Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Tuhan Yang Satu, Nama Yang Berbeda: Melintas Batas Teologi Kristen dan Islam

Mufti Faiq Kamal by Mufti Faiq Kamal
Juni 5, 2026
in Esai, Narasi, Sejarah
0
Tuhan Yang Satu, Nama Yang Berbeda: Melintas Batas Teologi Kristen dan Islam
27
SHARES
156
VIEWS

Ada pertanyaan yang seringkali diajukan dengan nada skeptis, namun sesungguhnya menyimpan kedalaman filosofis yang luar biasa: jika umat Kristen mengaku monoteis, mengapa mereka percaya kepada tiga pribadi sekaligus? Pertanyaan ini bukan sekadar provokasi teologis. Ia adalah undangan untuk berdialog secara jujur di atas fondasi pemahaman yang sebenar-benarnya.

Sebagai seorang Muslim yang meyakini keesaan Allah secara mutlak, saya tidak akan berpura-pura netral sepenuhnya. Namun justru dari posisi yang jelas itulah, saya ingin mengurai konsep Tritunggal secara adil—membiarkan ia berbicara dalam bahasa aslinya, sebelum kita menelaahnya dari sudut pandang Islam.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Tritunggal: Bukan Tiga Tuhan, Melainkan Satu Substansi

Kesalahpahaman paling umum tentang doktrin Tritunggal adalah menyamakannya dengan politeisme—seperti Trimurti dalam tradisi Hindu yang mengenal Brahma, Wisnu, dan Siwa sebagai tiga dewa dengan persona dan kehendak yang benar-benar independen. Ini adalah perbandingan yang tidak tepat.

Dalam teologi Kristen arus utama, Tritunggal bukan berarti tiga Tuhan. Allah Bapa, Yesus Kristus (Anak), dan Roh Kudus dipahami sebagai tiga persona dalam satu substansi atau hakikat yang sama. Istilah teknisnya dalam bahasa Yunani adalah homoousios—sehakikat. Setiap persona memiliki peran yang berbeda, bukan eksistensi yang berbeda.

Peran ketiganya dapat diringkas sebagai berikut:

  • Allah Bapa: Sumber segala sesuatu, Pencipta alam semesta, yang mengutus Yesus ke dunia.
  • Yesus Kristus (Anak): Firman Allah (Logos) yang menjelma menjadi manusia, Mesias dan Juru Selamat, perantara antara manusia dan Tuhan, penebus dosa melalui peristiwa penyaliban.
  • Roh Kudus: Pembimbing dan pengudus jiwa orang beriman—seperti yang diyakini umat Kristen terjadi ketika Roh Kudus membimbing Paulus dalam menulis surat-suratnya.

Dengan demikian, pada dasarnya keyakinan Kristen menegaskan bahwa Tuhan itu satu, hanya saja menampakkan diri dalam tiga mode kehadiran yang berbeda. Ini secara esensial berbeda dari penyembahan kepada dewa-dewa yang memang persona-nya juga independen satu sama lain.

Latar Historis: Konsili Nicea dan Kelahiran Dogma Tritunggal

Untuk memahami Tritunggal secara jujur, kita harus menelusuri sejarah—tidak untuk mendelegitimasi keyakinan orang lain, tetapi karena kejujuran intelektual menuntut kita mengetahui bagaimana sebuah doktrin terbentuk.

Konsep Tritunggal sebagaimana dikenal saat ini belum eksis sebagai dogma resmi di zaman Yesus atau generasi awal pengikutnya. Ia baru dikodifikasi pada Konsili Nicea tahun 325 M—sebuah pertemuan para uskup yang diselenggarakan oleh Kaisar Konstantinus setelah ia meresmikan agama Kristen di Kekaisaran Romawi yang sebelumnya menganut paganisme.

Pemicu utama konsili ini adalah perdebatan sengit yang dikobarkan oleh seorang imam bernama Arius. Ia berpendapat bahwa Yesus bukanlah Tuhan sejati, melainkan makhluk ciptaan tertinggi—dan bahwa “ada waktu ketika Yesus belum ada.” Pendapat ini langsung memantik gelombang perlawanan dari para uskup seperti Athanasius yang berpandangan bahwa Yesus bersifat homoousios—sehakikat dengan Bapa. Ia berpendapat bahwa jika Yesus bukan Allah yang kekal, Dia tidak akan mampu menebus manusia dari dosa

Sejarawan Karen Armstrong dalam A History of God mengingatkan bahwa meskipun Yahudi dan Muslim sama-sama menganggap doktrin Tritunggal hampir menyerupai syirik, masing-masing tradisi monoteistik juga melahirkan versi mereka sendiri atas teologi yang kompleks tentang hakikat Tuhan. Ini menunjukkan bahwa pergulatan manusia dalam memahami Yang Mahakuasa memang tidak pernah sederhana.

Pada tahun 381 M, Konsili Konstantinopel menyempurnakan doktrin ini dengan secara resmi memasukkan Roh Kudus sebagai persona ketiga yang sehakikat—bukan sekadar kekuatan atau energi, melainkan Tuhan itu sendiri dalam persona ketiga. Sejak itulah, Tritunggal menjadi doktrin ortodoks yang mengikat seluruh umat Kristen.

Tiga Agama, Satu Akar: Persaudaraan Ibrahim

Sebelum sampai pada titik perbedaan, ada fondasi bersama yang sering dilupakan. Islam, Kristen, dan Yahudi—ketiga agama ini bertumpu pada keyakinan kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan Ibrahim. Ketiganya mengenal konsep kenabian, risalah ilahi, dan eskatologi tentang hari akhir. Bahkan konsep Messias atau Juru Selamat pun hadir dalam ketiga tradisi, meski dengan penafsiran yang berbeda.

Kedekatan ini bukan sekadar kebetulan sejarah. Nabi Muhammad SAW sendiri pernah menunjukkan simpatinya kepada umat Kristen Romawi dalam perang besar mereka melawan Persia—atas dasar pijakan keyakinan yang sama bahwa Allah itu Esa. Ini adalah gestur persaudaraan yang kerap terlupakan dalam narasi sejarah yang membenturkan Islam dan Barat.

Koreksi Islam: Meluruskan, Bukan Menghapus

Islam memandang dirinya bukan sebagai agama baru yang lahir dari kekosongan, melainkan sebagai kelanjutan dan pemurnian dari wahyu-wahyu sebelumnya. Sebagaimana Yesus datang bukan untuk menghapus Taurat melainkan menggenapkannya, Nabi Muhammad SAW hadir untuk merevisi penyimpangan-penyimpangan yang telah merasuk ke dalam ajaran-ajaran sebelumnya.

Sinkronisitas ini tampak dalam banyak praktik. Yesus bersujud dalam doanya—dan Islam menjadikan sujud sebagai inti dari shalat. Ibrahim berkurban—dan umat Muslim merayakannya setiap tahun dalam Idul Adha. Ini bukan kebetulan. Ini adalah benang merah wahyu yang mengalir dari nabi ke nabi.

Dalam hal keyakinan terhadap Yesus (Isa as.), Islam justru menempatkannya sangat tinggi: sebagai nabi, rasul, dan al-Masih (Messias) yang masih akan kembali di akhir zaman. Perbedaannya—dan ini adalah perbedaan yang sangat fundamental—terletak pada satu pertanyaan: apakah Yesus adalah Tuhan, atau utusan Tuhan?

Al-Quran menjawab pertanyaan ini dengan sebuah dialog yang sangat kuat—Tuhan yang bertanya langsung kepada Yesus:

وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ یَـٰعِیسَى ٱبۡنَ مَرۡیَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِی وَأُمِّیَ إِلَـٰهَیۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ مَا یَكُونُ لِیۤ أَنۡ أَقُولَ مَا لَیۡسَ لِی بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِی نَفۡسِی وَلَاۤ أَعۡلَمُ مَا فِی نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّـٰمُ ٱلۡغُیُوبِ

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?’ (Isa) menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau Maha mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.'”

[QS. Al-Ma’idah: 116]

Ayat ini bukan sekadar sanggahan terhadap doktrin Tritunggal. Ia adalah gambaran tentang bagaimana Islam memahami Yesus: sosok yang mulia, suci, taat—namun tidak pernah mengklaim ketuhanan untuk dirinya sendiri. Bahkan dalam dialog imajiner yang digambarkan Quran ini, Yesus sendiri yang menyangkal klaim itu dengan penuh penghormatan.

Para mufasir klasik seperti Imam al-Qurtubi menafsirkan ayat ini sebagai penegasan bahwa Yesus, dalam kedudukannya yang mulia di sisi Allah, tidak pernah mengajarkan penyembahan terhadap dirinya—dan bahwa penyimpangan itu terjadi setelah dirinya, di tangan para pengikutnya.

Keimanan Sebagai Lompatan Eksistensial

Pada akhirnya, baik Tritunggal dalam Kristen maupun Tauhid dalam Islam sama-sama berdiri di atas sesuatu yang melampaui kemampuan nalar semata. Ini bukan kelemahan—ini adalah sifat dasar dari keimanan.

Søren Kierkegaard, filsuf Denmark abad ke-19 yang sering disebut sebagai bapak eksistensialisme, memahami iman bukan sebagai penerimaan intelektual atas seperangkat doktrin, melainkan sebagai sebuah leap of faith—lompatan keberanian yang diambil seseorang ketika berhadapan dengan paradoks kehidupan. Ia menulis bahwa “without risk, faith is an impossibility”—tanpa risiko, iman adalah kemustahilan. Iman yang sungguh-sungguh selalu hadir berdampingan dengan keraguan, karena tanpa keraguan, iman tak memiliki bobot eksistensial.

Bagi umat Kristen, menerima Tritunggal adalah lompatan itu. Bagi umat Muslim, memeluk Tauhid secara total—tanpa kompromi dengan persekutuan apapun—adalah lompatan yang sama besarnya. Keduanya bukan sekadar pilihan intelektual; keduanya adalah keputusan eksistensial yang menentukan bagaimana seseorang memandang dirinya, semestanya, dan Tuhannya.

Penutup: Berbeda dalam Keyakinan, Bersatu dalam Pencarian

Saya tidak menulis artikel ini untuk memenangkan perdebatan. Saya menulis ini karena percaya bahwa dialog yang jujur—yang berani menatap perbedaan tanpa kepura-puraan—jauh lebih berharga daripada toleransi palsu yang hanya memuji persamaan sambil menutup mata terhadap perbedaan yang nyata.

Sebagai seorang Muslim, saya mengimani Allah yang Maha Esa tanpa persona, tanpa inkarnasi, tanpa perantara. Saya mengimani Yesus sebagai nabi yang agung—bukan Tuhan. Itulah pendirian saya, dan saya mempertahankannya dengan segala konsekuensinya.

Namun saya juga percaya bahwa seorang Kristen yang meyakini Tritunggal dengan segenap hatinya—yang mengambil lompatan eksistensial itu dalam kesadaran penuh—layak mendapat penghormatan, bukan ejekan. Karena seperti kata Kierkegaard: “The crucial thing is to find a truth which is truth for me, to find the idea for which I am willing to live and die.” Keyakinan sejati, dalam tradisi apapun, tidak pernah selesai ditaklukkan oleh argumen semata. Ia hidup, bernafas, dan menopang jiwa seseorang jauh melampaui batas-batas nalar.

Terkait

Tags: Islam-KristenMonoteismeteologi
Previous Post

Fenomena Overthinking Mahasiswa dalam Tinjauan Filsafat Ilmu

Next Post

Sambil Nyambi Cuci Motor dan Karpet, Kepala MTs di Lamongan Ini Berhasil Raih Gelar Magister

Mufti Faiq Kamal

Mufti Faiq Kamal

Seorang Pegiat Intelektual, lulusan Sarjana Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Next Post
Sambil Nyambi Cuci Motor dan Karpet, Kepala MTs di Lamongan Ini Berhasil Raih Gelar Magister

Sambil Nyambi Cuci Motor dan Karpet, Kepala MTs di Lamongan Ini Berhasil Raih Gelar Magister

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.