Oleh: Muhammad Khoirul Ibady Pinem
Manusia, Jiwa dan Teori Kesedihan
Jiwa adalah entitas yang dimiliki oleh setiap manusia, dan jiwa sangat mempunyai peran penting dalam menggerakkan kehidupan manusia dalam melewati dinamika kesedihan dalam kehidupan. Dalam kehidupan manusia sering jatuh pada tahap sedih, bingung dan kehilangan. Peristiwa peristiwa tersebut kelak mengguncang batin manusia, yang membuat kita kerap kali merasakan kepahitan dalam menghadapi realitas. Tahap ini bukanlah tahap yang mudah bagi setiap individu seringkali proses ini melewati tahap-tahap emosional yang tidak instan hilang begitu saja. Dalam dunia psikologi modern disana terdapat satu teori yang menjelaskan dinamika tersebut melalui tokoh Elisabeth Kübler-Ross. Teori ini terkenal dengan nama lima tahap kesedihan (five stages of grief). Pada awalnya teori ini hanya menjelaskan respon seseorang yang mengalami sakit parah menuju kematiannya, akan tetapi Kübler-Ross melihat ini juga dialami oleh orang terdekatnya.
5 tahap kesedihan
Kübler-Ross menjelaskan bahwa manusia akan melewati lima tahap emosional ini. Tahap pertama adalah Denial atau penolakan. Ini adalah fase yang sangat awal yang akan dirasakan oleh manusia pada fase ini kerap kali seseorang belum mampu menolak keadaan yang terjadi, seolah ia bersikeras dalam menghadapi realitas dan tidak menerima peristiwa itu terjadi. Penolakan ini adalah bentuk mekanisme pertahan diri agar jiwa tidak langsung menerima beban yang begitu berat.
Tahap kedua adalah Anger, yaitu kemarahan ketika realitas yang ada mulai sulit untuk disangkal maka jiwa mulai marah dan bergejolak seakan peristiwa yang terjadi itu tidak harus terjadi padanya, sering kali perasaan ini memutar arahkan takdir itu tidak harus terjadi padanya, dan mempertanyakan keadilan hidup terletak dimana, dan mengapa peristiwa ini harus menimpa dirinya.
Tahap ketiga adalah Bargaining atau tawar menawar, dalam fase ini manusia mulai mencoba mencari jalan agar keadaan bisa berubah, walaupun pada fase ini juga sering berandai andai terhadap realitas yang dialami, ia mulai berusa juga membuat kemungkina kemungkinan yang dibungkus oleh harapan seolah olah keadaaan itu akan berbalik lagi padanya. Akan tetapi sama halnya, keinginan untuk mengubah takdir itu pun tidak terwujud dan hasilnya sama saja.
Tahap keempat adalah Depression atau kesedihan, pada fase ini manusia kerap kali terjebak dalam kehanyutan perasaan sedih yang terlalu mendalam. Sehingga kadang tak sedikit pula orang terjebak pada fase ini dan jatuh pada rasa sakit, karena kehilangan makna kehidupan serta kehilangan energi dalam hidupnya. Fase ini biasanya sangat bergantung pada fases sebelumnya ketika manusia terlalu larut dalam mencari kemungkinan dalam kehidupan, maka akan mudah jatuh pada fase ini, begitu pula sebaliknya, jika jiwa mulai leluasa dalam menerima keadaan maka semakin kecil kemungkina untuk jatuh pada tahap ini.
Tahap kelima adalah Acceptance atau penerimaan, dalam tahap ini manusia mulai mampu menerima kenyataan sebagaimana adanya. Ia tidak lagi memberontak terhadap realitas, melainkan mulai berdamai dengan keadaan yang tidak bisa lagi diubah. Fase ini merupakan akhir prose, Meskipun rasa sedih masih ada, namun hati telah menemukan titik nyamannya dalam bentuk ketenangan tertentu.
Tiga Tingkatan Nafs dalam Al-Qur’an
Dalam Islam kata jiwa disebut dengan nafs, menariknya dinamika kejiwaan semacam ini telah lama ada sebelum teori five stages of grief. Tradisi Islam mengkajinya melalui konsep nafs atau keadaan jiwa manusia yang memiliki beberapa tingkatan, yang menunjukkan kondisi batin seseorang dalam menghadapi dorongan, emosi, dan realitas kehidupan. Dalam Al-Qur`an juga telah disebutkan ada tiga jenis nafsu dalam diri manusia dan satu diantara ketiganya merupakan nafs yang diridhai oleh Allah Swt.
Pertama dalam Al-Qur`an disebutkan Nafs Amarah sebagaimana firman Allah dalam surah Yusuf: 53
وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٥٣
Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Nafsu ammarah merupakan dorongan jiwa yang selalu condong kepada keburukan dan mengajak manusia untuk mengikuti hawa nafsu tanpa mempertimbangkan nilai agama maupun akhlak. Sifat ini mendorong munculnya perilaku tercela seperti tamak, dengki, sombong, egois, serta mudah marah terhadap orang lain. Orang yang dikuasai nafsu ammarah sering kali tidak mampu mengendalikan dirinya sehingga lebih mengutamakan kesenangan duniawi daripada kebaikan dan ketakwaan. Akibatnya, hati menjadi keras dan sulit menerima nasihat ataupun kebenaran. Selain itu, seseorang yang berada dalam pengaruh nafsu ini akan kehilangan rasa penyesalan ketika melakukan dosa atau kemaksiatan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bangga terhadap perbuatan buruk yang dilakukannya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Nafsu ammarah juga membuat manusia tidak pernah merasa puas terhadap apa yang dimiliki, karena selalu menuntut kenikmatan dan kesenangan tanpa batas. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan pentingnya mujahadah an-nafs atau perjuangan melawan hawa nafsu agar manusia mampu mencapai ketenangan jiwa dan akhlak yang mulia. Menurut Imam Al-Ghazali, hawa nafsu yang tidak dikendalikan akan menyeret manusia kepada kehinaan dan menjauhkan hati dari Allah Swt
Kedua nafs Lawwamah sebagaimana firman Allah surah Al-Qiyamah:2
وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
“Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri),
kesalahan dan dosa yang telah diperbuat. Konsep ini disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an, yaitu pada surah Al-Qur’an surat Surah Al-Qiyamah ayat 2, yang menjelaskan tentang jiwa yang selalu mencela dirinya sendiri ketika melakukan keburukan. Perasaan bersalah yang muncul dalam diri seseorang menjadi tanda adanya kesadaran moral dan keimanan di dalam hati. Hal ini menunjukkan bahwa hati tersebut masih hidup dan mampu membedakan antara perbuatan baik dan buruk. Nafsu lawwāmah juga berfungsi sebagai alarm spiritual yang mendorong manusia untuk segera bertaubat, memperbaiki diri, dan kembali kepada jalan Allah Swt. Meskipun demikian, jiwa ini bersifat dinamis dan belum sepenuhnya stabil. Seseorang yang berada pada tingkatan ini terkadang mampu taat dan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi di waktu lain masih dapat tergoda oleh hawa nafsu dan melakukan maksiat. Oleh karena itu, perjuangan melawan hawa nafsu dan memperkuat iman menjadi hal penting agar jiwa dapat meningkat menuju ketenangan dan ketakwaan yang lebih sempurna. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, nafsu lawwāmah adalah jiwa yang selalu menegur pemiliknya ketika melakukan kesalahan, sehingga menjadi tanda bahwa masih ada cahaya iman di dalam hatinya.
ketiga adalah nafs mutmainnah sebagaimana firman Allah surah Al-Fajr:27-30
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً . فَادْخُلِي فِي عِبَادِي . وَادْخُلِي جَنَّتِي
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama´ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku,”
Nafsu muthmainnah merupakan tingkatan jiwa tertinggi yang ditandai dengan ketenangan batin, kecintaan terhadap ibadah, serta sikap ikhlas dan ridha terhadap segala ketentuan Allah Swt. Jiwa ini tidak mudah goyah oleh ujian duniawi karena selalu merasa cukup dengan nikmat yang diberikan Allah. Orang yang mencapai tingkatan ini menjadikan ibadah bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan yang menghadirkan kenikmatan dan kedekatan spiritual dengan Tuhan. Selain itu, sikap ikhlas dan ridha menjadi ciri utama nafsu muthmainnah, yaitu menerima segala takdir dengan lapang dada tanpa banyak mengeluh ataupun menyalahkan keadaan. Dalam pandangan Ibnu Sina dan Imam Al-Ghazali, tingkatan jiwa tertinggi memiliki keselarasan dengan konsep keikhlasan. Ibnu Sina memandang kesempurnaan jiwa tercapai ketika akal dan hati mampu mengendalikan hawa nafsu serta mengarahkan manusia kepada kebaikan yang hakiki. Sementara itu, Al-Ghazali menekankan bahwa ketenangan jiwa lahir dari hati yang bersih dan ikhlas dalam beribadah hanya karena Allah, bukan karena dorongan duniawi maupun pujian manusia. Dengan demikian, keikhlasan menjadi inti dari nafsu muthmainnah, sebab melalui sikap itulah seseorang mampu mencapai ketenangan hati, kedekatan kepada Allah, dan kebahagiaan sejati.
Ikhlas sebagai Jalan Menuju Ketenangan Jiwa
Dalam kehidupan, manusia tidak akan pernah lepas dari rasa sedih, kecewa, kehilangan, dan berbagai ujian yang mengguncang batin. Perasaan tersebut merupakan bagian dari dinamika jiwa manusia yang terus berubah sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Baik dalam kajian psikologi modern maupun dalam ajaran Islam, kondisi batin manusia dipahami sebagai sesuatu yang memiliki proses dan tahapan. Teori five stages of grief milik Elisabeth Kübler-Ross menjelaskan bagaimana manusia melewati fase penolakan, kemarahan, tawar-menawar, kesedihan, hingga akhirnya mencapai penerimaan. Sementara itu, Islam menjelaskan perjalanan batin manusia melalui tingkatan nafs, mulai dari nafs ammarah, nafs lawwamah, hingga nafs muthmainnah.
Pada dasarnya, kedua konsep tersebut sama-sama menunjukkan bahwa manusia memerlukan proses untuk mencapai ketenangan dalam hidupnya. Ketika seseorang masih dikuasai hawa nafsu, kemarahan, dan penolakan terhadap realitas, maka hatinya akan sulit merasakan kedamaian. Akan tetapi, ketika manusia mulai belajar menerima keadaan, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah Swt., maka perlahan jiwanya akan menjadi lebih tenang. Dalam hal ini, sifat ikhlas memiliki peran penting sebagai jembatan menuju nafs muthmainnah.
Ikhlas mengajarkan manusia untuk menerima segala ketentuan Allah dengan hati yang lapang tanpa kehilangan usaha dan harapan. Sikap ini membantu seseorang agar tidak terus terjebak dalam kesedihan yang mendalam ataupun menyalahkan keadaan hidupnya. Dengan ikhlas, manusia belajar memahami bahwa setiap ujian memiliki hikmah dan bahwa ketenangan sejati tidak terletak pada hilangnya masalah, melainkan pada kemampuan hati dalam menerima dan menghadapi kehidupan dengan penuh keimanan.
Oleh karena itu, ikhlas menjadi salah satu kunci penting dalam mencapai ketenangan jiwa. Semakin seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan mendekatkan dirinya kepada Allah, maka semakin dekat pula ia kepada keadaan jiwa yang tenang, ridha, dan diridhai-Nya, yaitu nafs muthmainnah.