KALIMAHSAWA.ID, SURAKARTA – Upaya mengurangi food loss and food waste tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga menyentuh isu keadilan pangan, perubahan iklim, dan kebijakan publik. Isu tersebut disuarakan Jody Julian Putra Caesar, mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial-Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, dalam forum internasional 2nd Regional Congress on Organic and Climate di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Forum regional Asia Pasifik yang digelar secara hibrida di JS Luwansa Hotel, Jakarta, tersebut mempertemukan pakar iklim, praktisi lingkungan, organisasi masyarakat sipil, serta pemangku kebijakan dari berbagai negara. Kegiatan ini diselenggarakan GAIA Asia Pacific bersama Dietplastik Indonesia dan Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), dengan pembahasan mengenai strategi pengelolaan sampah organik untuk menekan emisi gas rumah kaca dan metana.
Jody menjadi salah satu pembicara dalam sesi panel bertajuk “Closing the Food Gap – Intercepting Food Loss and Food Waste”. Dalam forum tersebut, ia mempresentasikan makalah berjudul “Youth Movement to Food Rescue” yang mengangkat pengalaman gerakan penyelamatan pangan melalui Carefood Solo.
“Carefood Solo merupakan gerakan yang saya rintis sejak 2020 untuk menyelamatkan makanan berlebih yang masih layak konsumsi dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya, Kamis, (24/9/2026).
Hingga 2025, gerakan tersebut telah menyelamatkan lebih dari 46.040 kilogram makanan berlebih. Prosesnya dilakukan melalui pemetaan potensi donor pangan, pengambilan makanan, hingga distribusi kepada komunitas penerima manfaat.
Dalam presentasinya, Jody juga mengangkat fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang turut memengaruhi pola konsumsi generasi muda. Menurutnya, perubahan perilaku konsumsi perlu menjadi bagian dari strategi pengurangan sampah pangan, terutama karena makanan yang masih layak konsumsi dapat memiliki nilai sosial bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Keterlibatan anak muda, lanjutnya, tidak cukup berhenti pada kampanye kesadaran. Generasi muda dapat mengambil peran secara langsung melalui pengorganisasian, pemetaan sumber pangan berlebih, distribusi, hingga advokasi kebijakan.
Pengalaman Carefood Solo juga menjadi pintu masuk Jody untuk menghubungkan gerakan pengurangan sampah pangan dengan perspektif hukum dan kebijakan publik yang dipelajarinya di FHIP UMS.
Ia memaparkan proses advokasi yang dilakukan bersama Pemerintah Kota Surakarta dalam mendorong penyusunan rancangan Surat Edaran (SE) Wali Kota terkait pengelolaan food loss and food waste. Menurut Jody, kebijakan diperlukan agar upaya pengurangan sampah pangan tidak hanya bergantung pada gerakan sosial atau kegiatan amal yang bersifat jangka pendek.
“Penanganan food waste perlu didorong menjadi bagian dari kebijakan publik agar upaya penyelamatan pangan dapat berjalan secara lebih sistematis dan berkelanjutan,” jelasnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan keterkaitan antara aksi di tingkat komunitas dengan agenda kebijakan lingkungan. Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong kontribusi daerah terhadap agenda pengurangan emisi dan komitmen iklim Indonesia.
Kiprah Jody di forum regional Asia Pasifik sekaligus menunjukkan ruang kontribusi mahasiswa dalam membawa isu lokal ke forum internasional. Pengalaman mengembangkan gerakan penyelamatan pangan di Surakarta kemudian dipertemukan dengan diskursus mengenai perubahan iklim, keadilan lingkungan, dan kebijakan pangan di tingkat regional. (Fika/Humas)