Oleh: Ummu Kalsum S
Algoritma pada dasarnya adalah serangkaian instruksi matematis yang dirancang untuk menyelesaikan masalah atau membuat keputusan. Dalam konteks media sosial, algoritma bekerja dengan cara mengumpulkan data perilaku pengguna—apa yang diklik, berapa lama sebuah konten ditonton, apa yang dibagikan, bahkan konten apa yang dibaca namun tidak direspons—kemudian menggunakan data tersebut untuk memprediksi dan menyajikan konten yang dianggap paling relevan (Yuval Noah Harari, 2018).
Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Meta (Facebook dan Instagram), Google, TikTok, dan Twitter/X memiliki algoritma yang sangat kompleks. Algoritma TikTok, misalnya, dikenal sebagai salah satu yang paling canggih dalam hal memahami preferensi pengguna secara real-time. Dalam hitungan menit, TikTok mampu mengenali genre konten yang disukai seseorang dan terus menyajikan konten serupa tanpa henti (Zuboff, 2019).
Yang mengkhawatirkan adalah bahwa sistem ini tidak netral. Algoritma dirancang dengan satu tujuan utama: memaksimalkan waktu yang dihabiskan pengguna di platform tersebut (engagement). Semakin lama seseorang berada di platform, semakin banyak iklan yang dapat ditampilkan, semakin besar keuntungan perusahaan. Di sinilah kepentingan bisnis bertabrakan dengan kepentingan pengguna.
Filter Bubble dan Echo Chamber: Ketika Dunia Mengecil
Salah satu dampak paling nyata dari dominasi algoritma adalah munculnya fenomena yang disebut filter bubble. Istilah ini dipopulerkan oleh Eli Pariser (2011) untuk menggambarkan kondisi di mana algoritma hanya menyajikan informasi yang sesuai dengan keyakinan dan preferensi seseorang, sehingga ia terisolasi dari sudut pandang yang berbeda.
Lebih lanjut, kondisi ini melahirkan apa yang dikenal sebagai echo chamber—ruang gema di mana seseorang hanya mendengar pandangannya sendiri yang terus-menerus diperkuat. Ketika seseorang mendukung suatu ideologi politik tertentu, misalnya, algoritma akan terus menyajikan konten yang memperkuat keyakinan tersebut dan menyaring informasi yang bertentangan. Akibatnya, polarisasi sosial semakin menguat dan dialog antar kelompok semakin sulit terjadi.
Fenomena ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Sebagai negara dengan pengguna media sosial yang sangat besar—mencapai ratusan juta pengguna—Indonesia sangat rentan terhadap dampak filter bubble. Hoaks, ujaran kebencian, dan perpecahan berbasis identitas kerap kali tersebar cepat justru karena didorong oleh algoritma yang memprioritaskan konten yang memancing reaksi emosional (Nurrohim, 2022).
Kapitalisme Surverillance: Kita Adalah Produknya
Shoshana Zuboff (2019) dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism memperkenalkan konsep penting yang perlu kita pahami: kapitalisme surveillance. Dalam sistem ini, data perilaku manusia diperlakukan sebagai bahan baku yang dipanen, diproses, dan dijual kepada pengiklan untuk memprediksi sekaligus mempengaruhi perilaku manusia di masa depan.
Artinya, ketika kita menggunakan layanan “gratis” seperti Google Search, Gmail, Facebook, atau Instagram, kita sebenarnya tidak menjadi pelanggan—kita adalah produknya. Data kita adalah komoditas yang diperdagangkan. Setiap pencarian, setiap klik, setiap interaksi kita di dunia digital menjadi bahan bakar bagi mesin kapitalisme digital yang terus berputar.
Bahkan lebih jauh dari itu, perusahaan teknologi kini tidak hanya merekam apa yang kita lakukan, tetapi juga berusaha memprediksi apa yang akan kita lakukan—dan pada akhirnya, mempengaruhi kita untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan mereka. Inilah yang disebut Zuboff sebagai “behavioral modification” atau modifikasi perilaku dalam skala massal.
Perspektif Islam: Manusia sebagai Khalifah di Era Digital
Islam sebagai agama yang komprehensif tidak menutup mata terhadap perkembangan zaman. Al-Qur’an dan hadis memberikan panduan yang relevan untuk memahami dan menyikapi persoalan kontemporer, termasuk dominasi algoritma dan teknologi digital. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 30 bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Ini adalah amanah yang agung: manusia diberi kebebasan kehendak, akal, dan tanggung jawab untuk mengelola segala sesuatu yang ada di bumi—termasuk teknologi—dengan bijaksana.
Nurrohim (2020) dalam kajiannya tentang etika digital dalam perspektif Islam menegaskan bahwa kemampuan manusia untuk berpikir kritis dan menggunakan akal adalah anugerah terbesar yang membedakannya dari makhluk lain. Dalam konteks algoritma, ini berarti manusia tidak boleh membiarkan dirinya menjadi objek pasif yang dikendalikan oleh sistem buatan manusia lain. Kesadaran kritis terhadap cara kerja teknologi adalah bentuk penggunaan akal yang dianjurkan Islam.
Islam juga sangat menekankan pentingnya tabayyun—verifikasi informasi sebelum dipercaya dan disebarkan. QS. Al-Hujurat: 6 dengan tegas memerintahkan agar kita memeriksa kebenaran berita yang datang dari orang yang belum dapat dipercaya. Di era di mana algoritma mendorong konten yang provokatif dan emosional untuk memaksimalkan engagement, prinsip tabayyun menjadi semakin relevan dan mendesak untuk diterapkan.
Lebih jauh, Islam memandang bahwa setiap manusia adalah makhluk yang merdeka dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Konsep ikhtiar dalam Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih, meski semuanya tetap dalam koridor takdir Allah. Kebebasan memilih ini menuntut kesadaran dan tanggung jawab—bukan kepasrahan buta terhadap sistem yang ada, termasuk sistem algoritma (Nurrohim, 2022).
Merebut Kembali Kendali: Langkah Praktis Menuju Digital Literacy
Kesadaran terhadap cara kerja algoritma adalah langkah pertama untuk membebaskan diri dari kendalinya. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk menjadi pengguna digital yang lebih sadar dan berdaulat.
Pertama, tingkatkan literasi digital. Pelajari cara kerja algoritma dan kenali bagaimana platform media sosial menggunakan data Anda. Pengetahuan adalah kekuatan pertama dalam melawan manipulasi digital.
Kedua, terapkan prinsip tabayyun. Sebelum percaya dan menyebarkan informasi, verifikasi kebenarannya dari berbagai sumber yang terpercaya. Jangan biarkan algoritma memutuskan apa yang perlu Anda percaya.
Ketiga, atur waktu penggunaan media sosial secara sadar. Jangan biarkan scroll tanpa tujuan menghabiskan waktu produktif Anda. Tetapkan batasan waktu dan gunakan fitur screen time yang tersedia di berbagai perangkat.
Keempat, diversifikasi sumber informasi. Sengaja cari perspektif yang berbeda dari apa yang biasa disajikan algoritma kepada Anda. Baca media dengan berbagai orientasi. Dengarkan pandangan yang berbeda dengan pikiran terbuka (Pariser, 2011).
Kelima, kelola privasi digital. Tinjau dan atur ulang izin data yang Anda berikan kepada aplikasi-aplikasi di ponsel Anda. Pertimbangkan untuk menggunakan browser dan mesin pencari yang lebih menghormati privasi pengguna.
Keenam, utamakan interaksi nyata. Hubungan sosial di dunia nyata jauh lebih bermakna dan autentik dibandingkan interaksi yang dimediasi oleh algoritma. Investasikan waktu dan energi untuk membangun komunitas dan hubungan yang nyata (Turkle, 2015).
Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir