem terus.

Islam pertama kali diturunkan sebagai wahyu yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad Saw, terus setelah nabi wafat ada proses penafsiran terhadap kitab suci, kemudian menjadi komunitas dakwah, dan kemudian menjadi institusi keagamaan. Kita hidup di zaman yang jauh, yang kata orang sebagai zaman now dan zaman milenial.

Di sini pada zaman ini terjadi perang antara ideologi politik ekonomi dengan ideologi sosial keagamaan dan di zaman ini pula sudah terjadi jual beli ayat. Makanya kita harus keluar dari zona ini. Tapi kalau tidak bisa ya sudah, kita masuk di dalam konflik. Tapi jangan memutlakkan pendapat.

Terutama terkait dengan komunitas, mau masuk organisasi apapun boleh-boleh saja, mau masuk Muhammadiyah monggo, NU monggo, HTI monggo tetapi jangan terus menghakimi orang lain bahwa itu sesat, kemudian kita mengambil alih urusan Tuhan. Karena urusan iman itu hanya Tuhan yang tahu.

Akal dan Wahyu

Kemudian, apabila di dalam ayat itu ada banyak penafsiran-penafsiran, cara yang kita gunakan dalam berdakwah itu kita menggunakan yang mana? Kalau kita dilarang memutlakkan penafsiran. Jadi yang harus kita pakai adalah memakai akal.

Seperti perintah kanjeng nabi Muhammad Saw kepada Mu’adz bin Jabal, “kalau kamu memutus perkara tidak ada di dalam Al-Quran, tidak ada di Hadist, maka pakailah akal”. Kitab suci Al-Quran ini bisa menjadi sebuah pedoman jika kita mempunyai akal (dalam arti mampu menggunakannya).

Ada orang berkata Al-Quran itu bisa mengatasi akal. Emang akal bisa ke atas? Semua isi Al-Quran ini kalau dibaca bisa mencerahkan atau tidak tergantung pada akal. Jadi pertanyaan retorisnya, “lalu yang primer mana?”. Oleh karena itu, sebenarnya yang diperlukan untuk memahami wahyu pada intinya itu adalah akal.

Akal menjadi primer jika tidak dikuasai oleh hawa nafsu, tapi jika dikuasai oleh hawa nafsunya, maka hawa nafsunya yang akan memimpin akal. Ada suatu kasus seorang dokterpun akan membunuh istrinya. Dalam metodologi kenabian, akal itu jangan harus dikuasai hawa nafsu.

Tadi dikatakan akal menjadi primer jika tidak dikuasai oleh hawa nafsu. Padahal nafsu itu ada yang baik juga ada yang buruk. Nafsu yang baik (nafsu mutmainnah) membantu akal berani mengambil sikap. Namun, nafsu yang buruk (nafsu ammarah) itulah yang harus dilawan.

Sehingga kita sering mengatakan: “bahwa jalan yang saya tempuh ini adalah jalan yang dilakukan melalui kebenaran, sehingga sebagai satu contoh lewat kebenaran itu adalah jalan syukur (kepasrahan) yang tidak menyesatkan”.

Akan tetapi di sisi lain, kita ini sangat membutuhkan satu proses dialektik, sehingga antara “saya” dan “anda” itu bukan berpisah tapi membentuk sintetik yang baru, yaitu “kita”.

Jadi ada sumbangan pikiran dari anda, ada sumbangan pikiran dari saya kemudian membentuk suatu sintetik yang ini nanti keluar menjadi realitas empiris kritis yang tepat sasaran dengan permasalahan yang ada. Bentuk sintetik itu adalah dalam bentuk dialogis.

Yakni sintetis karena adanya saling keterbukaan sejak awal untuk membentuk peradaban keilmuan yang baik dalam rangka membaca realitas keummatan melalui jalan nalar kritis-toleran dan terbuka.

Penulis adalah Kandidat Doktor (S3) Pendidikan Islam Multikultural di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Terkait

Tags: KeislamanKeumatanRealitas
Previous Post

Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya

Next Post

Mencoba Mendamaikan Masa Lalu

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Mencoba Mendamaikan Masa Lalu

Mencoba Mendamaikan Masa Lalu

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.