Oleh: Gandi Teguh Ardiansyah
Habis gelap, terbitlah terang,
demikian sabda yang diwariskan kepada malam,
seolah semesta memiliki hukum yang tak pernah menyimpang,
seolah setiap kegelapan niscaya bermuara pada siang.
Mentari tak kunjung datang,
fajar seolah hilang koordinat tuk pulang,
kendati malam terus merekah dengan sayap mengembang,
memeluk cakrawala yang kian memanjang.
Aku mencari akan rana ufuk yang berbeda,
menggeser paradigma, membongkar prasangka,
barangkali terang bukan persoalan jarak belaka,
tapi, akan persepsi yang belum selesai membaca tanda.
Langkahku berlari menuju arah berlawanan,
meninggalkan jejak pada bias ruas kemungkinan,
menapaki tangga di seberang peradaban,
sedikit harap akan tanda cahaya yang ditinggalkan.
Tetapi nihil.
Hanya bayang-bayang yang berulang,
hanya sunyi yang semakin riang,
hanya gelap yang dengan sabar memeluk kehilangan.
Kemana terang?
Kupilih berbaik sangka,
barangkali ia sedang bergulat dengan penangguhannya,
barangkali tengah mengakumulasi tenaga,
sebelum kembali sebagai cahaya yang lebih berdaya.
Kubiarkan si Gelap terjaga lebih panjang,
memberinya ruang untuk menyelesaikan malam,
sebab terang pun memerlukan kegelapan,
tuk memahami mengapa dirinya disebut terang.
Sampai suatu hari,
ketika langkah telah kehilangan orientasi,
dan pencarian menjelma kelelahan,
bersandar pada sebuah sudut jalan,
di antara sisa-sisa harapan dan debu perjuangan.
Lalu sebuah lampu menyala.
Bukan matahari yang ku nantikan,
bukan pula fajar dengan segala kemegahan,
hanya pijar kecil yang nyaris tak bernama,
namun cukup untuk memperlihatkan bahwa jalan masih ada.
Disanalah ku sadari,
terang rupanya tidak selalu hadir sebagai penaklukan atas gulita,
ia kadang hanya sebentuk kesediaan untuk tetap menyala,
meski tak ada yang menjanjikan pagi akan segera tiba.
Dan untuk pertama kalinya,
aku tidak lagi bertanya ke mana terang,
sebab telah kutemukan satu jawaban:
seberkas cahaya yang tidak sibuk mengusir malam,
melainkan cukup sadar untuk menerangi dirinya sendiri.
Kepada si Gelap aku bisikkan;
“sudahlah, kau telah tinggal terlalu panjang.”
“anehnya, aku telah mengerti bahasa yang kau bentang,”
“telah hafal sunyi yang kau ajarkan,”
“bahkan, menemukan ketenteraman pada malam yang kau panjangkan.”
“Silakan kembali beristirahat!!”
Sebab barangkali hidup bukan perkara meniadakan kegelapan,
melainkan mengolahnya menjadi kedalaman, kedamaian, ketenangan.
Bukan perkara menunggu terang sebagai keselamatan,
melainkan menemukan cahaya dalam kesadaran.
Jika kelak fajar benar-benar datang,
aku tak akan lagi menyambutnya dengan kegirangan,
sebab telah ku belajar dari malam yang panjang:
“bahwa sebagian terang justru lahir
dari keberanian membiarkan gelap terjaga lebih panjang.”