Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Aktualisasi Diri sebagai Instrumen Eksploitasi: Kritik terhadap Hierarki Kebutuhan Maslow dalam Dunia Kerja Modern

AdminKS by AdminKS
Juli 27, 2026
in Esai, Narasi
0
Aktualisasi Diri sebagai Instrumen Eksploitasi: Kritik terhadap Hierarki Kebutuhan Maslow dalam Dunia Kerja Modern
14
SHARES
84
VIEWS

Oleh: Adram Qaisullah T.

Teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow telah lama menjadi salah satu landasan dalam praktik manajemen sumber daya manusia. Gagasan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang bergerak dari kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan, hingga aktualisasi diri menjadikan teori ini relevan dalam menjelaskan motivasi kerja. Dalam konteks dunia kerja modern, banyak perusahaan tidak hanya menawarkan gaji dan jaminan kerja, tetapi juga peluang berkembang, ruang untuk berkreasi, budaya kerja yang fleksibel, hingga narasi meaningful work. Aktualisasi diri ditempatkan sebagai tujuan tertinggi yang dapat dicapai seseorang melalui pekerjaan. Namun, di balik narasi tersebut muncul pertanyaan reflektif: apakah aktualisasi diri benar-benar menjadi bentuk pembebasan atau justru telah berubah bentuk menjadi instrumen eksploitasi oleh perusahaan?

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Pada era kapitalisme industri, eksploitasi tenaga kerja berlangsung secara terang-terangan melalui kontrol terhadap waktu kerja, upah dan alat produksi. Akan tetapi, kapitalisme kontemporer mengalami transformasi masif. Perusahaan tidak lagi hanya mengeksploitasi tenaga, melainkan juga kreativitas, emosi bahkan identitas para pekerja. Pekerjaan tidak sekadar menjadi sarana memperoleh penghasilan, tetapi dijadikan ruang untuk menemukan makna hidup. Dalam kondisi ini, teori Maslow yang awalnya bertujuan mendefinisikan perkembangan manusia justru berpotensi menjadi alat legitimasi bagi perusahaan untuk menuntut produktivitas tanpa batas.

Karl Marx menawarkan kerangka analisis yang penting melalui konsep alienasi. Menurut Marx, pekerja mengalami keterasingan dari hasil kerjanya, dari proses produksi, dari sesama manusia dan pada akhirnya dari hakikat dirinya. Dalam dunia kerja modern, bentuk alienasi tersebut tidak lagi selalu terlihat dalam kerja manual di pabrik, tetapi hadir dalam organisasi berbasis pengetahuan. Karyawan didorong untuk terus berinovasi, menciptakan ide, membangun jaringan serta menunjukkan komitmen penuh terhadap perusahaan. Ironisnya, semakin besar keterlibatan emosional dan intelektual yang diberikan, semakin sulit pekerja membedakan kepentingan perusahaan dengan kepentingan pribadinya. Identitas individu perlahan melebur dengan identitas korporasi. Ketika pekerjaan menjadi alat ukur keberhasilan hidup, aktualisasi diri tidak lagi dimiliki oleh individu, tetapi dikapitalisasi oleh perusahaan sebagai sumber nilai ekonomi.

Kritik Marx menemukan bentuk yang lebih kompleks dalam pemikiran Michel Foucault mengenai governmentality. Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan modern tidak selalu bekerja melalui paksaan atau hukuman, melainkan melalui pembentukan cara berpikir dan cara individu mengatur dirinya sendiri. Perusahaan modern tidak perlu lagi mengawasi setiap pekerja secara langsung. Sebaliknya, perusahaan membangun budaya kerja yang membuat individu merasa harus selalu produktif, kreatif, adaptif dan berorientasi pada pengembangan diri. Berbagai slogan seperti be the best version of yourself, grow together atau unlock your potential tampak sebagai kalimat positif, tetapi sekaligus menjadi mekanisme disiplin yang bekerja dari dalam diri individu.

Dalam konteks ini, aktualisasi diri berubah menjadi teknologi kekuasaan. Pekerja tidak bekerja lebih keras karena diperintah, melainkan karena percaya bahwa produktivitas merupakan bagian dari identitas dirinya. Mereka mengikuti pelatihan secara sukarela, terus meningkatkan kompetensi di luar jam kerja, membangun personal branding, hingga selalu siap dihubungi melalui perangkat digital. Kontrol perusahaan menjadi semakin efektif karena telah diinternalisasi oleh pekerja. Eksploitasi tidak lagi membutuhkan tekanan eksternal, sebab individu telah menjadi pengawas bagi dirinya sendiri.

Fenomena tersebut bisa dijelaskan dengan menyeluruh melalui pemikiran Byung-Chul Han dalam The Burnout Society. Han berargumen bahwa masyarakat kontemporer bukan lagi disciplinary society sebagaimana dijelaskan Foucault, melainkan achievement society. Individu tidak lagi hidup dalam larangan, tetapi dalam tuntutan untuk selalu mampu. Kata-kata seperti “bisa”, “berprestasi”, “berkembang” dan “berinovasi” menjadi norma baru yang mendorong seseorang terus melampaui batas dirinya. Paradoksnya, kebebasan yang dijanjikan justru melahirkan bentuk penindasan yang lebih efektif karena berasal dari diri sendiri.

Dalam dunia kerja modern, narasi aktualisasi diri menjadi bahan bakar utama masyarakat korporasi. Perusahaan menawarkan fleksibilitas, ruang kreativitas dan kesempatan berkembang, tetapi pada saat yang sama menciptakan ekspektasi bahwa setiap individu harus selalu produktif. Jam kerja menjadi kabur akibat teknologi digital, batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menghilang, sementara keberhasilan terus diukur melalui capaian karier, sertifikasi atau indikator kinerja. Akibatnya, burnout, kelelahan emosional dan krisis kesehatan mental semakin meningkat. Pekerja merasa gagal bukan karena ditindas oleh orang lain, melainkan karena tidak mampu memenuhi standar tinggi yang telah mereka internalisasi sendiri.

Dari ketiga perspektif di atas tampak bahwa aktualisasi diri telah mengalami distorsi. Dalam teori Maslow, aktualisasi diri merupakan proses manusia mengembangkan potensi terbaiknya secara bebas. Namun dalam kapitalisme kontemporer, aktualisasi diri sering kali direduksi menjadi instrumen peningkatan produktivitas organisasi. Marx menunjukkan bahwa individu tetap mengalami alienasi meskipun pekerjaannya tampak kreatif dan bermakna. Foucault menjelaskan bagaimana organisasi membentuk subjek yang secara sukarela mendisiplinkan dirinya demi memenuhi tuntutan produktivitas. Sementara itu, Byung-Chul Han memperlihatkan bahwa eksploitasi modern tidak lagi berasal dari subjek eksternal, melainkan dari dorongan internal untuk terus berprestasi tanpa henti.

Oleh karena itu, kiranya praktik manajemen sumber daya manusia perlu merefleksikan kembali makna pengembangan karyawan. Aktualisasi diri seharusnya dipahami sebagai proses memanusiakan pekerja, bukan sekadar strategi meningkatkan kinerja perusahaan. Perusahaan yang benar-benar berorientasi pada manusia perlu membangun budaya kerja yang menghargai batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, menyediakan ruang pemulihan psikologis serta mengakui bahwa kesejahteraan karyawan tidak identik dengan produktivitas yang terus meningkat. Dengan demikian, aktualisasi diri dapat kembali menjadi sarana pembebasan manusia, bukan sekadar wajah baru eksploitasi dalam kapitalisme modern.

Terkait

Tags: Filsafat CintaIndonesiapendidikanPeradaban
Previous Post

Banyak Anak Banyak Rezeki: Ketika Slogan Berbenturan dengan Realita Anak Terlantar

Next Post

Ketika Halal Tak Lagi Menjadi Pertimbangan: Refleksi Muamalah Generasi Digital

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Ketika Halal Tak Lagi Menjadi Pertimbangan: Refleksi Muamalah Generasi Digital

Ketika Halal Tak Lagi Menjadi Pertimbangan: Refleksi Muamalah Generasi Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.