Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Memilihmu di Tengah Ribuan Kemungkinan: Kierkegaard, Cinta, dan Gen Z

Azhar Ardiansyah Al Aziz by Azhar Ardiansyah Al Aziz
Agustus 27, 2026
in Esai
0
Memilihmu di Tengah Ribuan Kemungkinan: Kierkegaard, Cinta, dan Gen Z
20
SHARES
118
VIEWS

Oleh: Azhar Ardiansyah Al Aziz

Pernah nggak sih kalian punya pasangan yang sebenarnya baik, sayang sama kita, nggak toxic, tapi di kepala kita masih muncul satu pertanyaan “Emang dia orang yang tepat?” Atau lebih parah lagi “Gimana kalau nanti aku ketemu orang yang lebih baik?”

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Lucunya, zaman sekarang kita punya lebih banyak kesempatan buat ketemu orang dibanding generasi-generasi sebelumnya. Tinggal buka Instagram, TikTok, Tinder, people nearby atau sekadar nongkrong di tempat yang rame. Ada ribuan orang yang bisa kita kenal. Tapi justru karena terlalu banyak opsi, kita malah makin bingung buat milih. Kita hidup di zaman ketika pasangan bukan cuma dicari, tapi juga dibandingkan dan dipamerkan, ya ga?

Yang satu lebih cantik, yang satu lebih kaya, yang satu lebih alim, yang satu lebih lucu, dan yang satu lebih sesuai tipe gue banget. Dan akhirnya kita terus mencari. Bukan karena orang yang bersama kita kurang baik, tapi karena kita selalu merasa mungkin ada yang lebih baik di luar sana.

Hampir dua abad yang lalu, seorang filsuf Denmark bernama Søren Kierkegaard sudah membicarakan persoalan yang sebenarnya sangat relate dengan kehidupan kita hari ini, yaitu kecemasan manusia ketika harus memilih. Kierkegaard hidup jauh sebelum Instagram, Tinder, TikTok, dan dating apps. Tapi dia memahami satu hal yang sampai sekarang nggak berubah, semakin banyak kemungkinan yang kita punya, semakin besar pula kecemasan yang muncul ketika harus memilih.

Kita Suka Jatuh Cinta, Tapi Takut Memilih

Kierkegaard membagi kehidupan manusia ke dalam tiga tahap: estetik, etik, dan religius.

Tahap pertama adalah tahap estetik. Sederhananya, manusia estetik adalah manusia yang ingin hidupnya terasa menyenangkan. Dalam urusan cinta, dia suka perasaan butterflies, suka perhatian, suka chatting sampai pagi, suka momen-momen romantis. Tapi ketika hubungan mulai serius, mulai ada tanggung jawab, mulai ada konflik, mulai ada hal-hal yang nggak sesuai ekspektasi, dia mulai berpikir “Kayaknya aku salah pilih deh.” Kemudian muncul kalimat “Mungkin kita memang nggak cocok.” Atau “Mungkin ada orang yang lebih sesuai buat aku.” Di sinilah kita bisa melihat kehidupan estetik dalam konteks Gen Z. Tapi mirip Avoidant ya hehe.

Kita terbiasa dengan konsep next. Nggak cocok? Next. Chatting-nya mulai hambar? Next. Ada sedikit konflik? Next. Pasangan mulai nggak sesuai ekspektasi? Cari yang baru. Masalahnya, kalau pola ini terus dilakukan, kita nggak pernah benar-benar belajar mencintai seseorang. Kita cuma belajar mencari seseorang. Dan dua hal itu berbeda guys.

Kita Bukan Kekurangan Pilihan, tapi kita Kelebihan Pilihan. Kierkegaard punya konsep menarik tentang kecemasan. Menurutnya, kecemasan muncul ketika manusia berhadapan dengan kemungkinan. Kamu bisa memilih. Kamu bebas. Tapi justru karena kita bebas, kita bisa salah.

Bayangin kamu berdiri di depan banyak pintu. Semua pintu mungkin membawa kamu ke tempat yang berbeda. Masalahnya, kamu nggak tahu mana yang paling benar. Akhirnya kamu berdiri di tengah-tengah pintu itu sambil mikir: “Seng iki opo seng iku?” Dalam hubungan, bentuknya bisa seperti “Dia baik sih, tapi…” trus “Aku nyaman sama dia, tapi…” dan “Aku udah sayang sama dia, tapi siapa tahu nanti ada yang lebih cocok.” Kita ingin kepastian sebelum memilih.

Padahal, menurut Kierkegaard, kepastian semacam itu nggak akan pernah datang. Kita nggak akan pernah tahu seratus persen apakah seseorang adalah pasangan terbaik sebelum kita benar-benar menjalani kehidupan bersamanya. Karena itu, masalahnya bukan menemukan orang yang paling sempurna. Masalahnya adalah apakah kita berani memilih seseorang ketika kita tahu bahwa kita nggak akan pernah punya kepastian penuh. Jatuh Cinta Itu Gampang. Memilih untuk Tetap Mencintai Itu yang Susah.

Di tahap kedua, Kierkegaard berbicara tentang kehidupan etik. Kalau manusia estetik bertanya “Apa yang bikin aku bahagia?” Manusia etik mulai bertanya  “Apa yang harus aku lakukan?” Ini adalah titik balik ketika orientasi cinta berubah.

Awalnya kita ngomong “Aku cinta sama kamu karena kamu bikin aku bahagia.”Kemudian berubah menjadi “Aku memilihmu, dan aku mau bertanggung jawab atas pilihanku sendiri.” Kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya ini salah satu hal paling sulit dalam hubungan.

Karena perasaan nggak selalu stabil. Hari ini kita bisa sangat sayang, besok mungkin kita kesal. Hari ini kita merasa pasangan kita adalah orang terbaik di dunia, besok kita bisa bertengkar cuma gara-gara hal remeh. Kalau cinta hanya bergantung pada perasaan, hubungan akan selalu naik turun. Tapi kalau cinta juga dibangun melalui keputusan, hubungan punya sesuatu yang lebih kuat. Yaitu komitmen. Karena setia bukan berarti kita nggak pernah menemukan orang lain yang menarik. Setia berarti kita mungkin melihat banyak orang menarik, tetapi kita tetap sadar siapa yang sudah kita pilih.

Pasangan Bukan Produk yang Harus Selalu “Worth It”

Ada satu hal yang menurutku menarik kalau Kierkegaard dibawa ke kehidupan Gen Z. Kita sekarang sering memperlakukan hubungan seperti sedang memilih produk. Kita punya checklist. Good looking? Mapan? Humoris? Religius? Komunikatif? Green flag? Lalu ketika ada satu atau dua hal yang nggak sesuai langsung mikir “Kayaknya nggak cocok.” Padahal manusia bukan produk. Manusia tumbuh, manusia berubah, manusia punya masa buruk, manusia bisa belajar. Dan hubungan juga bukan sesuatu yang selalu nyaman kan guys.

Kadang pasangan kita mengecewakan, kadang kita juga yang menjadi sumber kekecewaan, kadang dua orang yang saling mencintai tetap bisa bertengkar, karena itu pertanyaan yang lebih penting bukan “Apakah dia sempurna?” Tapi “Apakah kami sama-sama mau bertumbuh?”

Kemudian Kierkegaard membawa manusia ke tahap ketiga: tahap religius. Di sini ada satu hal yang sangat relevan dengan hubungan modern yaitu jangan menjadikan pasangan sebagai Tuhan. Kedengarannya ekstrem, tapi maksudnya sederhana. Jangan menjadikan satu manusia sebagai satu-satunya sumber kebahagiaanmu. Jangan berpikir “Kalau dia pergi, hidup gue selesai.” Karena nggak ada manusia yang bisa menanggung beban sebesar itu ga si?

Pasangan bisa menemani, bisa mendukung, bisa mencintai, tapi pasangan nggak bisa mengisi seluruh kekosongan eksistensial kita. Kalau seluruh makna hidup kita ditaruh di satu orang, ketika orang itu pergi, kita ikut kehilangan diri sendiri. Kierkegaard mengingatkan bahwa manusia pada akhirnya harus memiliki hubungan dengan sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri dalam pemikirannya, yaitu Tuhan. Dengan begitu, kita bisa mencintai seseorang tanpa menjadikannya pusat seluruh kehidupan.

Kita bersama bukan karena “Aku nggak bisa hidup tanpa kamu.” Basi banget yakan. Tapi karena “Aku sebenarnya bisa berdiri sendiri, tapi aku memilih untuk berjalan bersama kamu.” Dan menurutku, itu jauh lebih dewasa.

Jadi, Gimana Cara Memilih Pasangan?

Kalau pemikiran Kierkegaard dibawa ke kehidupan kita sekarang, mungkin ada beberapa pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar “Dia ganteng nggak?” “Dia cantik nggak?” “Dia sesuai type gue nggak?” Coba pertanyaannya yang lebih bervalue. Apakah Aku bisa menjadi diri sendiri ketika bersamanya? Apakah hubungan ini membuat aku berkembang atau justru kehilangan diri sendiri? Apakah aku hanya menyukai perasaan ketika bersamanya, atau benar-benar siap bertanggung jawab atas hubungan ini? Ketika momen honeymoon selesai, apakah aku masih mau memilih orang yang sama?

Dan yang paling penting, apakah kami bisa saling mencintai tanpa menjadikan satu sama lain sebagai pusat seluruh kehidupan? Karena pasangan hidup bukan orang yang bertugas menghilangkan seluruh kecemasan kita. Pasangan hidup adalah seseorang yang bersedia berjalan bersama kita meskipun hidup tetap penuh ketidakpastian.

Pada Akhirnya kita semua harus memilih. Mungkin akan selalu ada orang yang lebih cantik. Akan selalu ada orang yang lebih tampan, lebih pintar, lebih kaya, lebih humoris, lebih romantis, lebih sesuai dengan tipe kita. Dan kalau hidup kita terus didasarkan pada mencari yang “lebih baik”, pencarian itu nggak akan pernah selesai. Karena selalu akan ada kemungkinan lain pastinya.

Kierkegaard mengajarkan bahwa menjadi manusia berarti berani memilih di tengah ketidakpastian. Begitu juga dengan cinta. Cinta bukan tentang menemukan seseorang yang membuat kita yakin seratus persen bahwa tidak ada orang lain yang lebih baik. Karena orang seperti itu mungkin memang nggak ada mau nyari sampai manapun.

Cinta adalah ketika kamu tahu dunia punya ribuan kemungkinan, tapi kamu tetap berkata “Dari sekian banyak orang yang mungkin bisa aku pilih, aku memilih kamu.” Bukan karena kamu adalah manusia paling sempurna yang pernah aku temui. Tapi karena setelah mengenal kekurangan, kelebihan, luka, dan segala ketidaksempurnaanmu, aku tetap memilih untuk tinggal.

Dan mungkin, disitulah cinta berhenti menjadi sekadar perasaan. Ia berubah menjadi keputusan. Menjadi komitmen, menjadi keberanian. Dan akhirnya, menjadi cara kita untuk belajar menjadi manusia. Panjang umur kemanusiaan.

Editor: Arsy Sekar

Terkait

Tags: filsafatFilsafat Cintakierkegaard
Previous Post

Dr. KH. AM. Mustain Nasoha, Penulis 18 Kitab Berbahasa Arab di Berbagai Bidang Keilmuan Islam

Next Post

Runtuhnya Narasi Besar IMM: Membaca Senyap Sebuah Gerakan dalam Perspektif Jean-François Lyotard

Azhar Ardiansyah Al Aziz

Azhar Ardiansyah Al Aziz

Mahasiswa PAI FAI UMS

Next Post
Runtuhnya Narasi Besar IMM: Membaca Senyap Sebuah Gerakan dalam Perspektif Jean-François Lyotard

Runtuhnya Narasi Besar IMM: Membaca Senyap Sebuah Gerakan dalam Perspektif Jean-François Lyotard

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.