Oleh: Ilyas Fachriansyah (Anggota Bidang Kader PK IMM Buya Hamka UMP)
Perkembangan teknologi digital hari ini bukan lagi sekadar alat penunjang, melainkan ruang hidup baru bagi generasi muda. Belajar, bekerja, bersosialisasi, bahkan berorganisasi—semuanya telah bermigrasi ke ruang digital. Bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), realitas ini bukan hanya tantangan teknis, melainkan ujian ideologis yang serius. Sebab, dalam Sistem Perkaderan Ikatan (SPI), kaderisasi adalah never ending job, denyut nadi gerakan yang tak boleh berhenti. Pertanyaan kritisnya: bagaimana menjaga ruh kaderisasi ketika interaksi tatap muka bergeser ke layar yang dingin?
Mengapa IMM Harus Peduli?
IMM adalah organisasi kader. Tujuan utamanya bukanlah proyek sesaat, melainkan peningkatan kualitas manusia secara berkelanjutan. Sebagaimana dikutip dalam SPI 2021 dari buku Ilmu Amaliah Amal Ilmiah (2019) karya Mohammad Djasman Alkindi, segala aktivitas IMM—sekecil apa pun—wajib bermuatan nilai-nilai perkaderan. Nilai-nilai itu bersifat ideologis: Tujuan IMM, Enam Penegasan, Trilogi, Tri Kompetensi Dasar (Trikoda: Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas), hingga teologi Al-Ma’un.
Tanpa nilai, kegiatan IMM hanya menjadi formalitas kosong. Creative minority, pengembangan keilmuan, peningkatan soft skill—semuanya harus bernafaskan ideologi IMM. Dalam buku Mindset Kader Berkemajuan (terbitan PK IMM Buya Hamka UMP yang akan segera terbit), ditegaskan bahwa kader adalah individu yang dibina, dididik, dan dipersiapkan untuk meneruskan pergerakan. Bukan sekadar aktivis tanpa arah, melainkan agen perubahan dengan kesadaran ideologis dan tanggung jawab moral.
Masalah Utama: Bukan Teknologi, tetapi Cara Menggunakannya
Kaderisasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Zoom, Google Meet, dan WhatsApp telah menjadi ruang baru untuk berdialektika. Fleksibel, efisien, dan memiliki jangkauan luas. Namun, digitalisasi tidak boleh menjadi sekadar simbol modernitas. Esensi kaderisasi bukanlah transfer pengetahuan semata, melainkan pembentukan karakter, penanaman ideologi, dan internalisasi nilai. Di sinilah letak bahaya halusnya. Ambil contoh sederhana:
Seorang mahasiswa semester awal, sebut saja Ikmal, mendaftar DAD (Darul Arqam Dasar). Di tengah sesi diskusi, instruktur memberi kelonggaran: “Kalian boleh mencari referensi tambahan lewat HP.” Namun, yang sering terjadi, alih-alih fokus, beberapa peserta justru membuka media sosial, membalas pesan pribadi, atau menggulir konten hiburan. Layar yang seharusnya menjadi pintu ilmu berubah menjadi tembok pemisah. Ketika diminta presentasi, mereka pandai menyalin definisi dari Google, tetapi kesulitan menjelaskan dengan bahasa sendiri.
Ilmu hadir di layar, tetapi belum sampai ke hati.
Yang hilang adalah koneksi batin. Padahal, yang seharusnya terjadi dalam DAD ialah terbangunnya pemahaman ideologis, tersentuhnya hati oleh nilai perjuangan, dan terbentuknya ikatan persaudaraan yang hangat—hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh layar.
Ancaman Lebih Besar: Pendangkalan Nalar
Lebih jauh, ancaman terbesar era digital adalah shallowness—pendangkalan nalar. Generasi Z tumbuh dengan informasi kilat: konten 15 detik, berita viral berganti setiap jam. Akibatnya, kemampuan membaca teks panjang, berpikir analitis, dan merenung secara mendalam perlahan tergerus. Rata-rata durasi perhatian manusia terhadap satu informasi kini tidak lebih dari delapan detik.
Ini adalah keadaan darurat bagi gerakan intelektual IMM. Bagaimana mungkin seorang kader memahami Ihya’ Ulumuddin atau Tafsir Al-Azhar jika tidak terbiasa membaca lebih dari dua paragraf? Bagaimana merumuskan solusi atas masalah sosial yang kompleks jika nalar hanya terbiasa dengan dikotomi sederhana?
Di tengah budaya instan, ketika orang lain asyik scroll tanpa makna, kader IMM harus menjadi pengecualian. Ia harus semakin tekun membaca buku, menulis gagasan, dan berdialektika. Wahyu pertama adalah Iqra’—bacalah. Membaca dan menulis adalah napas peradaban.
Strategi Konkret: Dari Aturan hingga Teladan
Lalu, apa yang harus dilakukan? Agar kaderisasi digital tidak kehilangan esensi, IMM perlu merancang strategi yang tepat dan terukur:
Aturan penggunaan HP yang jelas. Dalam DAD, misalnya, penelusuran referensi hanya diizinkan pada sesi tertentu. Di luar itu, HP disimpan dalam “kotak istirahat” di sudut ruangan. Instruktur dan panitia wajib memberi teladan dengan tidak sibuk menggunakan gawai sendiri.
Keseimbangan sumber digital dan fisik. Jangan hanya mengandalkan Google. Ajak kader membuka buku fisik, membaca modul DAD, menulis catatan dengan pulpen, dan menandai halaman penting. Aktivitas fisik ini memperkuat daya ingat—sesuatu yang tidak tergantikan oleh screenshot atau copy-paste.
Memperbanyak sesi interaktif. Jangan mendominasi dengan ceramah. Gunakan role play, studi kasus, dan diskusi meja bundar. Dalam sesi seperti ini, peserta tidak bisa bersembunyi di balik layar. Mereka harus berbicara, mendengar, dan merespons. Di sanalah pembentukan karakter dan penanaman nilai benar-benar terjadi.
Instruktur yang kompeten dan menjadi teladan. Instruktur yang telah mengikuti PID (Pelatihan Instruktur Dasar) harus mampu mengelola dinamika kelompok dengan baik, menjadi fasilitator yang hadir secara utuh di depan kader, bukan sibuk dengan HP sendiri. Evaluasi berkala juga penting untuk menilai efektivitas kaderisasi dari aspek kognitif, afektif, maupun ideologis.
Kendaraan, Bukan Tembok
Pada akhirnya, teknologi hanyalah kendaraan, bukan tujuan. Teknologi boleh mempermudah koordinasi dan mempercepat akses informasi. Namun, jangan sampai layar menjadi tembok yang memisahkan kader dari buku, dari diskusi kritis, dan dari perenungan mendalam.
Kader IMM di era digital dituntut menjadi pengecualian: tetap berpikir di atas garis, membaca buku di tengah gempuran konten instan, dan menulis gagasan saat banyak orang hanya menggulir layar tanpa makna. Sebab, yang akan membekas dalam sanubari kader bukanlah slide PowerPoint atau hasil copy-paste dari Google. Yang akan membekas adalah ketulusan instruktur yang hadir mendampingi, hangatnya diskusi yang menggugah kesadaran, dan getaran hati ketika nilai-nilai kebenaran menyatu dengan jiwa.
Sebagaimana pesan dalam buku Mindset Kader Berkemajuan: “Setiap kader adalah pena, dan tulisannya adalah warisan peradaban.” Maka, gunakanlah teknologi. Manfaatkan kemudahannya. Namun, jangan biarkan layar membisukan hati dan mematikan nalar kritis. Karena pada akhirnya, ber-IMM yang bermakna dan berdampak adalah ketika setiap langkah gerakan kita memuat nilai-nilai kaderisasi—nilai yang membuat kita tidak hanya pintar, tetapi juga berkepribadian; tidak hanya melek teknologi, tetapi juga bertakwa; tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga konsisten dalam aksi nyata.
Editor: Rafidah Azis