Oleh: Hamam AlGhazy
Ada saatnya dunia tidak menjadi gaduh karena banyaknya kesalahan,
Melainkan karena kebenaran memilih untuk tidak lagi bersuara.
Dalam diam yang tampak tenang itu,
Kebatilan menemukan ruangnya—
Bukan dengan memaksa,
Tetapi dengan perlahan menempati kekosongan
Yang ditinggalkan oleh keberanian.
Kita sering mengira bahwa menjauh dari keburukan
Telah cukup menyelamatkan diri.
Padahal, kebaikan tidak hanya soal menjaga jarak,
Tetapi juga tentang kesediaan untuk hadir
Di saat kebenaran mulai kehilangan suaranya.
Ada lisan yang tertahan,
Bukan karena tak mampu,
Melainkan karena takut kehilangan kenyamanan.
Ada hati yang mengetahui,
Namun memilih diam
Demi menjaga ketenangan yang semu.
Di sanalah batas itu menjadi kabur,
Antara yang benar dan yang dibiarkan,
Antara yang salah dan yang perlahan dimaklumi.
Sebab kebenaran sejatinya tidak membutuhkan banyak suara.
Ia hanya menunggu satu keberanian
Untuk dihadirkan ke permukaan.
Dan ketika keberanian itu tidak pernah datang,
Kebatilan tidak perlu berjuang keras,
Ia hanya perlu menunggu,
Hingga diam kita menjelma menjadi persetujuan yang tak disadari.
Maka bersuara bukan sekadar pilihan,
Melainkan bentuk tanggung jawab yang halus namun berat.
Bukan untuk menjadi paling benar,
Tetapi agar kebenaran tidak hilang
Dalam sunyi yang kita ciptakan sendiri.
Karena dunia tidak selalu runtuh oleh besarnya kesalahan,
Tetapi sering kali oleh kecilnya keberanian
Untuk menjaga yang benar tetap hidup.