Oleh: Agung Rezki
Manusia telah mengalami kepunahan di zaman sekarang. Waktu berjalan semakin cepat berbarengan dengan teknologi, justru banyak menghantui daripada membantu. Pesan singkat dibalas dalam hitungan detik, pekerjaan dapat diselesaikan menggunakan gawai, dan informasi dari berbagai penjuru dunia hadir sebelum kita sempat mencernanya. Kenyataan dari kemajuan tersebut, justru banyak membuat manusia merasakan keterbelakangan, kecemasan, dan kelelahan batin. Hal ini menunjukkan ada yang tidak beres dalam kehidupan yang terlihat sangat cepat ini. Perubahan kondisi sosial di era postmodern menunjukkan bahwa perkembangan yang ada telah melampaui kemampuan manusia untuk mencerna dan memahaminya. Hidup sangat cepat, tanpa manusia bisa menginjak pedal rem.
Kondisi yang dipaparkan di atas, banyak menimbulkan beragam perspektif sosial. Apakah akselerasi sosial memberikan manfaat atau justru menjadi paradoks kehidupan? Oleh karena itu, pada tulisan ini penulis akan memberikan pandangan untuk membaca kelelahan manusia postmodern sebagai akibat dari kemajuan yang bergerak tanpa rem melalui perspektif Islam dan Barat.
Akselerasi Sosial Versi Jean Baudrillard
Manusia postmodern hidup dalam dunia yang penuh dengan citra atau yang dikenal sebagai simulakra (Jauhari, 2017). Dunia yang penuh dengan simulasi tidak nyata, tidak asli, dan tidak dapat ditiru. Ibarat cermin, orang lebih memercayai kondisi pantulan daripada kenyataan yang asli. Jika kita meneliti gagasan yang diusulkan Jean Baudrillard, akselerasi sosial juga memunculkan kondisi simulakra, sehingga mendorong manusia untuk bersaing demi memperoleh ketenaran semata. Kemajuan ternyata tidak selalu bermanfaat jika manusia tidak siap untuk itu. Demikianlah lanjutan dari simulakra yang melahirkan hiperrealitas, kondisi saat realitas kabur, sehingga media atau citra buatan dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.
Sebenarnya akselerasi sosial yang ada, tidak selamanya dipandang sebagai suatu hal yang buruk. Paradoks ini hadir, karena manusia tidak dapat beradaptasi dan memiliki ketahanan yang kuat di dalam diri. Manusia dengan perkembangan malah lebih sering stres, kelelahan (burnout), dan rasa tertinggal, bukan malah sebaliknya, membantu mereka untuk menjalani kehidupan.
Kelelahan Sebagai Harga Akselerasi
“Kamu jual, saya beli,” demikianlah kira-kira perkembangan yang selalu memberikan sebab dan akibat dalam kehidupan. Pengibaratan bahwa kelelahan manusia hari ini tidak semata-mata karena kerja fisik yang berat, tetapi karena beban untuk terus menyesuaikan diri dengan tren kemajuan. Terlalu banyak informasi membuat pikiran kesulitan untuk menentukan mana yang tepat dan mana yang keliru. Berbagai pilihan yang melimpah membuat seseorang merasa tertekan karena takut kehilangan sesuatu yang sedang tren, dan standar keberhasilan yang terus berganti membuat siapa pun merasa belum cukup.
Media sosial pun memperparah keadaan ini. Terdapat keterkaitan antara suasana hati dan kecemasan dengan penggunaan internet, di mana orang cenderung mencari hubungan melalui dunia maya (Khairina et al., 2024). Tampilan globalisasi selalu menyajikan potongan kehidupan orang lain yang tampak selalu lebih baik, dan tanpa disadari, kita selalu mengukur pencapaian yang dipamerkan orang lain dengan kehidupan sendiri. Perhatian yang terpecah di antara banyak layar membuat pengalaman menjadi dangkal dan pasif. Kita mendapatkan banyak informasi, namun fenomena penurunan makna identitas asli muncul karena ketergantungan pada standar yang hadir di media sosial, sehingga mengakibatkan ketidakotentikan pada manusia (Sihombing, 2026). Pengalaman menjadi sesuatu yang sekadar berlalu, bukan yang dirasakan sepenuhnya.
Satu hal yang juga menjadi dampak dari akselerasi sosial adalah perasaan terasing. Ketika hubungan dengan orang lain, pekerjaan, dan bahkan hubungan dengan diri sendiri terjadi sangat cepat, tidak ada kesempatan untuk menciptakan keterikatan yang mendalam, sehingga hubungan menjadi mudah dimulai dan cepat berakhir. Komitmen jangka panjang terasa menakutkan karena pandangan bahwa dunia akan berubah sebelum komitmen tersebut dapat diselesaikan. Bagi organisasi, institusi pendidikan, dan komunitas keagamaan, kecenderungan ini menjadi tantangan serius, sebab pengembangan yang berarti selalu memerlukan waktu, kesabaran, dan keberadaan yang sepenuhnya hadir, yang merupakan hal-hal yang sulit ditemukan di era akselerasi ini. Demikianlah pengibaratan hidup yang hanya dipandang melalui kacamata manusia.
Menimbang Jalan Keluar
Teringat dengan kisah Buya Syafii Maarif dalam buku Menerobos Kemelut, beliau menceritakan tentang esai yang berjudul “Putus Asa Dengan Indonesia.” Dalam perbincangannya dengan Nh Dini, seorang sastrawan novelis Indonesia mengenai masalah bangsa dan negara. Sewaktu Buya bertanya kepada Nh Dini mengenai masalah bangsa, beliau menjawab dengan telak, “Saya putus asa dengan Indonesia.” (Maarif, 2019). Menyadari kondisi kebangsaan yang kala itu bobrok dengan keadaan yang marak korup dan sifat individual yang tinggi. Kondisi ini juga sebenarnya mirip dengan akselerasi sosial yang banyak menimbulkan keputusasaan dalam menghadapinya. Coba bayangkan, kemajuan hanya digunakan untuk menyebarkan hoaks dan kebencian. Elemen inilah yang pemerintah sering lakukan, dengan banyaknya relasi kuasa dalam otoritasnya, kemajuan dijadikan alat untuk memperkaya diri dan menindas rakyat jelata.
Profesor Kuntowijoyo mulai mengkritik cara berpolitik Indonesia ini. Dalam pandangannya, Indonesia harus dirawat oleh cendekiawan Muslim yang dalam kerja-kerjanya harus membantu dan memikirkan masalah keummatan secara nasional, global, dan universal (Kuntowijoyo, 2001). Dalam akselerasi sosial yang menyebabkan kelelahan yang berasal dari tatanan sosial, tidak berarti kita harus menyerah. Pertama, penting untuk berhenti memandang kelelahan semata-mata sebagai kelemahan pribadi. Pandangan ini juga harus mampu menjadikan manusia untuk tidak selalu menjadikan dunia sebagai barometer keberhasilan. Seperti halnya firman Allah dalam surat Al-Qashas ayat 77 yang artinya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”
Kedua, perlu ada upaya sadar untuk menciptakan ruang-ruang refleksi. Ruang itu bisa berupa kebiasaan membaca secara mendalam, diskusi yang tidak tergesa-gesa, waktu hening untuk refleksi, dan hubungan interaksi tatap muka yang tidak diinterupsi oleh layar gawai. Tradisi keagamaan sebenarnya sudah kaya akan praktik semacam ini, misalnya salat, tafakur, dan majelis ilmu, yang pada dasarnya melatih manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dan kembali pada makna hidup. Dalam surat Al-Jumu’ah ayat 10 diajarkan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dengan mengingat Allah atau shalat, dan kembali bertebaran di muka bumi-Nya selepas menyelesaikan ibadah mulia tersebut.
Ketiga, lembaga pendidikan dan organisasi perlu berani melawan arus dengan menghargai proses, bukan hanya hasil yang cepat dan terlihat. Hal ini juga relevan dengan perkaderan yang tidak hanya berbicara tentang output, tetapi juga proses kader dalam bertumbuh yang diwadahi dan didukung secara maksimal.
Penutup
Hidup tanpa rem adalah gambaran tentang manusia yang terus dipacu oleh dunia yang berubah makin cepat. Dengan membaca gagasan Jean Baudrillard yang mengkritisi era postmodern, tampak bahwa kelelahan manusia postmodern bukan kegagalan individu, melainkan akibat wajar dari tatanan sosial yang mengutamakan ketenaran di atas kebermaknaan. Dengan penanaman Islam yang melihat tujuan dari dua sisi, akhirat dan dunia, akselerasi sosial berguna untuk menjadikan kehidupan manusia lebih bermakna. Pertanyaan pentingnya bukan lagi bagaimana kita bisa bergerak lebih cepat, melainkan ke mana kita sebenarnya bergerak dan apakah kita masih punya waktu untuk memaknainya. Tanpa kemampuan untuk sesekali menginjak rem, kita mungkin akan tiba lebih cepat, tetapi tanpa tahu untuk apa.
Editor:Dian Yasmina Fajri